A. Keutamaannya
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ
عَمَلِهِ صَلاَتُهُ، فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ
فَسَدَتْ فَقَدْ خَـابَ وَخَسِرَ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَةٍ
شَيْئًا، قَـالَ الرَّبُّ تَبَـارَكَ وَتَعَالَى: اُنْظُرُوْا هَلْ
لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ، فَيُكَمَّلُ بِهِ مَا انْتَقَصَ مِنَ
الْفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى نَحْوِ ذَلِكَ.
“Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada
hari Kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka beruntung dan
selamatlah dia. Namun, jika rusak, maka merugi dan celakalah dia. Jika
dalam shalat wajibnya ada yang kurang, maka Rabb Yang Mahasuci dan
Mahamulia berkata, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’
Jika ia memiliki shalat sunnah maka shalat wajibnya disempurnakan oleh
shalat sunnah tadi. Kemudian dihisablah seluruh amalan wajibnya
sebagaimana tadi.” [1]
B. Disunnahkan Mengerjakannya di Rumah
Dari Jabir, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا قَضَى أَحَدُكُمُ الصَّلاَةَ فِـي مَسْجِدِهِ فَلْيَجْعَلْ
لِبَيْتِهِ نَصِيْباً مِنْ صَلاَتِهِ، فَإِنَّ اللهَ جَاعِلٌ فِي بَيْتِهِ
مِنْ صَلاَتِهِ نُوْرًا
“Jika salah seorang di antara kalian telah menunaikan shalat di
masjidnya, maka hendaklah ia memberi jatah shalat bagi rumahnya. Karena
sesungguhnya Allah menjadikan cahaya dalam rumahnya melalui shalatnya.”
[2]
Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصَّلاَةِ فِي بُيُوْتِكُمْ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلاَةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوْبَةِ.
“Kerjakanlah shalat (sunnah) di rumah kalian. Karena sebaik-baik shalat
seseorang adalah yang dikerjakan di rumahnya kecuali shalat wajib.” [3]
C. Macam-Macamnya
Shalat sunnah ada dua bagian: Muthlaqah dan Muqayyadah
Muthlaqah adalah yang dikenal dengan sunnah rawatib, yaitu yang
dikerjakan sebelum dan sesudah shalat wajib. Ia terdiri dari dua bagian:
muakkadah (yang ditekankan) dan ghairu muakkadah (tidak ditekankan).
1. Shalat sunnah muakkadah ada sepuluh raka’at
Dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Aku ingat sepuluh
raka’at dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : dua raka’at sebelum
Zhuhur dan dua raka’at sesudahnya. Dua raka’at sesudah Maghrib, dua
raka’at sesudah ‘Isya', serta dua raka’at sebelum shalat Shubuh. Pada
saat itulah Nabi Shallallahu 'alaihi wa salalm tidak mau ditemui.
Hafshah Radhiyallahu anhuma menceritakan padaku bahwa jika mu-adzin
mengumandangkan adzan dan fajar (yang kedua) telah terbit, beliau shalat
dua raka’at." [4]
Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, “Dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam tidak pernah meninggalkan empat raka’at sebelum shalat Zhuhur,
dan dua raka’at sebelum shalat Shubuh.” [5]
2. Shalat sunnah ghairu muakkadah: Dua raka’at sebelum shalat ‘Ashar, Maghrib, dan 'Isya'.
Dari ‘Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ، بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ، ثُمَّ قَـالَ فِي الثَّالِثَةِ: لِمَنْ شَاءَ.
“Di antara dua adzan (antara adzan dan iqamat-ed.) ada shalat, di antara
dua adzan ada shalat.” Kemudian beliau berkata pada kali yang ketiga,
“Bagi siapa saja yang menghendakinya.”[6]
Disunnahkan untuk menjaga empat raka’at sebelum shalat ‘Ashar
Dari ‘Ali Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Dahulu Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat empat raka’at sebelum shalat
‘Ashar. Beliau memisahkan antara raka’at-raka’at tadi dengan mengucapkan
salam pada para Malaikat muqarrabiin (yang didekatkan kepada Allah),
dan yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan muslimin dan
mukminin.” [7]
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:
رَحِمَ اللهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا.
“Semoga Allah merahmati orang yang shalat empat raka’at sebelum ‘Ashar.” [8]
Riwayat yang mengabarkan bacaan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebagian shalat tersebut
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
نِعْمَتِ السُّوْرَتَانِ يُقْرَأُ بِهِمَا فِي رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ
الْفَجْرِ، قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، وَقُلْ يَآ أَيُّهَا اْلكَافِرُوْنَ.
“Dua surat yang paling baik dibaca pada dua raka’at sebelum Shubuh
adalah qul huwallaahu ahad (al-Ikhlash) dan qul yaa ayyuhal kaafiruun
(al-Kaafiruun). [9]
Dari Abu Hurairah Radhiyalllahu 'anhu, ia berkata, “Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca qul yaa ayyuhal kaafiruun
(al-Kaafiruun) dan qul huwallaahu ahad (al-Ikhlash) pada dua raka’at
sebelum Shubuh.” [10]
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, “Pada dua raka’at shalat sunnah
fajar, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah membaca: quuluu
aamannaa billaahi wa maa unzila ilainaa, yaitu ayat dalam surat
al-Baqarah pada raka’at pertama. Dan pada raka’at terakhir: aamannaa
billaahi wasyhad bi annaa muslimuun." [11] (Ali ‘Imran: 52).
Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku tidak bisa
menghitung berapa kali aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam membaca: qul yaa ayyuhal kaafiruun (al-Kaafiruun) dan qul
huwallaahu ahad (al-Ikhlash) pada dua raka’at sesudah Maghrib dan dua
raka’at sebelum shalat Shubuh." [12]
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz,
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta,
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September
2007M]
_______
Footnote
[1]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 451, 452)], Sunan at-Tirmidzi (I/258 no. 411), Sunan an-Nasa-i (I/232).
[2]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 375)], Shahiih Muslim (I/239 no. 778).
[3]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (X/517 no.
6113)], Shahiih Muslim (I/539 no. 781), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
(IV/321 no. 1434) dan Sunan an-Nasa-i (III/198).
[4]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 440)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul
Baari) (II/58/ no. 1180, 1180), ini adalah lafazhnya, Sunan at-Tirmidzi
(I/271 no. 431), dengan lafazh hampir serupa.
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1658)], Shahiih al-Bukhari
(Fat-hul Baari) (III/58 no. 1182), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
(IV/134 no. 1240) dan Sunan an-Nasa-i (III/251).
[6]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/110 no.
627)], Shahiih Muslim (I/573 no. 838), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
(IV/162 no. 1269), Sunan at-Tirmidzi (I/120 no. 185), Sunan an-Nasa-i
(II/28), Sunan Ibni Majah (I/368 no. 1162).
[7]. Hasan: Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 353)], Sunan at-Tirmidzi (I/269 no. 427).
[8]. Hasan: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 354)], Sunan at-Tirmidzi
(I/270 no. 428), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/149 no. 1257).
[9]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 944)], Shahiih Ibni
Khuzaimah (II/163 no. 1114), Ahmad (al-Fat-hur Rabbani) (IV/225 no.
987), Sunan Ibni Majah (I/363 no. 1150).
[10]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 360)], Shahiih Muslim
(I/502 no. 726), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/135 no. 1243),
Sunan an-Nasa-i (II/156), Sunan Ibni Majah (I/363 no. 1148).
[11]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 905)], Shahiih Muslim (I/502
no. 727), Sunan an-Nasa-i (II/155), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
(IV/137 no. 1246).
[12]. Hasan shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 355)], Sunan at-Tirmidzi (I/ 270 no. 429).
(Sumber : http://almanhaj.or.id)
SHALAT SUNNAH WITIR
Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
A. Hukum dan Keutamaannya
Shalat sunnah Witir termasuk sunnah muakkadah. Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sangat menganjurkannya
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:
إِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ.
“Sesungguhnya Allah itu ganjil (tunggal) dan menyukai orang yang shalat Witir.” [1]
Dari ‘Ali Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Sesungguhnya shalat witir itu
tidak wajib. Dan tidak sebagaimana shalat kalian yang wajib. Namun,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat Witir kemudian berkata:
يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ أَوْتِرُوْا، فَإِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ.
“Wahai ahlul Qur-an, shalat witirlah. Karena sesungguhnya Allah itu ganjil (tunggal) dan menyukai orang yang shalat Witir.” [2]
B. Waktunya
Boleh mengerjakan shalat Witir setelah shalat 'Isya' hingga terbit
fajar. Sedangkan pada sepertiga malam terakhir adalah waktu yang paling
utama.
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam pernah shalat witir pada setiap bagian malam, baik di
awal waktu, pertengahan, ataupun akhir malam. Shalat Witir beliau
selesai di waktu sahur.” [3]
Disunnahkan menyegerakan shalat witir pada awal malam bagi yang takut
tidak bisa bangun pada akhir malam. Sebagaimana disunnahkan
mengakhirkannya pada akhir malam bagi yang merasa yakin akan bangun di
akhir malam.
Dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam berkata kepada Abu Bakar, ‘Kapan engkau shalat Witir?’
Dia menjawab: ‘Aku shalat Witir sebelum tidur.’ Beliau lalu bertanya
pada ‘Umar, ‘Kapan engkau shalat Witir?’ Dia menjawab, ‘Aku tidur
kemudian shalat Witir.’” Dia (Abu Qatadah) berkata, “Beliau berkata
kepada Abu Bakar: ‘Engkau telah mengambilnya dengan hati-hati.’ Dan
berkata kepada ‘Umar: ‘Engkau telah mengambilnya dengan kekuatan.’ [4]
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam mengerjakan shalat, sedangkan aku tengah tidur terlentang di
atas ranjang. Jika ingin shalat Witir, beliau membangunkan aku, dan aku
pun shalat Witir.” [5]
C. Bilangan Raka’at dan Tata Cara Shalat Witir
Jumlah raka’at shalat witir paling sedikit adalah satu raka’at.
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَـى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى.
“Shalat malam itu dikerjakan dua raka’at dua raka’at. Jika salah seorang
di antara kalian khawatir akan masuk waktu Shubuh, maka hendaklah ia
berwitir dengan satu raka’at sebagai penutup bagi shalat yang telah
dikerjakan.”[6]
Boleh berwitir dengan tiga, lima, tujuh, atau sembilan raka’at.
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam tidak pernah shalat lebih dari sebelas raka’at, baik
pada bulan Ramadhan ataupun di luar Ramadhan. Beliau shalat empat
raka’at. Janganlah engkau tanyakan tentang baik dan panjangnya. Kemudian
beliau shalat empat raka’at lagi. Dan jangan engkau tanyakan tentang
baik dan panjangnya. Setelah itu beliau Shallallahu 'alaihi wa salalm
shalat tiga raka’at.” [7]
Juga dari ‘Aisyah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
pernah shalat malam sebanyak tiga belas raka’at. Beliau berwitir dengan
lima raka’at dan tidak duduk kecuali pada raka’at terakhir.” [8]
Darinya juga, ia berkata, “Kami biasa menyiapkan siwak dan air wudhu'
untuk beliau. Lalu Allah membangunkan beliau pada malam hari sesuai
dengan kehendak-Nya. Lalu beliau bersiwak dan berwudhu'. Kemudian beliau
shalat sembilan raka’at. Beliau tidak duduk kecuali pada raka’at
kedelapan. Beliau berdzikir kepada Allah, memuji, dan berdo’a
kepada-Nya. Setelah itu bangkit dan tidak salam. Lalu beliau berdiri dan
mengerjakan raka’at yang kesembilan. Kemudian beliau duduk sambil
berdzikir kepada Allah, memuji, dan berdo’a kepada-Nya. Lantas beliau
mengucap salam dan memperdengarkannya kepada kami. Setelah itu beliau
shalat dua raka’at sesudah salam sambil duduk. Itulah berjumlah sebelas
raka’at, wahai anakku. Tatkala Nabiyyullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
semakin tua dan gemuk, beliau berwitir dengan tujuh raka’at. Lalu
beliau mengerjakan shalat dua raka’at sebagaimana yang pertama. Itu
semua berjumlah sembilan raka’at, wahai anakku.” [9]
Jika berwitir dengan tiga raka’at, maka membaca surat yang disebutkan dalam hadits berikut ini
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Dulu Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca pada shalat witir: Sabbihisma
Rabbikal A’laa (Al-A'laa), Qul yaa ayuhal kaafiruun (Al-Kaafiruun), dan
Qul huwallaahu Ahad (Al-Ikhlash), masing-masing untuk setiap
raka’at.”[10]
D. Qunut Dalam Witir
Dari al-Hasan bin ‘Ali Radhiyallahu ahuma, ia berkata, “Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajariku bacaan yang kuucapkan pada
shalat Witir:
اَللّهُمَّ اهْدِنِي فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيْمَنْ عَافَيْتَ،
وَتَوَلَّنِي فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيْمَا أَعْطَيْتَ،
وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِـيْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ،
وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا
وَتَعَالَيْتَ.
“Ya Allah, tunjukilah aku sebagaimana Engkau menunjuki orang yang
mendapat petunjuk-Mu. Jagalah aku sebagaimana Engkau menjaga orang yang
mendapat penjagaan-Mu. Peliharalah aku sebagaimana orang yang mendapat
pemeliharaan-Mu. Berkahilah apa yang Engkau berikan kepadaku.
Lindungilah aku dari keburukan apa yang Engkau tetapkan. Karena
sesungguhnya Engkaulah yang menetapkan, dan tidak ada sesuatu yang
(dapat) mengatur-Mu. Sesungguhnya tidak akan hina orang yang
mentaati-Mu. Mahasuci dan Mahatinggi Engkau, ya Allah.” [11]
Menurut Sunnah, qunut ini dilakukan sebelum ruku’.
Berdasarkan hadits Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu anhu, ia berkata,
“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan Qunut dalam
shalat Witir sebelum ruku’.” [12]
Tidak disyari'atkan qunut dalam shalat wajib kecuali jika terjadi
musibah dan bencana. Ketika itu, Qunut dilakukan setelah ruku’, dan
tidak dikhususkan untuk shalat wajib tertentu.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, “Jika Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam hendak mendo’akan keburukan atau kebaikan bagi
seseorang, maka beliau melaksanakan qunut setelah ruku’.” [13]
Adapun qunut yang dilakukan pada shalat Shubuh secara terus menerus, maka itu adalah bid'ah
Sebagaimana dijelaskan oleh para Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam. Dari Abu Malik al-Asyja’i dari Sa’ad bin Thariq, ia berkata,
“Aku berkata pada ayahku, ‘Wahai ayah, engkau pernah shalat di belakang
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan
‘Ali di Kufah ini kira-kira selama lima tahun. Apakah mereka melakukan
qunut pada shalat Shubuh?” Dia berkata: “Wahai anakku, itu adalah
perkara yang diada-adakan (bid’ah).” [14]
Mustahil Rasulullah Shallallahu mengucapkan:
اَللّهُمَّ اهْدِنِي فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ.
Pada setiap Shubuh setelah bangkit dari ruku' sambil mengeraskan
suaranya, lalu para Sahabat mengamininya, secara terus-menerus hingga
beliau wafat. Lantas hal ini tidak diketahui umat sesudah beliau. Bahkan
ditinggalkan oleh mayoritas umatnya, jumhur Sahabat, bahkan oleh mereka
semua. Sampai-sampai seseorang dari kalangan Sahabat berkata,
‘Sesungguhnya itu adalah perkara yang diada-adakan (bid’ah).’
Sebagaimana yang dikatakan oleh Sa’ad bin Thariq al-Asyja’i.” [15]
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz,
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta,
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September
2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (XI/214 no. 6410)], Shahiih Muslim (IV/2062 no. 2677).
[2]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 959)], Sunan Ibni Majah
(I/370 no. 1169), Sunan at-Tirmidzi (I/282 no. 452), Sunan an-Nasa-i
(III/229, 228), dalam dua hadits. Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
(IV/291 no. 1403) secara marfu'.
[3]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (I/512 no. 745)], ini adalah
lafazhnya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/486 no. 996), secara
ringkas, Sunan an-Nasa-i (III/230), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
(IV/312 no. 1422) dan Sunan at-Tirmidzi (I/284 no. 456), dengan tambahan
“di akhirnya.” Begitupula pada riwayat Abu Dawud.
[4]. Hasan Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 988)], Shahiih Ibni
Khuzaimah (II/145 no. 1084), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/311
no. 1421), Sunan Ibni Majah (I/379 no. 1202).
[5]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/487 no. 997)], Shahiih Muslim (I/511 no. 744).
[6]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/477 no.
990)], Shahiih Muslim (I/516 no. 749), Sunan an-Nasa-i (III/227), Sunan
at-Tirmidzi (I/273 no. 435), dengan lafazh serupa dan di dalamnya
terdapat tambahan.
[7]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/33 no.
1147)], Shahiih Muslim (I/509 no. 738), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
(IV/218 no. 1327), Sunan at-Tirmidzi (I/274 no. 437).
[8]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 382)], Shahiih Muslim
(I/508 no. 737), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/216 no. 1324),
Sunan at-Tir-midzi (I/285 no. 457), dengan tambahan: "pada raka'at
terakhir."
[9]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1510)], Shahiih Muslim (I/512
no. 746), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/219 no. 1328), Sunan
an-Nasa-i (III/199).
[10]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1607)], Sunan at-Tirmidzi
(I/288 no. 461), Sunan an-Nasa-i (III/236) dengan tambahan di awalnya.
[11]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1647)], Sunan Abi Dawud
(‘Aunul Ma’-buud) (IV/300 no. 1412), Sunan at-Tirmidzi (I/289 no. 463),
Sunan Ibni Majah (I/372 no. 1178) dan Sunan an-Nasa-i (III/248).
[12]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 1266)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/352 no. 1414).
[13]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 4655)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (VIII/226 no. 4560).
[14]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 435)], Ahmad (al-Fat-hur Rabbani) (III/472 dan VI/394), Sunan Ibni Majah (I/393/1241).
[15]. Zaadul Ma'aad (I/271).
QIYAMUL LAIL (SHALAT MALAM)
Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
Shalat malam termasuk sunnah yang sangat dianjurkan. Ia termasuk ciri-ciri orang-orang yang bertaqwa. Allah berfirman:
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍآخِذِينَ مَا آتَاهُمْ
رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ كَانُوا
قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ
يَسْتَغْفِرُونَ وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman
(Surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan
kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia
adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di
waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada
Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang
meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” [Adz-Dzaariyaat:
15-19]
Dari Abu Malik al-Asy'ari Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرْفًا يُرَى ظَاهِرُهَـا مِنْ بَاطِنِهَا
وَبَاطِنِهَا مِنْ ظَاهِرِهَا، أَعَدَّهَا اللهُ تَعَالَى لِمَنْ أَطْعَمَ
الطَّعَامَ، وَأَلاَنَ الْكَلاَمَ، وَأَدَامَ الصِّيَامَ، وَصَلَّى
بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ.
“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya
terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar. Allah Ta’ala
menyediakannya bagi orang yang suka memberi makan, melunakkan
perkataan, senantiasa berpuasa, dan shalat malam pada saat manusia
tidur." [1]
A. Semakin Dianjurkan Pada Bulan Ramadhan
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam menganjurkan shalat malam pada bulan Ramadhan tanpa
memberi perintah yang mewajibkan. Lalu beliau bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“Barangsiapa shalat malam pada bulan Ramadhan dengan keimanan dan
mengharapkan pahala dari Allah, niscaya diampunilah dosa-dosanya yang
telah lampau.” [2]
B. Bilangan Raka’atnya
Paling sedikit satu raka’at. Dan paling banyak sebelas raka’at.
Sebagaimana telah disebutkan dalam perkataan ‘Aisyah Radhiyallahu
anhuma, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah shalat
lebih dari sebelas raka’at, baik pada bulan Ramadhan ataupun di luar
Ramadhan.”
C. Disyari'atkan Melakukannya Secara Berjama'ah Pada Bulan Ramadhan
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, “Pada suatu malam, Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat di masjid. Lalu orang-orang shalat
dengan shalat beliau. Pada malam berikutnya beliau shalat lagi dan
orang-orang kian bertambah banyak. Mereka kemudian berkumpul pada malam
ketiga atau keempat, namun Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
tidak keluar menemui mereka. Ketika pagi tiba, beliau bersabda:
قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوْجِ
إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ.
‘Aku melihat apa yang kalian perbuat. Tidak ada yang menghalangiku untuk
keluar menemui kalian. Hanya saja aku takut jika shalat tersebut
diwajibkan atas kalian.’
Saat itu pada bulan Ramadhan.” [3]
Dari ‘Abdurrahman al-Qari, ia berkata, “Pada suatu malam di bulan
Ramadhan, aku keluar bersama 'Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu
menuju masjid. Ternyata orang-orang terpecah menjadi beberapa kelompok.
Ada seorang laki-laki yang shalat sendirian, dan ada pula yang shalat
dengan diikuti oleh beberapa orang. Lalu ‘Umar berkata, “Aku
berpendapat, seandainya kukumpulkan mereka di bawah satu qari' (imam),
tentulah akan lebih baik. Kemudian dia membulatkan tekadnya dan
mengumpulkan mereka di bawah Ubay bin Ka'b. Pada suatu malam yang lain
aku keluar bersamanya sedangkan orang-orang tengah shalat bersama imam
mereka. ‘Umar berkata, ‘Ini adalah sebaik-baik bid’ah (perkara yang
baru). Namun, orang-orang yang tidur pada saat ini lebih baik daripada
yang sedang shalat’ -maksudnya, melaksanakan shalat di akhir malam lebih
baik- karena saat itu orang-orang mengerjakannya di awal malam." [4]
D. Disunnahkan Agar Seseorang Shalat dengan Isterinya (Keluarga) di Luar Bulan Ramadhan
Dari Abu Sa’id, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّيَـا -أَوْ
صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَمِيْعًا- كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ اللهَ
كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ.
“Jika seorang laki-laki membangunkan isterinya di malam hari, lalu
keduanya shalat -atau shalat dua raka’at secara berjama’ah-, niscaya
Allah mencatat keduanya sebagai para hamba laki-laki dan perempuan yang
banyak mengingat Allah." [5]
E. Mengqadha Shalat Malam
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Dulu, jika Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengerjakan shalat malam karena
sakit atau sebab lain, maka beliau shalat dua belas raka’at pada siang
harinya.” [6]
Dari ‘Umar bin al-Khaththab, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ نَـامَ عَنْ حِزْبِهِ مِنَ اللَّيْلِ أَوْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ
فَقَرَأَهُ مَا بَيْنَ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الظُّهْرِ كُتِبَ لَهُ
كَأَنَّمَا قَرَأَهُ مِنَ اللَّيْلِ.
“Barangsiapa tertidur sehingga tidak membaca wirid (shalat)nya di malam
hari atau sebagian darinya, lalu membaca (melaksanakan)nya pada waktu
antara shalat Shubuh dan shalat Zhuhur, maka dicatat sebagaimana ia
membacanya di malam hari." [7]
F. Dimakruhkan Meninggalkan Shalat Malam Bagi yang Telah Terbiasa Mengerjakannya
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadaku:
يَا عَبْدَ اللهِ لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُوْمُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ.
"Wahai 'Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa
mengerjakan shalat malam, sekarang dia meninggal-kan shalat malam." [8]
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz,
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta,
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September
2007M]
_______
Footnote
[1]. Hasan: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 2123)].
[2]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (I/523 no. 759 (174))], Shahiih
al-Bukhari (Fat-hul Baari) (IV/250 no. 2009), secara marfu'. Sunan Abi
Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/245 no. 1358), Sunan at-Tirmidzi (II/151 no.
805), Sunan an-Nasa-i (IV/156).
[3]. Muttafaq 'alaihi: [ Shahiih Muslim (I/524 no. 761)], Shahiih
al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/10 no. 1129), Sunan Abi Dawud (‘Aunul
Ma’buud) (IV/247 no. 1360).
[4]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 986)], Muwaththa'
al-Imam Malik (hal. 85 no. 247), Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari)
(IV/250 no. 2010).
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1098)], Sunan Abi Dawud
(‘Aunul Ma’buud) (IV/194 no. 1295), Sunan Ibni Majah (I/423 no. 1335).
[6]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 4756)], Shahiih Muslim (I/515 no. 746 (140)).
[7]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1104)], Shahiih Muslim
(I/515 no. 747), Sunan at-Tirmidzi (II/47 no. 578), Sunan Abi Dawud
(‘Aunul Ma’buud) (IV/197 no. 1299), Sunan an-Nasa-i (III/259), Sunan
Ibni Majah (I/426 no. 1343).
[8]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/37 no. 1152)], Shahiih Muslim (II/814 no. 1159 (185)).
SHALAT DHUHA (SHALAT AL-AWWAABIIN)
Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
A. Pensyari’atannya
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Kekasihku Shallallahu
'alaihi wa sallam mewasiatkan tiga perkara kepadaku: puasa tiga hari
pada tiap bulan (tanggal 13, 14, 15 pada bulan Hijriyyah), dua raka’at
shalat Dhuha, dan shalat witir sebelum tidur." [1]
B. Keutamaannya
Dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً، فَكُلُّ
تَسْبِيْحَةٍ صَـدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ
تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٍ
بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٍ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِى
مِنْ ذلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهَا مِنَ الضُّحَى.
“Pada masing-masing ruas jari kalian terdapat hak shadaqah. Setiap
tasbih adalah shadaqah. Setiap tahmid adalah shadaqah. Setiap tahlil
adalah shadaqah. Setiap takbir adalah shadaqah. Memerintah kebaikan
adalah shadaqah. Mencegah kemunkaran adalah shadaqah. Semua itu
tercukupi dengan mengerjakan shalat Dhuha dua raka’at." [2]
C. Bilangan Raka’atnya
Paling sedikit dua raka’at. Sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits tadi. Dan paling banyak delapan raka’at.
Dari Ummu Hani' Radhiyallahu anhuma, bahwa pada hari Fat-hu Makkah
(penaklukan kota Makkah), Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mandi di
rumahnya lalu shalat delapan raka’at." [3]
D. Waktunya Yang Paling Utama
Dari Zaid bin Arqam Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam keluar menemui penduduk Quba' yang sedang shalat
Dhuha. Lalu beliau bersabda:
صَلاَةُ اْلأَوَّبِيْنَ إِذَا رَمَضَتِ الْفِصَالُ مِنَ الضُّحَى.
"Waktu shalat al-awwaabiin (Dhuha) adalah ketika anak unta merasa kepanasan di pagi hari." [4]
SHALAT SETELAH BERSUCI (SHALAT SUNNAH WUDHU)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, “Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
berkata kepada Bilal ketika hendak shalat Shubuh, ‘Wahai Bilal,
beritahulah aku amalan yang paling engkau harapkan (pahalanya) yang
engkau kerjakan dalam Islam. Karena sesungguhnya aku mendengar suara
kedua sandalmu di hadapanku di Surga.’ Dia menjawab, ‘Tidaklah aku
melakukan amalan yang paling kuharapkan (pahalanya). Hanya saja aku
tidak bersuci, baik saat petang maupun siang, melainkan aku shalat
sunnah dengannya apa-apa yang telah ditetapkan bagiku untuk shalat.’”
[5]
SHALAT ISTIKHARAH
Disunnahkan bagi yang sedang menghadapi suatu masalah agar beristikharah
(meminta petunjuk) kepada Allah Ta'ala. Sebagaimana disebutkan dalam
hadits berikut:
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam pernah mengajarkan kepada kami beristikharah dalam segala perkara
sebagaimana beliau mengajarkan kepada kami surat dalam al-Qur-an: ‘Jika
salah seorang di antara kalian menghadapi perkara, maka shalatlah dua
raka’at, selain shalat wajib. Kemudian ucapkanlah:
"اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ
بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ
وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ
الْغُيُوْبِ. اَللّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هذَا اْلأَمْرَ خَيْرٌ
لِي فِي دِيْنِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي -أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ
أَمْرِي وَآجِلِهِ- فَاقْدُرْهُ لِي. وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هذَا
اْلأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِيْنِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي -أَوْ
قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ- فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي
عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ."
“Ya Allah, sesungguhnya aku minta petunjuk-Mu melalui ilmu-Mu. Aku
memohon kekuatan dari-Mu melalui kekuatan-Mu. Aku memohon karunia-Mu
yang agung. Karena Engkau-lah Yang Mahakuasa sedangkan aku tidak
berdaya. Engkaulah Yang Mahatahu sedangkan aku tidak mengetahui.
Engkaulah Yang Maha Mengetahui alam ghaib. Ya Allah, jika menurut-Mu
perkara ini baik bagi agamaku, dunia, dan akhir kesudahanku -atau
mengatakan: ‘Bagi dunia dan akhiratku.’- , maka takdirkanlah ia bagiku.
Namun, jika menurut-Mu perkara ini buruk bagi agamaku, dunia, dan akhir
kesudahanku -atau mengatakan: ‘Dunia dan akhiratku,’- maka jauhkanlah ia
dariku dan jauhkanlah aku darinya. Takdirkanlah kebaikan bagiku, apa
pun ia, kemudian jadikanlah aku ridha terhadapnya.”
Setelah itu, hendaknya ia menyebutkan keinginannya.[6]
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz,
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta,
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September
2007M]
_______
Footnote
[1]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 367)], Shahiih Muslim
(I/499 no. 721), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/310 no. 1419).
[2]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 364)], Shahiih Muslim
(I/499 no. 720), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/164 no. 1271).
[3]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/51 no.
1176)], Shahiih Muslim (I/226 no. 336 (71)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul
Ma’buud) (I/170 no. 1277), Sunan at-Tirmidzi (I/295 no. 472), Sunan
an-Nasa-i (I/126).
[4]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 368) secara ringkas], Shahiih Muslim (I/516 no. 748 (144)).
[5]. Telah disebutkan takhrijnya.
[6]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1136)], Shahiih al-Bukhari
(Fat-hul Baari) (XI/183 no. 6382), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
(IV/396 no. 1524), Sunan at-Tirmidzi (I/298 no. 478), Sunan Ibni Majah
(I/440 no. 1383), Sunan an-Nasa-i (VI/80).
SHALAT GERHANA
Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
Jika terjadi gerhana bulan atau matahari disunnahkan mengumandangkan:
اَلصَّلاَةُ جَامِعَةٌ.
"Mari shalat berjama'ah."
Dari 'Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu, dia mengatakan, “Ketika
terjadi gerhana matahari di zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam, maka diserukanlah:
إِنَّ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ
“Sesungguhnya shalat dilakukan secara berjama’ah.” [1]
Jika orang-orang telah berkumpul di masjid, maka imam shalat dua raka’at
bersama mereka sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawah ini:
Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Pada zaman Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Lalu
beliau pergi ke masjid dan orang-orang pun berbaris di belakang beliau,
kemudian beliau bertakbir. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
membaca dengan bacaan yang panjang. Lantas bertakbir dan melakukan ruku'
dengan panjang. Kemudian beliau mengucap: " سَمِعَ اللهُ لِمَنْ
حَمِدَهُ ." Lalu bangkit dan tidak melakukan sujud. Setelah itu beliau
membaca bacaan yang panjang, namun tidak sepanjang bacaan pertama.
Kemudian bertakbir lalu melakukan ruku' dengan ruku’ yang panjang namun
tidak sepanjang ruku' pertama. Setelah itu beliau mengucap: “سَمِعَ
اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ Kemudian beliau sujud.
Pada raka’at kedua, beliau melakukan seperti pada raka’at pertama.
Hingga beliau juga melakukan empat ruku' dalam empat sujud dan matahari
pun telah tampak kembali sebelum beliau selesai." [2]
Khutbah Setelah Shalat
Jika imam selesai salam, disunnahkan baginya berkhutbah di hadapan
orang-orang. Menasihati mereka, mengingatkan, dan mendorong mereka untuk
berbuat amal shalih.
Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam shalat pada hari di mana terjadi gerhana matahari... kemudian dia
menyebutkan tata cara shalat tersebut. Lalu melanjutkan, "Kemudian
beliau salam, sedangkan matahari telah tampak kembali. Beliau lantas
berkhutbah di hadapan orang-orang. Beliau mengatakan bahwa gerhana
matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan
Allah. Tidaklah gerhana itu terjadi karena mati atau lahirnya seseorang.
Jika kalian melihatnya, maka bergegaslah untuk shalat." [3]
Dari Asma' Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam menyuruh membebaskan budak pada saat terjadi gerhana
matahari."[4]
Dari Abu Musa, dia berkata, “Ketika terjadi gerhana matahari. Tiba-tiba
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri dengan terkejut. Beliau
khawatir jika hari itu terjadi Kiamat. Beliau mendatangi masjid kemudian
mengerjakan shalat dengan berdiri, ruku', dan sujud yang terpanjang
yang pernah aku lihat. Beliau lantas berkhutbah, “Ini adalah salah satu
tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan oleh-Nya. Bukan lantaran mati
atau lahirnya seseorang. Namun, dengan peristiwa itu Allah ingin
menakuti para hamba-Nya. Jika kalian melihat hal itu terjadi, maka
bersegeralah untuk mengingat Allah, berdo’a, dan beristighfar
kepada-Nya." [5]
Pengertian secara lahiriyah dari sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam : “Maka bersegeralah... dan seterusnya,” menunjukkan wajibnya
perbuatan tersebut. Jadi, hukum shalat gerhana adalah fardhu kifayah.
Sebagaimana dikatakan Abu ‘Awanah dalam kitab Shahiihnya (II/398),
"Penjelasan tentang wajibnya shalat gerhana" Kemudian di menyebutkan
beberapa hadits shahih tentang masalah tersebut. Hal itu juga tampak
dilakukan oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahiihnya. Dia berkata
(II/38), "Bab perintah shalat ketika terjadi gerhana matahari dan
bulan..." Lalu dia menyebutkan sejumlah hadits berkenaan dengan masalah
tersebut.
Al-Hafizh berkata dalam Fat-hul Baari (II/527), “Pendapat Jumhur
menyatakan bahwa ia adalah sunnah mu-akkadah. Abu ‘Awanah menyatakannya
dalam kitab Shahiihnya sebagai perbuatan yang wajib. Dan saya tidak
menjumpai pendapat seperti itu pada ulama selainnya. Hanya saja, apa
yang diriwayatkan dari Malik bahwa beliau memperlakukannya sebagaimana
shalat Jum’at. Dan az-Zain bin al-Munir menukil dari Abu Hanifah bahwa
dia mewajibkannya. Begitupula beberapa pengarang kitab madzhab
Hanafiyyah. Mereka menyatakannya sebagai hal yang wajib." [6]
SHALAT ISTISQA
Jika hujan tidak turun, dan suatu daerah tertimpa kekeringan, maka
disunnahkan keluar menuju tanah lapang untuk shalat Istisqa' (memohon
hujan). Kemudian seorang imam melakukan shalat dua raka’at bersama
masyarakat. Setelah itu dia memperbanyak do’a dan istighfar sambil
merubah letak syal (selendang)nya dan menjadikan bagian kanannya di atas
bagian kirinya.
Dari 'Abbad bin Tamim z, dari pamannya, 'Abdullah Zaid, dia berkata,
“Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menuju tanah lapang untuk
shalat Istisqa'. Beliau menghadap ke kiblat lalu shalat dua raka’at dan
membalik syalnya. Sufyan berkata, ‘Aku diberitahu al-Mas’udi dari Abu
Bakr, dia berkata, ‘Beliau menjadikan bagian kanan dari syal tersebut di
atas bagian kiri.’”[7]
Dan darinya, dia berkata, “Aku melihat Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam ketika keluar untuk shalat Istisqa'. Dia berkata, ‘Beliau lalu
menghadapkan punggungnya ke arah para penduduk dan menghadap ke kiblat
sambil berdo’a. Kemudian beliau merubah letak syalnya lantas shalat dua
raka’at bersama kami. Beliau mengeraskan bacaannya pada kedua raka’at
tersebut." [8]
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz,
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta,
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September
2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/533 no.
1045), Shahiih Muslim (II/627 no. 910), Sunan an-Nasa-i (III/136).
[2]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/533 no.
1046)], Shahiih Muslim (II/619 no. 901 (3)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul
Ma’buud) (IV/46 no. 1168), Sunan an-Nasa-i (III/130).
[3]. Ibid.
[4]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 118)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/543 no. 1045).
[5]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/545 no.
1059)], Shahiih Muslim (II/628 no. 912), Sunan an-Nasa-i (III/153).
[6]. Tamaamul Minnah (hal. 261), dengan sedikit pengubahan.
[7]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/515 no.
1027)], ini adalah lafazh darinya, Shahiih Muslim (II/611 no. 894 (2)),
Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/24 no. 1149), Sunan at-Tirmidzi
(I/34 no. 553), Sunan an-Nasa-i (II/155) dengan lafazh hampir serupa.
[8]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 1029)], Shahiih al-Bukhari
(Fat-hul Baari) (II/514 no. 1025), ini adalah lafazhnya, Shahiih Muslim
(II/611 no. 894 (4)), dalam riwayatnya tidak terdapat kata:
"mengeraskan." Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/26 no. 1150).
SUJUD TILAWAH
Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
Ibnu Hazm rahimahullah berkata dalam al-Muhalla (V/106, V/105), “Dalam
al-Qur-an terdapat empat belas ayat sajdah. Yang pertama pada akhir
surat al-A'raf, kemudian ar-Ra'd, an-Nahl, Subhaana, kaf ha ya 'ain
shad, awal al-Hajj, pada akhir-akhir surat ini tidak terdapat ayat
Sajdah, al-Furqaan, an-Naml, alif lam mim tanzil, shad, ha mim
fushshilat, akhir wan najm, idzassamaa-un syaqqat pada ayat: ‘لاَ
يَسْجُدُوْنَ’ kemudian di akhir surat iqra' bismirabbikalladzi khalaq.”
A. Hukum Sujud Tilawah
Ibnu Hazm melanjutkan, "Sujud ini tidaklah wajib, namun ia adalah
keutamaan (sunnah). Sujud ini dilakukan saat shalat wajib dan sunnah.
Juga pada selain shalat di setiap waktu, ketika matahari terbit,
tenggelam, maupun saat pertengahan. Baik menghadap ke kiblat maupun
tidak. Baik dalam keadaan suci ataupun tidak."
Saya katakan, "Sujud ini dikatakan sebagai keutamaan, bukan kewajiban
karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah membaca ‘Wan Najm’ lalu
sujud. [1]
Zaid bin Tsabit pernah membacanya di hadapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam tetapi beliau tidak sujud [2] untuk menunjukkan kebolehannya.
Sebagaimana disebutkan al-Hafizh dalam Fat-hul Baari (II/555), Ibnu Hazm
berkata (V/111), “Sujud ini boleh dilakukan tanpa bersuci dan tanpa
menghadap ke kiblat karena ia bukanlah shalat. Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda:
صَلاَةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى.
“Shalat malam maupun siang dikerjakan dua raka’at dua raka’at.” [3]
Apa yang kurang dari dua raka’at, maka bukanlah shalat. Kecuali ada nash
yang menyatakan bahwa ia adalah shalat. Seperti satu raka’at pada
shalat Khauf, Witir, dan shalat Jenazah. Tidak ada nash yang menyatakan
bahwa sujud tilawah adalah shalat."
B. Keutamaannya
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ، اِعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ
يَبْكِي يَقُوْلُ: يَاوَيْلَهُ، أُمِرَ بِالسُّجُوْدِ فَسَجَدَ فَلَهُ
الْجَنَّةُ، وَأُمِرْتُ بِالسُّجُوْدِ فَعَصَيْتُ فَلِيَ النَّارُ.
“Jika anak Adam membaca ayat Sajdah kemudian bersujud, maka syaitan
menjauh darinya sambil menangis dan berkata, ‘Alangkah celakanya. Dia
diperintah sujud kemudian bersujud, lalu ia mendapat Surga. Sedangkan
aku diperintah sujud namun membangkang, lalu aku mendapat Neraka.’” [4]
C. Bacaan yang Diucapkan Ketika Sujud
Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, Pada suatu malam Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca (do’a) di saat sujud Qur-an,
beliau membacanya berulang-ulang ketika sujud sajdah:
سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِي خَلَقَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ.
“Wajahku bersujud pada Dzat Yang menciptakannya, serta membuka
pendengaran dan penglihatannya dengan daya serta kekuatan-Nya."[5]
Dari ‘Ali Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Jika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sujud, beliau mengucapkan:
"اَللّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، أَنْتَ
رَبِّي، سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِي شَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ
اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ."
“Ya Allah, aku bersujud kepada-Mu, beriman kepada-Mu, dan berserah diri
kepada-Mu. Engkaulah Tuhanku. Wajahku bersujud pada Dzat Yang membuka
pendengaran dan penglihatannya. Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta.”
[6]
Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Aku bersama Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu datanglah seorang laki-laki. Lantas
dia berkata, ‘Semalam aku bermimpi. Seakan-akan aku shalat menghadap ke
pangkal pohon. Aku membaca ayat sajdah lalu bersujud. Kemudian pohon itu
bersujud karena sujudku. Aku mendengar pohon tadi mengucapkan:
"اَللّهُمَّ احْطِطْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا، وَاكْتُبْ لِي بِهَا أَجْرًا، وَاجْعَلْهَا لِي عِنْدَكَ ذُخْرًا."
“Ya Allah, hapuslah dosaku dengannya. Catatlah ia sebagai pahalaku. Dan jadikanlah ia simpananku di sisi-Mu.”
Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma berkata, “Aku melihat Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam membaca ayat Sajdah lalu bersujud. Dalam sujudnya
beliau membaca do’a yang diceritakan laki-laki tadi tentang ucapan pohon
tersebut.” [7]
Sujud Syukur
Disunnahkan bagi orang yang memperoleh nikmat, terhindar dari bencana,
atau menerima kabar gembira, agar bersujud. Sebagai wujud peneladanan
kita terhadap Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dari Abu Bakrah Radhiyallahu anhu : “Jika Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam mendapat sesuatu yang menggembirakan atau merasa bahagia, beliau
menyungkur sujud sebagai rasa syukur kepada Allah Tabaaraka wa Ta’aala.”
[8]
Hukumnya sama dengan hukum sujud tilawah.
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz,
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta,
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September
2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/553 no.
1070)], Shahiih Muslim (I/405 no. 576), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
(IV/828 no. 1393), Sunan an-Nasa-i (II/160).
[2]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/554 no.
1073)], Shahiih Muslim (I/406 no. 577), Sunan an-Nasa-i (II/160), Sunan
Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/280 no. 1391), Sunan at-Tirmidzi
(II/44/573).
[3]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 1151)], Sunan Abi Dawud
(‘Aunul Ma’buud) (IV/173 no. 1281), Sunan at-Tirmidzi (II/54 no. 594),
Sunan Ibni Majah (I/419 no. 1322), Sunan an-Nasa-i (III/227).
[4]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 369)], Shahiih Muslim (I/87 no. 81).
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 1255)], Sunan Abi Dawud
(‘Aunul Ma’buud) (IV/289 no. 1401), Sunan at-Tirmidzi (V/47 no. 577),
Sunan an-Nasa-i (II/222).
[6]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 866)], Shahiih Muslim (I/534
no. 771), Sunan Ibni Majah (I/335 no. 1054), Sunan Abi Dawud (‘Aunul
Ma’buud) (II/ 463 no. 746), Sunan at-Tirmidzi (V/149 no. 3481).
[7]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 865)], Sunan at-Tirmidzi (II/46 no. 576), Sunan Ibni Majah (I/334 no. 1053).
[8]. Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1143)], Sunan Ibni Majah
(I/446 no. 1394), ini adalah lafazhnya, Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
(VII/462 no. 2757), Sunan at-Tirmidzi (III/69 no. 1626).
SUJUD SAHWI
Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
Disebutkan dalam riwayat bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah
lupa dalam shalat. Terdapat juga riwayat shahih yang menyebutkan bahwa
beliau bersabda:
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيْتُ فَذَكِّرُوْنِيْ.
“Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa seperti kalian. Aku lupa
sebagaimana kalian juga lupa. Jika aku lupa, maka ingatkanlah aku.”[1]
Beliau mensyari'atkan sujud sahwi bagi umatnya dalam beberapa hukum sebagaimana kami ringkaskan sebagai berikut:[2]
1. Jika bangkit dari raka’at kedua pada shalat wajib tanpa tasyahhud awal
Dari ‘Abdullah bin Buhainah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengimami kami shalat wajib. Pada
dua raka’at (pertama) beliau bangkit tanpa duduk (tasyahhud awal).
Orang-orang lantas ikut berdiri mengikutinya. Ketika beliau telah
menyelesaikan shalatnya, sedang kami menunggu beliau salam, beliau
bertakbir lalu sujud dua kali dalam keadaan duduk. Setelah itu, beliau
mengucapkan salam. [3]
Dari al-Mughirah bin Syu'bah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ فَلَمْ يَسْتَتِمَّ قَائِمًا
فَلْيَجْلِسْ، فَإِذَا اسْتَتَمَّ قَائِمًا فَلاَ يَجْلِسْ وَيَسْجُدُ
سَجْدَتَي السَّهْوِ.
"Jika salah seorang di antara kalian bangkit dari dua raka’at, dan belum
berdiri dengan sempurna, maka hendaklah ia duduk. Namun, jika ia telah
berdiri dengan sempurna, maka janganlah ia duduk. Dan hendaklah ia
melakukan sujud sahwi dua kali."[4]
2. Jika shalat lima raka’at
Dari 'Abdullah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam pernah shalat Zhuhur lima raka’at. Lalu ada yang
berkata pada beliau, ‘Apakah terjadi penambahan dalam shalat?’ Beliau
berkata, ‘Mengapa?’ Dia menjawab, ‘Engkau shalat lima raka’at.’ Beliau
kemudian sujud dua kali setelah salam.” [5]
3. Jika salam pada raka’at kedua atau ketiga
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam pernah salam pada raka’at kedua. Lalu berkatalah Dzul Yadain,
"Apakah engkau mengqashar shalat atau lupa, wahai Rasulullah?"
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, “Apakah benar yang
dikatakan oleh Dzul Yadain?” Orang-orang menjawab, “Benar.” Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bangkit dan shalat dua raka’at lagi.
Setelah itu beliau salam lalu bertakbir dan sujud sebagaimana sujudnya
(dalam shalat), atau lebih panjang. Kemudian beliau bangun."[6]
Dari ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu, “Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam shalat ‘Ashar. Kemudian beliau salam pada raka’at
ketiga lalu masuk ke rumahnya. Seorang laki-laki yang dipanggil
al-Khirbaq lalu mendatanginya. Dia memiliki tangan yang panjang. Lalu
dia menyebutkan apa yang telah beliau lakukan. Beliau lantas keluar
dengan marah sambil menyeret selendangnya hingga tiba di tempat
orang-orang. Beliau bertanya, ‘Apakah benar yang dikatakan orang ini?’
Mereka menjawab, ‘Ya.’ Kemudian beliau shalat satu raka’at kemudian
salam. Setelah itu beliau sujud dua kali lalu salam lagi.” [7]
4. Jika lupa bilangan raka’at shalat
Dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, ia mengatakan bahwa ‘Abdullah berkata,
“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat.” Ibrahim
berkata: ‘Beliau menambah atau mengurangi [8].’ Ketika selesai salam,
ada yang berkata kepadanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah telah terjadi
perubahan dalam shalat?’ Beliau bertanya, ‘Mengapa?’ Mereka menjawab,
‘Anda shalat sekian raka’at.’ Dia berkata, ‘Beliau lalu memutar kakinya
dan menghadap Kiblat. Kemudian beliau sujud dua kali dan salam. Setelah
itu beliau menghadap kami dan bersabda:
إِنَّهُ لَوْ حَدَثَ فِي الصَّلاَةِ شَيْءٌ أَنْبَأْتُكُمْ بِهِ وَلكِنْ
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ، أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيْتُ
فَذَكِّرُوْنِي وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ
فِي صَلاَتِهِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ، فَلْيَتِمْ عَلَيْهِ، ثُمَّ لِيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ.
“Sesungguhnya, jika terjadi sesuatu pada shalat, niscaya kalian aku
beritakan. Akan tetapi aku hanyalah seorang manusia. Aku lupa
sebagaimana kalian juga lupa. Jika aku lupa, maka ingatkanlah aku. Jika
salah seorang di antara kalian ragu-ragu dalam shalatnya, maka hendaklah
dia berusaha mencari mana yang benar. Lalu menyempurnakannya, setelah
itu hendaklah dia sujud dua kali.” [9]
“Mencari yang benar,” bisa dengan cara mengingat-ingat apa yang telah ia
baca dalam shalat. Bisa jadi dia ingat telah membaca dua surat dalam
dua raka’at. Akhirnya dia mengetahui bahwa dia telah shalat dua raka’at,
bukan satu raka’at. Terkadang dia teringat telah melakukan tasyahhud
awal. Sehingga dia mengetahui bahwa dia telah shalat dua raka’at, tidak
satu raka’at. Dan dia telah shalat tiga raka’at, bukan dua raka’at.
terkadang, dia ingat telah mem-baca al-Faatihah saja pada satu raka’at
dan juga raka’at berikutnya. Akhirnya dia sadar bahwa dia telah shalat
empat raka’at, tidak tiga raka’at. Dan begitulah seterusnya. Jika dia
mencari yang benar dengan cara mengambil yang lebih dekat pada yang
benar, maka hilanglah keraguan tadi. Dalam masalah ini, tidak ada
perbedaan antara menjadi imam ataupun shalat sendiri. [10]
Jika dia telah berusaha mencari yang benar, namun dia belum bisa
menentukan suatu kecenderungan, maka dia harus menguatkan perkara yang
yakin, yaitu yang paling sedikit. Sebagaimana disebutkan dalam hadits
berikut ini:
Dari Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِـيْ صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى؟
ثَلاَثًا أَوْ أَرْبَعًـا؟ فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَـا
اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ. فَإِنْ
كَـانَ صَلَّى خَمْسًا شَفِعْنَ لَهُ صَلاَتُهُ، وَإِنْ كَانَ صَلَّى
إِتْمَامًا ِلأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيْمًا لِلشَّيْطَانِ.
“Jika salah seorang di antara kalian ragu dalam shalatnya. Sehingga dia
tidak tahu berapa raka’at yang telah dia kerjakan. Tiga raka’at ataukah
empat raka’at. Maka hendaklah ia tepis keraguan itu, dan ikutilah yang
dia yakini. Setelah itu, hendaklah dia sujud dua kali sebelum salam.
Jika ternyata dia mengerjakan lima raka’at, maka dia telah menggenapkan
shalatnya. Namun, jika dia mengerjakan empat raka’at, maka dua sujud
tadi adalah penghinaan bagi syaitan.” [11]
A. Hukum Sujud Sahwi
Hukum sujud sahwi adalah wajib. Karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam memerintahkannya. Sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits
tadi. Dan juga karena beliau senantiasa melakukannya ketika lupa. Beliau
tidak pernah meninggalkannya sama sekali.
B. Letak Sujud Sahwi
Pendapat yang paling baik adalah pembedaan antara menambah dan
mengurangi, antara ragu dan berusaha mencari yang benar, juga antara
ragu dan mengikuti yang diyakini. Semua nash-nash ini bisa diterapkan.
Dan pembedaan ini sangat masuk akal.
Jika ada yang kurang dalam shalat, seperti meninggalkan tasyahhud awal,
maka shalat memerlukan penambahan. Agar shalat menjadi sempurna, maka
penambahannya dilakukan sebelum salam. Karena salam adalah penutup
shalat.
Jika terjadi penambahan, seperti kelebihan satu raka’at -tidak pernah
terkumpul dua tambahan dalam satu shalat-, maka sujud dilakukan setelah
salam. Karena ia merupakan penghinaan bagi syaitan. Ia memiliki
kedudukan sebagai satu shalat yang terpisah, yang dengannya shalat yang
kurang menjadi sempurna. Sebab, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
menjadikan dua sujud seperti halnya satu raka’at.
Begitupula jika dia ragu dan berusaha mencari yang benar, maka dia harus
menyempurnakan shalatnya, dan kedua sujud tadi sebagai penghinaan bagi
syaitan. Maka, kedua sujud tadi dilakukan setelah salam. Demikian pula
ketika dia selesai salam, sedangkan sebagian shalatnya belum dikerjakan
kemudian dia menyempurnakannya, maka dia telah menyempurnakan shalatnya
tadi sedangkan salam pada shalat tersebut merupakan tambahan. Sujud
dalam kondisi semacam ini dikerjakan setelah salam. Karena ia merupakan
penghinaan bagi syaitan.
Adapun jika dia ragu dan tidak bisa menentukan mana yang benar, maka
dalam kondisi semacam ini bisa jadi dia shalat empat raka’at atau lima
raka’at. Jika dia shalat lima raka’at, maka kedua sujud tadi telah
menggenapkan shalatnya. Dengan begitu dia seolah-olah shalat enam
raka’at, bukan lima. Sujud ini dilakukan sebelum salam.
Pendapat yang kita kuatkan ini merupakan penerapan dari semua
hadits-hadits tadi. Tidak ada satu hadits pun yang ditinggalkan.
Sekalipun dengan menggunakan kias yang benar dalam masalah yang tidak
terdapat nashnya. Juga dengan mengaitkan yang bukan nash dengan nash
yang mirip dengannya.[12]
C. Sujud Sahwi Karena Meninggalkan Salah Satu Sunnah
Barangsiapa meninggalkan salah satu sunnah karena lupa, maka dia harus sujud sahwi.
Dasarnya adalah sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
لِكُلِّ سَهْوٍ سَجْدَتَانِ.
“Jika terjadi kelupaan dalam shalat, maka harus sujud dua kali.” [13]
Hukum sujud dalam kondisi ini adalah sunnah, bukan wajib. Agar far'i (cabang) tidak bertambah dari hukum asalnya.[14]
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz,
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta,
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September
2007M]
_______
Footnote
[1]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 2339)], Irwaa’ul Ghaliil (no. 339).
[2]. Fiqhus Sunnah (I/190).
[3]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/92 no.
1224)], Shahiih Muslim (I/399 no. 570), Sunan an-Nasa-i (III/19), Sunan
Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/347 no. 1021), Sunan at-Tirmidzi (I/242
no. 389), Sunan Ibni Majah (I/381 no. 1206).
[4]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (II/109-110)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul
Ma’buud) (III/350 no. 1023), Sunan Ibni Majah (I/381 no. 1208). Yang
harus diperha-tikan adalah, dalam hadits tidak dibedakam antara bangkit
yang lebih dekat ke berdiri sehingga dia harus berdiri atau lebih dekat
ke duduk sehingga ia harus duduk. Yang benar adalah sebagaimana
dijelaskan dalam hadits bahwa jika ia teringat sebelum berdiri dengan
sempurna, maka dia harus duduk, sekalipun dia telah hampir berdiri
secara sempurna.
[5]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/93 no.
1226)], Shahiih Muslim (I/401 no. 572 (91)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul
Ma’buud) (III/325 no. 1006), Sunan at-Tirmidzi (I/243 no. 390), Sunan
Ibni Majah (I/380 no. 1205), Sunan an-Nasa-i (III/31).
[6]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/98 no.
1228)], Shahiih Muslim (I/403 no. 573), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
(III/311 no. 995), Sunan at-Tirmidzi (I/247 no. 397), Sunan an-Nasa-i
(III/30), Sunan Ibni Majah (I/383 no. 1214).
[7]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1001)], Shahiih Muslim
(I/404 no. 574), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/323 no. 1005),
Sunan an-Nasa-i (III/ 26), Sunan Ibni Majah (I/384 no. 1215).
[8]. Ibrahim tadi ragu. Yang benar adalah beliau menambah. Sebagaimana
di-sebutkan oleh Ibnul Atsir dalam kitab Jaami'ul Ushuul (V/541).
[9]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/503 no.
401)], Shahiih Muslim (I/400 no. 572), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
(III/326 no. 1007), Sunan an-Nasa-i (III/31), Sunan Ibni Majah (I/382
no. 1211).
[10]. Majmuu' al-Fataawaa karya Ibnu Taimiyyah (XXIII/13).
[11]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 632)], Shahiih Muslim
(I/400 no. 571), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/330 no. 1011),
Sunan an-Nasa-i (III/27).
[12]. Majmuu' al-Fataawaa (XXIII/24).
[13]. Hasan: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 917)], Sunan Abi Dawud
(‘Aunul Ma’buud) (III/357 no. 1025), Sunan Ibni Majah (I/385 no. 1219).
[14]. As-Sailuul Jarraar (I/275).

0 komentar:
Post a Comment