Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Biografi al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat (Bagian I)

Alhamdulillah ya akhi bahwa ana termasuk diantara yang dekat dengan beliau yaitu al ustadz Abdul hakim bin Amir Abdat hafizhahullah dari sekian banyak kaum muslimin dinegri ini. Dan wajib bagi ana ya akhi untuk menceritakan sebagian tentang riwayat beliau yang ana ketahui karena ana adalah diantara orang yang mengetahui atau mendapatkan kisah dari beliau apa yang kaum muslimin yang lain tidak mengetahuinya agar mereka tahu dan dapat berpijak dengan ilmu dan keadilan tentang seorang yang telah banyak berjasa dalam menyebarkan dakwah sunnah, dakwah salafiyah mubarakah di negri tercinta ini.


Ada banyak kisah-kisah menarik dan penuh dengan ibrah sebenarnya yang ingin ana ceritakan dari kisah perjalanan ilmiyah beliau dalam menuntut ilmu syar’i. Yang mana kisah-kisah tersebut penuh dengan pelajaran untuk kita sekalian, dan yang akan paling dapat merasakan bagian terbesar dari pelajaran tersebut adalah para “pelajar ilmiyyah” yaitu yang mengkhususkan diri-diri mereka untuk menuntut ilmu agama Allah secara lebih tafsil.

Yang kisah tersebut ana dan beberapa orang teman dapatkan langsung dari beliau ditempat dan waktu yang berbeda-beda ketika sedang bersama beliau, itu tadi yang ana jelaskan diawal karena kesempatan yang Allah berikan kepada ana dan sebagian ikhwan untuk dapat mempunyai hubungan yang lebih dari yang lain dengan beliau al ustadz yang kami cintai karena Allah.

Perlu antum sekalian ketahui akhi yang dimuliakan oleh Allah atas sebab Islam , bahwa kecintaan beliau terhadap ilmu islam adalah semenjak beliau masih kanak-kanak yakni dibangku sekolah dasar yang merupakan pendidikan formal satu-satunya yang beliau lalui. Oleh karena itu beliau pernah mengatakan di majelis hadits shahih bukhari yang beliau pimpin yang maknanya bahwa beliau hanyalah lulusan S1 yaitu SD karena “S”nya cuma satu.

Akan tetapi bukankah jalan menempuh ilmu itu banyak yang pada zaman ini telah disempitkan oleh sebagian manusia dimana mereka mengatakan bahwa kalau seseorang itu tidak memiliki gelar-gelar dari pendidikan formal maka dia bukan orang yang berpendidikan meskipun telah jelas sekali dihadapan matanya akan luasnya ilmu orang tersebut.

Maka beliau memutuskan untuk fokus menuntut ilmu syar’i setelah selesai beliau dibangku sekolah dasar. Perlu antum ketahui akhi bahwa keputusan beliau untuk memfokuskan menuntut ilmu syar’i adalah atas dasar prinsip beliau sendiri yang ketika itu masih anak-anak, namun SUBHANALLAH beliau sudah memiliki prinsip yang seperti itu bahkan semenjak sekolah dasar.

Beliaupun sudah mempunyai prinsip yang kuat yang diterapkan oleh seorang yang masih kanak-kanak pada waktu itu yaitu beliau tidak mau mengikuti pelajaran yang sekiranya tidak bermanfaat buat beliau seperti kalau sekarang namanya pelajaran ppkn dan beberapa pelajaran yang lainnya.

Maka beliau tidak lanjutkan pendidikan beliau ke jenjang formal SMP, namun beliau memilih untuk mendalami ilmu agama yang pada awal perjalanan beliau belajar disalah satu pesantren milik seorang kiyai terkenal di jakarta yaitu kyai Abdullah Syafi’i yang merupakan guru-guru awal beliau, namun beliau oleh ayahnya tidak di izinkan untuk berasrama dipesantren tersebut.

Akan tetapi ayahnya meminta kepada pihak pesantren agar beliau pulang pergi saja agar ayahnya lebih dapat mengurus keperluan beliau dengan lebih baik. Maka belajarlah beliau disana sampai karena suatu sebab beliau tidak belajar lagi di tempat tersebut dan pindah ke tempat yang lain di jakarta juga yang saat ini tempat tersebut telah menjadi masjid Istiqlal yang pada saat beliau belajar belum di bangun.

Dan beliau mengatakan bahwa beliau bersyukur kepada Allah bahwa beliau tidak belajar terus ditempat belajar beliau yang pertama, karena kalau sampai terus disana mungkin beliau akan berada diatas pemahaman quburiyyun dan kesesatan dalam beragama seperti umumnya pemahaman islam di negri kita ini.

Maka ditempat barunya ini beliau nampak sekali kecerdasan beliau sehingga beliau selalu loncat langsung ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga beliau mengatakan yang maknanya bahwa “saya adalah yang paling kecil diantara teman-teman belajar saya”.

Beliau pernah pada saat kewafatan ibunda beliau beberapa tahun lalu tepatnya ketika khutbah kematian setelah dikuburkan jenazah ibunda beliau ke dalam tanah, maka beliau langsung berkhutbah dan ada disalah satu yang beliau sampaikan di khutbah tersebut yang membuat beliau sangat sedihnya dan mulai berlinang airmata beliau dan juga air mata para ikhwan yang hadir yang mendengarkan khutbah yang sangat bagus dan bermanfaat tersebut tentang hakikat kematian yaitu beliau menceritakan tentang jasa ibunda beliau yang membelikan kepada beliau kitab shahih muslim yang merupakan kitab hadits pertama yang beliau miliki atas hadiah dari ibunda beliau. Kitab tersebut masih ada sampai saat ini pada beliau dan telah berumur tua.

Beliau mengatakan bahwa itulah di antara sebab yang mengantarkan beliau cinta kepada hadits-hadits musthafa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan mulai mendalami ilmu hadits.

Kemudian ringkas kata dari kisah ini diantaranya juga beliau mendalami ilmu qira’at (bacaan qur’an) kepada salah seorang guru besar ahli qira’at di indonesia yang merupakan juri nasional dan internasional qira’at alqur’an pada waktu itu.

Beliaupun belajar sampai meninggal dunia guru tersebut. Beliau pernah ditawarkan oleh guru beliau tersebut untuk menjadi qari nasional namun beliau menolak dengan mengatakan secara baik-baik kepada guru beliau bahwa ajarkan saja saya ilmu tentang qira’at alqur’an.

Oleh karena itu dalam ilmu qira’at beliau memiliki ilmu yang cukup. Terkadang di dalam majelis beliau suka memberikan penjelasan sedikit berikut contohnya tentang macam baacan-bacaan alqur’an.

Kemudian beliau pernah menuturkan bahwa kalau ada seorang imam shalat kemudian pas kebetulan dibelakang imam tersebut ada guru qira’at beliau sebagai makmumnya, maka setelah shalat imam tersebut akan diberikan kritikan ilmiyyah tentang kesalahanya dalam bacaan qur’an dan rata-rata tidak ada yang lulus dari kesalahan, kata beliau.

Dan perlu antum sekalian ketahui akhi bahwa ada guru beliau yang paling berkesan bagi beliau dan amat beliau cintai dari guru-guru beliau yang lainnya, dia adalah sebagaimana dijelaskan oleh al ustadz merupakan ahli tafsir di negri kita ini yang sangat disegani oleh para kiayi dinegri ini.

Al ustadz belajar ilmu tafsir alqur’an kepada beliau bertahun-tahun sampai guru beliau meninggal dunia. Tahukah antum sekalian akhi bahwa sebelum mempelajari tafsir dengan sang guru maka yang dipelajari terlebih dahulu adalah pengantar ilmu tafsir qur’an dan itu selama beberapa tahun baru kemudian masuk kepada ilmu tafsir qur’an selama beberapa tahun sampai wafatnya guru beliau.

Maka senantiasa ana merasa heran kepada sebagian orang yang atas dasar ketidaktahuannya mengatakan bahwa al ustadz adalah orang yang belajar agama secara otodidak, seharusnya orang yang tidak tahu tugasnya adalah mencari tahu bukannya berbicara atas dasar kebodohannya dan malah menyebarkanya kepada manusia.

Maka sesungguhnya Allah akan membalas atas apa yang dilakukan manusia sebagaimana firman-Nya dalam surat al -Israa ayat 33: “…sesungguhnya pendengaran penglihatan dan apa yang ada dalam hati akan dimintai pertanggungan jawabnya”.

Ada beberapa kisah yang menarik antara beliau dan guru tafsir beliau yang ingin ana ceritakan secara ringkas kepada antum sekalian.

Kisah Pertama bahwa guru beliau sebagaimana yang beliau ceritakan sangat pakar dalam tafsir qur’an akan tetapi lemah dalam ilmu hadits, karena tidak seorang alimpun yang sempurna ilmunya yang menguasai seluruh disiplin ilmu di dalam islam. Maka apabila guru beliau ingin mengajar atau berceramah dan membawakan hadits-hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka ia meminta kepada al ustadz untuk terlebih dahulu memeriksa tentang keadaan hadits tersebut apakah sah atau tidak hadits yang akan guru beliau bawakan.

Kisah yang kedua adalah pada waktu itu beliau telah mulai banyak menulis risalah-risalah tentang permasalahan-permasalahan agama diantaranya tentang hadits, maka diantara risalah yang beliau tulis adalah mengenai hadits-hadits tentang ancaman berdusta atas nama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (tulisan beliau ini di kemudian hari beliau masukan dalam kitab beliau diantaranya al masaail jilid yang pertama dengan judul ancaman berdusta atas nama rasulullah), maka tulisan beliau ini di baca oleh guru beliau dan guru beliau amat tertarik dengan tulisan beliau ini. Maka tanpa sepengetahuan beliau, guru beliau memfotokopikan tulisan beliau tersebut kemudian beliau bagikan kepada para kiayi di negri ini dalam rangka memberikan masukan ilmiyyah kepada para kiayi tentang permasalahan tersebut. Insya Allah bersambung akhi …
Adapun nama dari guru beliau al ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah adalah seperti nama salah seorang imam kita pembela sunnah yang sangat kita cintai yaitu al Imam as Syafi’i rahimahullahu ta’ala yang nama beliau adalah Muhammad bin Idris, “ya” guru beliau bernama Muhammad bin Idris rahimahullah seorang yang pakar dalam ilmu tafsir di negri kita ini. 


Sebenarnya tulisan ana bukanlah dalam rangka untuk membuat biografi beliau al ustadz dalam pengertian sebagaimana para penulis buku-buku atau karangan-karangan mengenai biografi dari seorang ulama, sehingga dijelaskanlah secara rinci yang berkaitan dengan ulama tersebut.

Akan tetapi tulisan ana tersebut sebagaimana diawal-awal tulisan ana, hanyalah ingin memberikan sebuah ibrah mengenai seorang guru yang telah mengajarkan kita kaum muslimin di negri ini secara umum tentang manhaj salafus shalih dan secara khusus ilmu-ilmu islam, terlebih lagi ilmu hadits yang beliau sangat berdalam-dalam disana.

Dan sekaligus memberikan bayan kepada sebagian ikhwan kita kaum muslimin atas apa-apa yang telah tersalah dari mereka mengenai informasi tentang beliau, dan kesalahan ini tersebar oleh dan atas mereka.

Maka jika antum ingin bersabar wahai saudara-saudaraku tunggulah lembaran kosong ini untuk kembali tergores dengan penaku tentang beliau hafizhahullah sebagai ibrah bagi kita, insya Allahu ta’ala…

Kitab Al-Masail adalah kitab yang ditulis sejak awak 80’an (lihat di muqadimah al-masail jilid 1 yang diterbitkan pertama kali di tahun 1996).
Berikut ini adalah beberapa bab tulisan beliau yang ditulis 80’an-90’an awal:

- Masalah 1 “Khutbah hajat” (syarahnya,beserta hadits rasulullah dan takhrij hadits, dibawakan hadits sebanyak 11 hadits) ditulis 27 Oktober 1986

- Masalah 7 “Tafsir Ayat 62 Surat Al Baqarah” ditulis bulan Juni 1990 ketika sedang maraknya faham kesatuan agama, semua agama sama (membantai Jaringan Islam Liberal La’natullah)

- Masalah 9 “Peringatan Kepada Penyembah Kubur” (membawa syarah dan dalil 22 hadits beserta takhrijnya ) ditulis tanggal 12 Agustus 1987 untuk membantah Quburiyun yang banyak sekali pada tahun tersebut.

- Masalah 10 “Bid’ahnya Berdzikir dengan Tasbih” (disertai penjelasan hadits maudhu’ dan dhoifatu jiddan tentang dizkir dengan tasbih, beserta hadits dhoif yang bertentangan dengan hadits shahih) ditulis tanggal 20 Oktober 1986

- Masalah 12 “Hadits – hadits pengharaman khamr” (disertai syarah dan membawakan 31 hadits, beserta penelitian akan hadits dengan perkataan simpulan semuanya berderajat hadis shahih dan hasan) ditulis tanggal 4 Oktober 1986

- Masalah 13 “Kelemahan hadits – hadits Mengusap Muka” (dijelaskan sanad2nya dan rijalul haditsnya) ditulis tanggal 5 Oktober 1985

- Masalah 14 “Dalil – Dalil shahih tentang mengangkat kedua tangan di waktu berdo’a (bantahan terhadap Nadwah0 “ (dibawakan hadits shahihnya,disyarah sanad hadits tersebut beserta rijalul hadits) ditulis bulan Ramadhan 1412 H

- Masalah 15 “Makna Idhul Fithri/Adha” ditulis akhir Ramadahn 1412 H/ awal April 1992

- Maslaah 16 “Kelemahan hadits Qunut Subuh Terus Menerus” (dengan penjelasan kelemahan sanad beserta rijalul haditsnya) ditulis bulan romadhan tanggal 3 Juni 1985

- Masalah 17 “Kepalsuan Hadits shalat Nisu Sya’ban” (dengan penjelasan kelemahan sanad beserta rijalul haditsnya) ditulis tanggal 3 Mei 1985

- Masalah 18 “ DImanakah tempat berdirinya Makmum apabila seorang? “ ditulis tanggal 21 Maret 1985

- Masalah 19 “Hukum membaca surat/ayat pada raka’at ke- 3 dan ke-4 dari shalat zhuhur, ashar, maghrib dan isya; “ ditulis tanggal 17 November 1984

- Masalah 20 “Derajat hadits tentang bacaan waktu berbuka puasa” dengan penjelasan kelemahan sanad beserta rijalul haditsnya) ditulis tanggal 7 November 1986

- Masalah 22 ”Derajat Hadits Shalat Tarawih 23 Raka’at ” (dengan penjelasan kelemahan sanad beserta rijalul haditsnya) ditulis tanggal 14 Maret 1986

- Masalah 23 “Adab berjalan ke masjid dan bacaan sewaktu masuk dan keluarnya” ditulis tanggal 28 Januari 1986

- Masalah 24 “Kelemahan hadits hadits tentang Fadhilah Surat Yasin” (dengan penjelasan kelemahan sanad beserta rijalul haditsnya) ditulis tanggal 15 Maret 1985

- Masalah 25 “Do’a Iftitah” ditulis tanggal 30 Agustus 1986

(http://ahlussunnah-batang.blogspot.com)


Read more »