DOA MUSTAJAB MEMBAKAR DAN MENGUSIR JIN

Kisah ini dituturkan oleh Imam Ibn Al-Qayyim (Murid Syaikh Ibnu Taimiyyah yang fatwa-fatwanya sering jadi rujukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab “wahabi”) dalam kitabnya Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim Ath-Thayyib. Saya (admin) menganjurkan setiap umat muslim mempraktekkan tekhnik ruqyah untuk mengusir jin ini (ada banyak tekhnik lainnya yang akan saya “bocorkan” ;) ) .
Para peruqyah wahabi sudah sangat jamak menggunakan tekhnik DOA ini dengan hasil yang sangat MENAKJUBKAN dan bisa dicontoh oleh peruqyah lainnya…………………

Tekhnik ini sangat bagus dan sangat syar’i dibandingkan dengan mengemis-ngemis minta bantuan khodam jin atau memakai jimat :)
Abu Nadhar Hasyim ibn Al-Qasim mengatakan, “Aku melihat dalam rumahku sesuatu makhluk, dan dia berkata kepadaku, ‘Wahai AbuNadhar, menyingkirlah engkau dari dekat kami.’ Hal itu sungguh menyulitkanku. Karena itu, aku menulis surat ke Kufah, kepada Ibn Idris,Al-Muharibiy, dan Abu Usamah. Al-Muharibiy membalas suratku dan menceritakan bahwa tali sebuah sumur di Madinah putus. Lalu beberapa orang mencoba turun untuk mengambilnya, tetapi tidak berhasil.Kemudian mereka meminta setimba air, dan membacakan beberapa bacaan, lalu menyiramkan air tersebut ke dalam sumur. Tiba-tiba keluar api  dari dalam sumur dan padam saat tiba di mulut sumur.” “Kemudian aku (Abu An-Nadhar) mengambil seember air, dan aku bacakan doa yang diberikan Al-Muharibiy, lalu aku siramkan air itu disudut-sudut rumah,tiba-tiba kudengar suara jeritan, ‘Engkau telah membakar kami, kami akan menyingkir dari dekatmu.’ Doa itu adalah:
Artinya :
“Dengan nama Allah, kami berada di sore ini dengan nama Allah Yang tiada sesuatu pun yang dapat menghalangi-Nya, dan dengan keagungan Allah Yang tidak bisa dikalahkan dan direndahkan. Dengan kekuasaan Allah Yang Maha Mencegah, kami berlindung, dan dengan seluruh nama-nama-Nya yang balk kami berlindung dart kejahatan iblis-iblis dan dart kejahatan setan-setan, baik dari golongan manusia maupun jin. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan segala sesuatu yang menampakkan diri dan menyembunyikan diri, dari kejahatan segala sesuatu yang keluar di malam hari dan bersembunyi di siang hari, dari kejahatan segala sesuatu yang menampakkan diri di siang hari dan bersembunyi di malam hari, .dan dari kejahatan segala sesuatu yang diciptakan-Nya, yang kotor dan yang bersih. Kami berlindung dari kejahatan Iblis dan pengikut-pengikutnya, dan dari kejahatan segala makhluk yang berada dalam kekuasaan-Mu. Sesungguhnya Tuhanku selalu menunjukkan jalan yang lurus. Aku berlindung kepada Allah dengan perlindungan yang dimohonkan oleh Musa, `Isa dan Ibrahim yang memenuhi janji, dari kejahatan segala sesuatu yang diciptakan-Nya, yang kotor dan yang bersih, dan dari kejahatan Iblis dan pengikut-pengikutnya, dan dari kejahatan segala sesuatu yang membangkang. Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dari kejahatan setan yang terkutuk Dengan nama Allah; Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Demi (rombongan) yang bersaf-saf dengan sebenar-benarnya. Dan Demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benamya (dari perbuatan maksiat), dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa. Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, dan Tuhan tempat-tempat terbit matahari. Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang. Dan telah memeliharanya (dengan se-benar-benarnya) dari setiap setan yang sangat durhaka. Setan-setan itu tidak dapat mencuri-dengar (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru, untuk mengusir mereka, dan bagi mereka siksaan yang kekal. Akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan), maka dia dikejar oleh kilatan api yang cemerlang” (QS. Ash-Shaffat: 1-10).
Aplikasi tekhnik ruqyah :
Baca Doa ini dengan khusyuk dan persiapan sempurna (berwudhu, tubuh suci dari hadats besar dan kecil) didalam seember air dicampur dengan garam , sewaktu membaca mulut kita didekatkan di air tersebut hingga sebagian ludah/hawa kita mengenai air tersebut, setelah membacanya lalu air tersebut di percikkan ditempat yang angker/ada gangguan jinnya (bisa dipercikkan melingkari tempat tersebut) / bisa juga langsung diguyurkan pada penderita gangguan jin, Insya Allah reaksinya keberhasilannya seketika (http://metafisis.wordpress.com)

Read more »

SHALAT KHAUF Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِن وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَىٰ لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (Sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka'at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bershalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata...” [An-Nisaa': 102].

Tata Caranya
Al-Khaththabi rahimahullah berkata, "Shalat khauf banyak ragamnya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melakukannya pada keadaan dan cara yang berbeda-beda. Masing-masing disesuaikan agar shalat terlaksana lebih baik dan lebih mendukung untuk pengawasan musuh. Sekalipun tata caranya berbeda, namun intinya tetap sama. [1]

1. Dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan shalat khauf satu raka’at bersama salah satu golongan, sementara golongan yang lain menghadap ke musuh. Kemudian golongan pertama berpaling dan menggantikan di tempat kawan-kawan mereka yang lain sambil menghadap ke arah musuh. Setelah itu, datanglah golongan kedua yang lalu shalat bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam satu raka’at. Lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam salam dan golongan kedua pun meneruskan satu raka’at, begitu juga dengan golongan yang pertama." [2]

2. Dari Sahl bin Abi Hatsmah Radhiyallahu anhu, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengimami para Sahabatnya pada waktu shalat khauf. Beliau membariskan mereka di belakangnya menjadi dua shaff. Kemudian beliau shalat satu raka’at bersama shaff yang dekat dengannya (shaff pertama). Setelah itu, beliau berdiri dan terus berdiri hingga para Sahabat di shaff pertama merampungkan satu raka’at (yang tersisa secara sendiri-sendiri). Kemudian para Sahabat di shaff kedua maju, dan golongan yang berada di shaff pertama mundur ke belakang. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengimami mereka (yang awal mulanya berada di shaff kedua) lalu duduk (dan menunggu) hingga mereka merampungkan satu raka’at (yang tertinggal). Kemudian beliau salam (beserta mereka)." [3]

3. Dari Jabir bin 'Abdillah Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Aku pernah shalat khauf bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau membariskan kami dalam dua shaff. Satu shaff di belakang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sementara musuh berada di antara kami dan kiblat. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bertakbir, lalu kami semua bertakbir. Ketika beliau ruku', kami semua pun ruku', kemudian bangkit dari ruku’, kami pun melakukannya besama-sama. Kemudian beliau dan shaff terdepan menyungkur sujud. Sedangkan shaff terakhir tetap berdiri menghadap musuh. Tatkala Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan shaff terdepan selesai sujud lalu berdiri, shaff belakang pun sujud lalu berdiri. Kemudian shaff belakang maju ke depan dan shaff yang di depan mundur. Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam ruku', dan kami semua pun ruku'. Dan ketika bangkit dari ruku’, kami pun bangkit bersama-sama. Kemudian beliau dan shaff pertama yang sebelumnya pada raka’at pertama berada di belakang, menyungkur sujud. Sementara shaff kedua berdiri menghadap ke musuh. Saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan shaff di belakang beliau selesai sujud, shaff belakang pun menyungkur sujud. Lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam salam, dan kemudian kami pun salam bersama-sama."[4]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Syarh Shahiih Muslim oleh an-Nawawi (VI/126).
[2]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (I/573 no. 839)], ini adalah lafazhnya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/429 no. 942), Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/118 no. 1230), Sunan at-Tirmidzi (II/39 no. 561), dan Sunan an-Nasa-i (III/171).
[3]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (I/575 no. 841)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (VII/422 no. 4131), dengan lafazh yang mirip. Sunan an-Nasa-i (III/170), dan Sunan at-Tirmidzi (II/40 no. 562).
[4]. Shahih: [Lafazh Shahiih Muslim], Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1456), Shahiih Muslim (I/574 no. 840), dan Sunan an-Nasa-i (III/175).
(http://almanhaj.or.id)

Read more »

SHALAT DUA HARI RAYA Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

A. Hukumnya
Shalat dua hari raya wajib bagi laki-laki dan perempuan. Karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa melaksanakannya serta memerintahkan orang-orang mendatanginya.

Dari Ummu 'Athiyah Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Kami diperintahkan untuk mengeluarkan para gadis dan wanita yang sedang dalam pingitan (untuk menghadiri shalat ‘Id)."[1]

Dari Hafshah binti Sirin, dia berkata, "Dahulu, ketika hari raya, kami pernah melarang gadis-gadis kami keluar. Kemudian datanglah seorang wanita yang singgah di istana Bani Khalaf.(*) Aku pun lantas mendatanginya. Dia bercerita bahwa suami saudarinya pernah ikut perang bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sebanyak dua belas kali peperangan. Saudarinya juga pernah menyertainya berperang sebanyak enam kali peperangan. Dia berkata,"Kami mengurusi orang-orang yang sakit dan mengobati orang-orang yang terluka." Dia berkata lagi,"Wahai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bolehkah salah seorang di antara kami tidak keluar jika tidak memiliki jilbab?" Beliau bersabda, "Hendaklah saudarinya memakaikan jilbab kepadanya. Kemudian hendaklah mereka menyaksikan kebaikan dan do’a orang-orang yang beriman."[2]

B. Waktunya
Dari Yazid bin Khumair ar-Rahabi, dia berkata, “'Abdullah bin Busr, Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, keluar bersama orang-orang pada hari raya ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha. Kemudian dia mengingkari keterlambatan imam. Dia berkata, ‘Dahulu kami selesai pada saat seperti ini, yaitu ketika tasbih.’” [3]

C. Keluar ke Tanah Lapang
Dari beberapa hadits terdahulu, diketahui bahwa tempat shalat ‘Id adalah tanah lapang, bukan masjid. Karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar ke sana dan orang-orang setelah beliau pun melakukan hal yang sama.

Apakah terdapat adzan dan iqamat?
Dari Ibnu 'Abbas dan Jabir bin 'Abdillah Radhiyallahu anhum, mereka berkata, "Tidak pernah terdapat adzan pada waktu (shalat) hari raya ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha.”[4]

Dari Jabir Radhiyallahu anhu, “Tidak ada adzan, iqamat, seruan tertentu atau apa saja untuk shalat ‘Idul Fithri, baik ketika imam keluar, ataupun setelah selesai. Pada hari tersebut tidak ada adzan dan iqamat." [5]

D. Tata Cara Shalat ‘Id
Shalat ‘Id terdiri dari dua raka’at. Pada kedua raka’at tersebut terdapat dua belas takbir. Tujuh pada raka’at pertama setelah takbiratul ihram sebelum memulai bacaan, dan lima pada raka’at kedua sebelum memulai bacaan.

Dari 'Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya: "Ketika melaksanakan dua shalat ‘Id, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertakbir tujuh kali pada raka’at pertama, dan lima kali pada raka’at terakhir."[6]

Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma: "Pada waktu shalat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adh-ha, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertakbir tujuh dan lima kali, selain dua takbir ruku'."[7]

E. Surat Yang Dibaca
Dari an-Nu'man bin Basyir: "Pada waktu shalat dua hari raya dan shalat Jum’at, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca sabbihisma rabbikal
a'laa dan hal ataaka hadiitsul ghaasyiyah." [8]

Dari 'Ubaidullah bin 'Abdillah, dia berkata, "'Umar keluar pada hari raya. Lantas dia mengirim surat ke Abu Waqid al-Laitsi yang isinya, "Pada waktu hari raya seperti ini, (surat) apa yang dibaca Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ?" Dia menjawab, "(Surat) Qaaf dan Waqtarabat." [9]

F. Khutbah Setelah ‘Id
Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Aku pernah menghadiri shalat ‘Id bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, 'Umar, dan 'Utsman Radhiyallahu anhum. Masing-masing melaksanakan shalat sebelum khutbah." [10]

G. Shalat Sunnah Sebelum Dan Sesudahnya
Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma : "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat ‘Idul Fithri dua raka’at. Beliau tidak melakukan shalat sebelum dan sesudahnya."[11]

H. Hal-Hal Yang Disunnahkan Pada Waktu Hari Raya
1. Mandi
Dari 'Ali Radhiyallahu anhu, dia ditanya tentang mandi, lalu dia berkata: "(Ketika) hari Jum’at, hari 'Arafah, hari raya ‘Idul Fithri, dan ‘Idul Adh-ha."(*)

2. Mengenakan Pakaian Terbaik
Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengenakan pakaian merah bermotif pada waktu hari raya." [12]

3. Makan Sebelum Keluar Pada Waktu Hari Raya ‘Idul Fithri
Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Tidaklah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar di pagi hari raya Idul Fithri melainkan makan beberapa buah kurma terlebih dahulu." [13]

4. Mengakhirkan Makan Ketika Hari Raya ‘Idul Adh-ha Hingga Makan dari Sembelihannya.
Dari Abu Buraidah Radhiyallahu anhu, "Tidaklah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar di hari raya ‘Idul Fithri (untuk melakukan shalat ‘Id) melainkan makan terlebih dahulu. Dan tidaklah beliau makan pada waktu
hari raya ‘Idul Qurban kecuali setelah menyembelih." [14]

5. Menempuh Jalan yang Berbeda (Ketika Pergi dan Pulang)
Dari Jabir : "Ketika hari raya, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengambil jalan yang berbeda."[15]

6. Bertakbir pada Kedua Hari Raya
Allah berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“... dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” [Al-Baqarah: 185].

Ayat ini berkenaan dengan ‘Idul Fithri.

Mengenai 'Idul Adh-ha, Allah berfirman:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang...” [Al-Baqarah: 203].

Dan firman-Nya:

كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ

“... Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepadamu...” [Al-Hajj: 37]

Waktu bertakbir pada hari raya ‘Idul Fithri semenjak keluar menuju tanah lapang sampai shalat akan ditegakkan

Ibnu Abi Syaibah rahimahullah berkata [16] , “Yazid bin Harun meriwayatkan kepada kami dari Ibnu Abi Dzi'b, dari az-Zuhri, ‘Ketika hari raya 'Idul Fithri, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar sambil bertakbir hingga tiba di tanah lapang. Bahkan hingga ketika akan shalat. Seusai beliau shalat, beliau hentikan takbir.’”

Al-Albani rahimahullah berkata,(*) "Sanadnya shahih mursal. Diriwayatkan pula dari jalur lain, dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma secara marfu' yang dikeluarkan oleh al-Baihaqi (III/279), dari jalan 'Abdullah Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma, dari Nafi', dari 'Abdullah Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma: "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar pada waktu dua hari raya bersama al-Fadhl bin 'Abbas, 'Abdullah bin 'Abbas, 'Ali, Ja'far, al-Hasan, al-Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Aiman bin Ummi Aiman sambil mengeraskan tahlil dan takbir. Beliau menempuh jalan al-Hadzdzaa'iin hingga tiba di tempat shalat. Tatkala selesai, beliau pulang melalui al- Hadzdzaa'iin hingga sampai di rumah." Al-Baihaqi berkata, "Riwayat ini lebih baik daripada yang pertama tadi."

Saya (al-Albani) berkata, "Para perawinya terpercaya. Mereka adalah para perawi Muslim, kecuali 'Abdullah Ibnu 'Umar, yaitu al-'Umari. Adz-Dzahabi berkata, "Tepercaya tapi ada masalah dalam hafalannya." Adz-Dzahabi dan selainnya dalam rumusnya menyatakan bahwa dia termasuk perawi Muslim. Perawi semisal ini dapat dijadikan sebagai penguat. Dia adalah penguat yang bagus untuk hadits mursal dari az-Zuhri. Menurut saya hadits tersebut shahih, baik secara mauquf maupun marfu, wallahu a'lam."

Waktu takbir hari raya ‘Idul Adh-ha dari shubuh hari 'Arafah hingga 'Ashar di akhir hari tasyriiq (13 Dzul Hijjah, yaitu saat terbenamnya matahari-ed.)

Berdasarkan hadits shahih dari 'Ali, Ibnu 'Abbas, dan Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu.[17]

Lafazh takbir banyak ragamnya. ‘Riwayat Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhuma menyebutkan dengan lafazh genap. Dia bertakbir pada hari tasyriiq dengan lafazh, "Allaahu akbar, Allaahu akbar, laa ilaaha illallaah, Allaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahil hamd."

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan lafazh tersebut (II/167) dengan sanad shahih. Akan tetapi dia menyebutkannya di tempat lain dengan sanad yang sama dengan takbir tiga kali. Al-Baihaqi (III/ 315) juga meriwayatkannya dari Yahya bin Sa'id dari al-Hakam, yaitu Ibnu Farwah Abu Bakar dari 'Ikrimah dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma dengan takbir tiga kali. Sanadnya juga shahih."[18]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/463 no. 974)], Shahiih Muslim (II/605 no. 890), Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/487 no. 1124), Sunan at-Tirmidzi (II/25 no. 537), Sunan Ibnu Majah (I/414 no. 1307), dan Sunan an-Nasa-i (III/180).
(*). Suatu tempat di Bashrah. Lihat Mu'jamul Buldaan,-ed.
[2]. Muttafaq 'alaihi: [Al-Misykaah (no. 1431)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/469 no. 980).
[3]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 1005)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/486 no. 1123), Sunan Ibni Majah (I/418 no. 1317). Tasbih adalah waktu ketika matahari telah naik, berlalunya waktu yang dimakruhkan untuk shalat, dan masuknya waktu shalat subhah, yaitu nafilah (sunnah). Lihat ‘Aunul Ma’buud (III/486).
[4]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/451 no. 960)], Shahiih Muslim (II/604 no. 886).
[5]. Cuplikan dari hadits sebelumnya pada riwayat Muslim.
[6]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibnu Majah (no. 1057)], al-Misykaah (no. 1441), dan Sunan Ibnu Majah (I/407 no. 1279).
[7]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 639)], Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1058), Sunan Ibni Majah (I/407 no. 1280), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/6, 7 no. 37, 1138).
[8]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 644)], Shahiih Sunan Ibnu Majah (no. 1281), Shahiih Muslim (II/598 no. 878), Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/472 no. 1109), Sunan at-Tirmidzi (II/22 no. 531), Sunan an-Nasa-i (III/184), dan Sunan Ibnu Majah (I/408/1281), tanpa kalimat: "Dan shalat Jum’at".
[9]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (III/118)], Shahiih Sunan Ibnu Majah (no. 106), Shahiih Muslim (II/607 no. 891), Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/15 no. 1142), Sunan at-Tirmidzi (II/23 no. 532), Sunan an-Nasa-i (III/183), dan Sunan Ibni Majah (I/408 no. 1282).
[10]. Shahih: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/453 no. 962)], Shahiih Muslim (II/602 no. 884).
[11]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/453 no. 964)], Shahiih Muslim (II/606 no. 884), dan Sunan an-Nasa-i (III/193).
(*). Telah disebutkan takhrijnya.
[12]. Sanadnya jayyid: [Ash-Shahiihah (no. 1279)], al-Haitsami berkata dalam Majmaa'uz Zawaaid (II/201), "Ath-Thabrani meriwayatkannya dalam al-Ausath, dan para perawinya terpercaya."
[13]. Shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 448)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/446 no. 953), dan Sunan at-Tirmidzi (II/27 no. 541).
[14]. Shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 447)], Shahiih Ibni Khuzaimah (II/341 no. 1426), dan Sunan at-Tirmidzi (II/27 no. 540), dengan lafazh:"Sampai mengerjakan shalat."
[15]. Shahih: [Al-Misykaah (no. 1434)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/472 no. 986).
[16]. Shahih: [Ash-Shahihah (171)], (II/146).
(*). Al-Irwaa’ (III/123).
[17]. Diriwayatkan dari 'Ali bin Abu Syaibah (II/165), dari dua jalur. Salah satunya baik. Dari jalur ini pula al-Baihaqi meriwayatkan (III/314). Diriwayatkan pula semisalnya dari Ibnu 'Abbas c dengan sanad shahih. Al-Hakim juga meriwayatkan darinya serta Ibnu Mas'ud z (I/300). Lihat Irwaa’ul Ghaliil (III/125).
[18]. Irwaa’ul Ghaliil (III/125).(Sumber : http://almanhaj.or.id)

Read more »

SHALAT JUM'AT Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

Melaksanakan shalat Jum’at adalah fardhu 'ain bagi setiap muslim, kecuali lima orang: hamba sahaya, wanita, anak-anak, orang sakit, atau musafir. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [al-Jumu'ah: 9].

Dari Thariq bin Syihab, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

اَلْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِيْ جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةٌ: عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ، أَوِ امْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ، أَوْ مَرِيْضٌ.

"Shalat Jum’at dengan berjama'ah wajib bagi setiap muslim kecuali empat orang: hamba sahaya, wanita, anak-anak, atau orang sakit." [1]

Dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لَيْسَ عَلَى الْمُسَافِرِ جُمُعَةٌ.

"Shalat Jum’at tidak wajib bagi musafir." [2]

A. Anjuran Untuk Melaksanakannya
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَنِ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ، ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ، ثُمَّ يُصَلِّيْ مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى وَفُضِّلَ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ.

"Barangsiapa mandi, kemudian datang ke masjid untuk shalat Jum’at, lalu shalat (sunnah) semampunya. Setelah itu diam sambil mendengarkan khatib berkhutbah hingga selesai, lantas shalat berjama’ah bersamanya, maka diampunilah dosanya ketika itu hingga Jum’at yang akan datang, dan dilebihkan tiga hari."[3]

Dan juga darinya, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسِ، الْجُمُعَةُ إِلَـى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَـانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ.

"Shalat lima waktu, dari (shalat) Jum’at ke (shalat) Jum’at yang lain, dan dari (puasa) Ramadhan ke (puasa) Ramadhan yang lain adalah penghapus dosa-dosa kecil di antara waktu-waktu tersebut selama tidak melakukan dosa besar."[4]

Peringatan agar tidak menyepelekannya
Dari Ibnu 'Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu anhuma, mereka berdua mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda di atas mimbar kayunya:

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَـاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوْبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُوْنُنَّ مِنَ الْغَافِلِيْنَ.

"Hendaklah orang-orang benar-benar berhenti meninggalkan shalat Jum’at. Atau Allah akan menutup hati mereka sehingga mereka benar-benar menjadi orang-orang yang lalai."[5]

Dari 'Abdullah, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada orang-orang yang meninggalkan shalat Jum’at:

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ رَجُلاً يُصَلِّيْ بِالنَّـاسِ، ثُمَّ أَحْرِقُ عَلَى رِجَالٍ يَتَخَلَّفُوْنَ عَنِ الْجُمُعَةِ بُيُوْتَهُمْ.

"Aku benar-benar ingin menyuruh seseorang agar mengimami manusia. Kemudian aku bakar rumah seluruh laki-laki yang meninggalkan shalat Jum’at." [6]

Dari Abu Ja'd adh-Dhamri Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَْنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللهُ عَلَى قَلْبِهِ.

"Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jum’at karena menyepelekannya, Allah akan menutup hatinya." [7]

Dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمُعَاتٍ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ كُتِبَ مِنَ الْمُنَافِقِيْنَ.

"Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jum’at tanpa 'udzur, maka dia dicatat dalam golongan orang-orang munafik." [8]

B. Waktunya
Waktunya sebagaimana shalat Zhuhur, namun dibolehkan sebelumnya
Dari Anas Radhiyallahu anhu : "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat Jum’at ketika matahari sedang tergelincir." [9]

Dari Jabir bin 'Abdullah Radhiyallahu anhu, dia ditanya, "Kapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat Jum’at?" Dia menjawab, "Setelah beliau melakukan shalat tersebut, lantas kami mendatangi unta-unta kami. Lalu kami menjalankannya sedang matahari tergelincir."[10]

C. Khutbah
Hukumnya wajib. Karena beliau senantiasa melakukannya dan tidak pernah meninggalkannya sama sekali. Juga berdasarkan sabda beliau:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ.

"Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat."[11]

1. Petunjuk beliau dalam khutbah
Beliau pernah bersabda:

إِنًَّ طُوْلَ صَلاَةِ الرَّجُلِِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ، فَأَطِيْلُوا الصَّلاَةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ، وَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا.

"Sesungguhnya panjang shalat dan singkatnya khutbah seseorang menunjukkan kefaqihannya (kefahamannya). Maka panjangkan shalat dan persingkatlah khutbah. Sesungguhnya kata-kata yang indah ibarat sihir." [12]

Dari Jabir bin Samurah, dia berkata, "Aku pernah shalat bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam selama beberapa kali. Shalat dan khutbah beliau seimbang." [13]

Dari Jabir bin 'Abdullah Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah, kedua mata beliau memerah, suaranya meninggi, dan semangatnya berkobar. Seolah-olah beliau memperingatkan pasukan sambil berkata, "Musuh kalian akan datang pada pagi dan petang!" [14]

2. Khutbatul Haajah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengawali khutbah, nasihat, dan ceramah, serta berbagai pelajarannya dengan khutbah ini, yaitu yang dikenal dengan khutbatul Haajah. Bunyinya sebagai berikut:

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِـاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْـكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Sesungguhnya, segala puji hanya bagi Allah. Kami memujinya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kami juga berlindung kepada-Nya dari kejahatan jiwa kami, serta keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa ditunjuki oleh Allah, maka tidak ada yang mampu menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh-Nya, maka tidak ada yang mampu menunjukinya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” [Ali 'Imran: 102]

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu." [An-Nisaa': 1].

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” [Al-Ahzaab: 70-71]

أَمَّا بَعْدُ:
فَإِنًَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan (dalam agama). Karena setiap pekara yang diada-adakan adalah bid'ah. Dan setiap bid'ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.

"Barangsiapa merenungkan khutbah-khutbah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam beserta para ٍSahabatnya, maka dia akan mendapatkan banyak pelajaran tentang petunjuk, tauhid, sifat-sifat Allah Azza wa Jalla, pokok-pokok iman secara menyeluruh, dan dakwah ke jalan Allah. Begitupula nikmat-nikmat-Nya yang membuat para makhluk cinta kepada-Nya, juga hari pembalasan beserta adzab-adzab yang menakutkan. Terdapat juga perintah terhadap makhluk agar senantiasa berdzikir dan bersyukur kepada-Nya. Hal ini membuat mereka dicintai Allah. Sehingga mereka selalu ingat dengan keagungan Allah, sifat-sifat, dan asma'-Nya yang membuat-Nya cinta kepada para hamba-Nya. Lalu mereka pun diperintahkan agar taat, bersyukur, dan berdzikir. Hal ini membuat mereka cinta kepada-Nya. Setelah itu para pendengar akan pulang dengan perasaan cinta kepada Allah, dan Allah pun mencintai mereka. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam seringkali menyampaikan khutbah dengan al-Qur-an dan surat Qaaf." [15]

Ummu Hisyam binti al-Harits bin an-Nu'man Radhiyallahu anhu berkata, "Tidaklah aku menghafal surat Qaaf melainkan dari lisan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam saat menyampaikan khutbah dengan surat tersebut di atas mimbar." [16]

3. Wajibnya diam dan larangan berbicara ketika khutbah berlangsung
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا قُلْتَ لِصَـاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَاْلإِمَـامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ.

"Jika pada hari Jum’at, saat khatib sedang khutbah engkau berkata pada temanmu "diam!", maka engkau telah mengucapkan kata yang sia-sia (perkataan yang bathil)." [17]

4. Kapankah seseorang dianggap masih mendapatkan shalat Jum’at?
Shalat Jum’at terdiri dari dua raka’at yang dikerjakan secara berjama’ah. Barangsiapa meninggalkan jama’ah shalat Jum’at karena memang tidak wajib baginya atau ada halangan, maka dia shalat Zhuhur empat raka’at. Barangsiapa mendapati satu raka’at shalat Jum’at bersama imam, maka dia telah mendapatkan shalat Jum’at.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ صَلاَةِ الْجُمُعَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ.

"Barangsiapa mendapati satu raka’at dari shalat Jum’at, maka dia telah mendapatkan shalat." [18]

5. Shalat sunnah sebelum dan sesudah shalat Jum’at
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ أَتَـى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ، ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّـى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ، ثُمَّ يُصَلِّي مَعَهُ، غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى وَفُضِّلَ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ.

"Barangsiapa mandi pada hari Jum’at, kemudian datang ke masjid untuk shalat Jum’at, lalu shalat (sunnah) semampunya. Setelah itu diam sambil mendengarkan khatib berkhutbah hingga selesai, lantas shalat berjama’ah dengannya, maka di-ampunilah dosanya antara Jum’at itu dan Jum’at yang lain, dan dilebihkan tiga hari." [19]

Barangsiapa datang sebelum shalat Jum’at dimulai, maka hendaklah shalat sunnah semampunya hingga imam tiba. Adapun yang pada zaman ini dikenal sebagai shalat sunnah qabliyyah Jum’at, maka tidak ada dasarnya sama sekali. Sesungguhnya yang dikenal adalah: "Jika Bilal selesai adzan, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memulai khutbah. Tidak seorang pun melakukan shalat dua raka’at. Tidak pula terdapat adzan melainkan satu kali. Jadi, kapan mereka melakukan shalat sunnah tersebut?" [20]

Adapun seusai shalat Jum’at, maka boleh shalat empat atau dua raka’at sesuai keinginan.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا.

"Jika salah seorang di antara kalian telah melaksanakan shalat Jum’at, maka hendaklah shalat empat raka’at sesudahnya." [21]

Dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhu : "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak shalat setelah Jum’at hingga beliau pulang dan shalat dua raka’at di rumahnya."[22]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 942)], Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 3111), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/394 no. 1054), ad-Daraquthni (II/3 no. 2), al-Baihaqi (III/172), dan Mustadrak al-Hakim (I/288).
[2]. Ad-Daraquthni (II/4 no. 4).
[3]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 6062)], Shahiih Muslim (II/587 no. 857).
[4]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 3875)], Shahiih Muslim (I/209 no. 233 (16)), dan Sunan at-Tirmidzi (I/138 no. 214), tanpa kalimat: “وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ (dan Ramadhan ke Ramadhan).”
[5]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 5480)], Shahiih Muslim (II/591 no. 865), dan Sunan an-Nasa-i (III/88).
[6]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 5142)], Shahiih Muslim (I/452 no. 652).
[8]. Hasan Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 923)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/377 no. 1039), Sunan at-Tirmidzi (II/5 no. 498), Sunan an-Nasa-i (III/88), dan Sunan Ibni Majah (I/357 no. 1125).
[9]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 6144)], ath-Thabrani dalam ash-Shagiir (I/170 no. 422).
[10]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 960)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/386 no. 904), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/427 no. 1071), dan Sunan at-Tirmidzi (II/7 no. 501).
[11]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 597)], Shahiih Muslim (II/588 no. 858 (29)).
[12]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 262)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/111 no. 631).
[13]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 2100)], Irwaa’ul Ghaliil (no. 618), Shahiih Muslim (II/594 no. 869).
[14]. Shahih: [Shahih Sunan at-Tirmidzi (no. 418)], Shahiih Muslim (II/591 no. 886), dan Sunan at-Tirmidzi (II/9 no. 505).
[15]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 4711)], Irwaa’ul Ghaliil (no. 611), Shahiih Muslim (II/591 no. 866), dan Sunan at-Tirmidzi (II/9 no. 505).
[16]. Zaad al-Ma'aad (I/116).
[17]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/414 no. 934)], Shahiih Muslim (II/582 no. 851), Sunan an-Nasa-i (III/104), Sunan Ibni Majah (I/352 no. 1110), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/460 no. 1099) secara ringkas, dan Sunan at-Tirmidzi (II/12 no. 5111) dengan lafazh yang mirip.
[18]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 911)], Sunan an-Nasa-i (III/112), dan Sunan Ibni Majah (I/356 no. 1110) dengan lafazh yang serupa.
[19]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 622)], Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 5999), Sunan an-Nasa-i (III/112), dan Sunan Ibni Majah (I/356 no. 1121) dengan lafazh yang serupa.
[20]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 6062)], Shahiih Muslim (II/587 no. 857).
[21]. Zaad al-Ma'aad (I/118).
[22]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 625)], Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 640), Shahiih Muslim (II/600 no. 882), dan lafazh ini miliknya, Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/481 no. 1118), dan Sunan at-Tirmidzi (II/17 no. 522).
[23]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (II/600 no. 822 (71))], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/425 no. 937), dalam riwayatnya tidak terdapat lafazh: "Di rumahnya."

D. Adab-Adab Pada Hari Jum’at
1. Disunnahkan bagi orang yang hendak menghadiri shalat Jum’at agar mengamalkan beberapa hadits berikut ini:

Dari Salman al-Farisi, dia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنَ الطُّهْرِ، وَيُدَهِّنُ مِنْ دُهْنِهِ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيْبِ بَيْتِهِ، ثُمَّ يَخْـرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ، ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ، ثُمَّ يَنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ اْلإِمَامُ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى.

"Tidaklah seorang laki-laki mandi pada hari Jum’at, lalu bersuci dengan sebaik-baiknya. Setelah itu berminyak rambut atau memakai wangi-wangian dari rumahnya. Kemudian keluar (menuju masjid), tidak memisahkan antara dua orang, lalu shalat sunnah semampunya. Lantas diam ketika imam berkhutbah, melainkan diampuni dosanya antara Jum’at itu dan Jum’at yang lain." [1]

Dari Abu Sa'id Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Barangsiapa mandi pada hari Jum’at, mengenakan baju terbaiknya, dan mengenakan minyak wangi, jika ada. Kemudian menghadiri shalat Jum’at dan tidak melangkahi orang-orang. Setelah itu shalat semampunya lantas diam ketika imam keluar hingga selesai shalat. Maka itu semua adalah penghapus dosa antara Jum’at itu dan Jum’at sebelumnya." [2]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ كَانَ عَلَى كُلِّ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ مَلاَئِكَةٌ يَكْتُبُوْنَ النَّاسَ عَلَى قَدْرِ مَنَازِلِهِمُ اْلأَوَّلُ فَاْلأَوَّلِ، فَإِذَا جَلَسَ اْلإِمَامُ طَوُوا الصُّحُفَ وَجَاؤُوْا يَسْتَمِعُوْنَ الذِّكْرَ، وَمَثَلُ الْمُهَجِّرِ كَمَثَلِ الَّذِيْ يُهْدِي بَدَنَةً، ثُمَّ كَالَّذِيْ يُهْدِي بَقَرَةً، ثُمَّ كَالَّذِيْ يُهْدِي الْكَبْشَ، ثُمَّ كَالَّذِيْ يُهْدِي الدَّجَاجَةَ، ثُمَّ كَالَّذِيْ يُهْدِي الْبَيْضَةَ.

"Jika hari Jum’at tiba, maka sepada tiap pintu-pintu masjid terdapat para Malaikat. Mereka mencatat orang-orang berdasarkan kedudukan mereka. Yang datang pertama mendapat kedudukan pertama. Jika imam duduk, maka mereka menutup lembar catatan dan masuk untuk mendengar dzikir (khutbah). Perumpamaan orang yang datang di awal waktu ibarat orang yang berkurban dengan unta. Setelah itu seperti orang yang berkurban dengan sapi. Kemudian seperti orang yang berkurban dengan domba. Lalu seperti orang yang berkurban dengan ayam. Berikutnya lagi seperti orang yang berkurban telur." [3]

2. Beberapa Dzikir Dan Do’a Yang Disunnahkan Pada Hari Jum’at:
a. Memperbanyak shalawat dan salam atas Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam

Dari Aus bin Aus, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَفْضَلَ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيْهِ قُبِضَ، وَفِيْهِ النَّفْخَةُ، وَفِيْهِ الصَّعِقَةُ، فَأَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيْهِ، فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَكَيْفَ تُعْرِضُ عَلَيْكَ صَلاَتَنَا وَقَدْ أَرَمْتَ؟ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ k حَرَّمَ عَلَى اْلأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ اْلأَنْبِيَاءِ.

"Sesungguhnya seutama-utama hari kalian adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan dan diwafatkan. Pada hari itu pula sangkakala (kedua) ditiup dan manusia dimatikan (tiupan sangkakala pertama.-ed.) pada hari itu perbanyaklah mengucap shalawat atasku. Karena sesungguhnya shalawat kalian sampai kepadaku." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami sampai kepada engkau, padahal jasad engkau telah rusak?" Beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengharamkan bumi memakan (merusak) jasad para Nabi." [4]

b. Membaca surat al-Kahfi
Dari Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِيْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ النُّوْرُ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ.

"Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at, maka terdapat cahaya yang meneranginya di antara dua Jum’at." [5]

c. Memperbanyak do’a sambil mengharap waktu yang mustajab
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اِثْنَتَـا عَشْرَةَ سَاعَةً، لاَ يُوْجَدُ فِيْهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ k شَيْئًا إِلاَّ اَتَاهُ إِيَّاهُ، فَالْتَمِسُوْهَا آخِرَ سَـاعَةٍ بَعْدَ صَلاَةِ الْعَصْرِ.

"Hari Jum’at terdiri dari dua belas waktu. Tidak ada seorang hamba muslim pun yang saat itu meminta pada Allah melainkan Allah mengabulkannya. Carilah ia (waktu yang mustajab) di akhir waktu tersebut, yaitu setelah shalat 'Ashar." [6]

3. Shalat Jum’at di masjid jami'
Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Dulu pada hari Jum’at orang-orang berbondong-bondong dari rumah-rumah mereka dan dataran tinggi..."[7]

Dari az-Zuhri rahimahullah, "Dahulu penduduk Dzul Hulaifah berkumpul bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Padahal jaraknya enam mil dari Madinah."[8]

Dari 'Atha' bin Abi Rabbah rahimahullah, dia berkata, "Dahulu penduduk Mina menghadiri shalat Jum’at di Makkah." [9]

Al-Hafizh berkata dalam at-Talkhish (II/55), "Tidak ada riwayat yang mengatakan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengizinkan seseorang mendirikan shalat Jum’at di beberapa masjid di Madinah. Tidak pula di desa-desa terdekat."

4. Hari raya (‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha) bertepatan dengan hari Jum’at [10]
Jika hari raya terjadi (bertepatan) pada hari Jum’at, maka gugurlah kewajiban shalat Jum’at bagi yang telah melakukan shalat ‘Id.

Dari Zaid bin Arqam Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Nabi Shallallahu 'alaihi shalat ‘Id kemudian memberi keringanan dalam shalat Jum’at. Beliau bersabda:

مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ.

"Barangsiapa ingin shalat, maka shalatlah."[11]

Disunnahkan agar imam mendirikan shalat Jum’at agar orang yang ingin melaksanakannya dan orang yang tidak shalat ‘Id melaksanakannya
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قَدِ اجْتَمَعَ فِـيْ يَوْمِكُمْ هذَا عِيْدَانِ، فَمَنْ شَـاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّا مُجَمِّعُوْنَ.

"Pada hari ini telah berlangsung dua hari raya. Barangsiapa telah melakukan shalat ‘Id, maka dia boleh meninggalkan shalat Jum’at. Namun, kami akan melakukan shalat Jum’at." [12]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 7736)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/370 no. 883).
[2]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 6066)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/7 no. 339).
[3]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 775)], Shahiih Muslim (II/587 no. 850), Sunan an-Nasa-i (III/98), dan Sunan Ibni Majah (I/347 no. 1092).
[4]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 889)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/370 no. 1034), Sunan Ibni Majah (I/345 no. 1085), dan Sunan an-Nasa-i (III/91).
[5]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 626)], Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 6470), Mustadrak al-Hakim (II/368), dan al-Baihaqi (III/249).
[6]. Shahih: Abu Dawud, an-Nasa-i, dan al-Hakim meriwayatkan lafazh ini. Dia berkata: "Shahih berdasarkan syarat Muslim [Shahih at-Targhiib (no. 705)], Shahiih Muslim (II/584 no. 853).
[7]. Muttafaq 'alaihi: [Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/380 no. 1042)], secara ringkas, ini adalah bagian dari hadits panjang yang diriwayatkan dalam Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/385 no. 902), dan Shahiih Muslim (II/ 581 no. 847).
[8]. Al-Baihaqi (III/175).
[9]. Al-Baihaqi (III/175).
[10]. Fiqhus Sunnah (I/267).
[11]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibnu Majah (no. 1082)], Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/407 no. 1057), dan Sunan Ibni Majah (I/415 no. 1310).
[12]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibnu Majah (no. 1083)], Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/410 no. 1060), dan Sunan Ibni Majah (I/416 no. 1311), dari hadits Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma. 


Read more »

SHALAT ORANG YANG MELAKUKAN SAFAR Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

A. Orang yang Sedang Safar Wajib Mengqashar Shalat Zhuhur, 'Ashar, dan 'Isya'
Allah berfirman:

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَن يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُّبِينًا

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu.” [An-Nisaa': 101]

Dari Ya'la bin Umayyah, dia menanyakan ayat ini pada 'Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu. Dia berkata:

إِنْ خِفْتُمْ أَن يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا

“... jika kamu takut diserang orang-orang kafir...” [An-Nisaa: 101]
.
Padahal orang-orang sudah dalam keadaan aman. 'Umar berkata, "Dulu, aku juga bingung dengan masalah ini sebagaimana kamu. Lalu aku menanyakannya pada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Lantas beliau bersabda:

صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللهُ بِهَا عَلَيْكُمْ، فَاقْبَلُوْا صَدَقَتَهُ.

"Itu adalah shadaqah dari Allah untuk kalian. Maka, terimalah shadaqah-Nya." [1]

Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Melalui lisan Nabi kalian, Allah mewajibkan shalat empat raka’at dalam keadaan mukim, dua raka’at ketika safar, dan satu raka’at ketika dalam keadaan takut." [2]

Dari 'Umar Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Shalat dalam safar dua raka’at, shalat Jum’at dua raka’at, shalat Idul Fithri dan Idul Adh-ha dua raka’at. Sempurna, tidak diqashar. Berdasarkan ucapan Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam." [3]

Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Pertama kali, shalat diwajibkan dua raka’at. Kemudian hal ini ditetapkan bagi shalat dalam keadaan safar. Sedangkan pada saat mukim dikerjakan secara lengkap (4 raka’at)." [4]

Dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Aku pernah menemani perjalanan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan beliau tidak pernah shalat lebih dari dua raka’at hingga Allah mewafatkannya. Pernah juga aku menyertai perjalanan Abu Bakar, dan dia juga tidak pernah shalat lebih dari dua raka’at hingga Allah mewafatkannya. Aku pun pernah bepergian bersama 'Umar, dan dia juga tidak pernah shalat lebih dari dua raka’at hingga Allah mewafatkannya. Aku juga pernah safar bersama 'Utsman, dia tidak pernah shalat lebih dari dua raka’at hingga Allah mewafatkannya. Allah berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya, pada Rasulullah benar-benar terdapat teladan yang baik bagi kalian...” [Al-Ahzaab: 21] [5]

B. Batasan Jarak Shalat Qashar
Para ulama memiliki banyak pendapat yang berbeda dalam menentukan batasan jarak diperbolehkannya mengqashar shalat. Sampai-sampai Ibnu al-Mundzir dan yang lainnya menyebutkan lebih dari dua puluh pendapat dalam masalah ini. Yang rajih (kuat) adalah, "Pada dasarnya, tidak ada batasan jarak yang pasti. Kecuali yang disebut safar dalam bahasa Arab, yaitu bahasa yang digunakan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam saat berkomunikasi dengan mereka (orang-orang Arab). Jika memang safar mempunyai batasan selain dari apa yang baru saja kami kemukakan, tentu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak akan lupa menjelaskannya. Para Sahabat pun tidak akan lalai menanyakan hal tersebut pada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka juga tidak akan bersepakat untuk mengabaikan penukilan riwayat yang menjelaskan batasan tersebut kepada kita." [6]

C. Tempat Diperbolehkannya Mengqashar Shalat
Mayoritas ulama berpendapat bahwa, disyari'atkan mengqashar shalat ketika telah meninggalkan tempat mukim dan keluar dari daerah tempat tinggal. Ini adalah syarat. Dan tidaklah disempurnakan shalat (4 raka’at) sampai memasuki rumah pertama (di dalam tempat tinggalnya). Ibnul Mundzir berkata, "Aku tidak mengetahui bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan qashar dalam beberapa safarnya kecuali beliau telah keluar dari Madinah. Anas Radhiyallahu anhu berkata, "Aku shalat Dzuhur empat raka’at bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di Madinah. Sedangkan di Dzul Hulaifah dua raka’at." [7]

Jika seorang musafir tinggal di suatu daerah untuk menunaikan suatu kepentingan, namun tidak berniat mukim, maka dia melakukan qashar hingga meninggalkan daerah tersebut.

Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tinggal di Tabuk selama dua puluh hari sambil tetap mengqashar shalat."[8]

Ibnul Qayyim berkata, "Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah mengatakan pada umat, ‘Janganlah seseorang mengqashar shalat jika tinggal lebih lama dari itu.’ Hanya kebetulan saja lama tinggal beliau bertepatan dengan masa tersebut."[9]

Jika seseorang berniat mukim, maka dia shalat secara lengkap setelah sembilan belas hari. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhu, "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tinggal selama sembilan belas hari sambil melakukan qashar. Jika kami melakukan safar selama sembilan belas hari, maka kami melakukan qashar. Dan jika lebih dari itu, maka kami menyempurnakan shalat." [10]

D. Menjama' Dua Shalat
Sebab-sebabnya:

1. Safar
Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bepergian sebelum matahari tergelincir, beliau akhirkan Zhuhur hingga waktu 'Ashar. Beliau turun dari kendaraannya lalu menjama' keduanya. Dan jika matahari sudah tergelincir sebelum melakukan perjalanan, maka beliau shalat Zhuhur lalu naik kendaraan." [11]

Dari Mu'adz Radhiyallahu anhu: "Saat terjadinya perang Tabuk, jika Nabi Shallallahu 'alaihi wa salalm bepergian sebelum matahari tergelincir, beliau akhirkan Zhuhur sampai waktu 'Ashar. Kemudian beliau menjama' kedua shalat tersebut. Jika bepergian sesudah matahari tergelincir, beliau menjama' shalat Zhuhur dengan 'Ashar lalu berangkat. Bila bepergian sebelum Maghrib, beliau akhirkan Maghrib hingga menjama'nya dengan 'Isya. Bila bepergian setelah Maghrib, beliau mengawalkan waktu 'Isya dan menjama'nya dengan Maghrib." [12]

Masih dari Mu’adz: "Para Sahabat pernah bepergian bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika perang Tabuk. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjama' shalat Zhuhur dengan 'Ashar, dan shalat Maghrib dengan 'Isya'." Dia berkata lagi: "Pada suatu hari beliau mengakhirkan shalat. Beliau keluar lalu shalat Zhuhur dan 'Ashar dengan dijama'. Setelah itu beliau masuk. Tak lama kemudian beliau keluar lagi lalu shalat Maghrib dan 'Isya dengan dijama'."[13]

2. Hujan
Dari Nafi' Radhiyallahu anhu, "Jika 'Abdullah Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma mengumpulkan para amir (gubernur) antara Maghrib dan 'Isya' ketika hujan, maka dia menjama' shalat bersama mereka."

Dari Hisyam bin 'Urwah: "Ayahnya -'Urwah-, Sa'id bin al-Musayyib, dan Abu Bakar bin 'Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam bin al-Mughirah al-Makhzumi pernah menjama' shalat Maghrib dengan 'Isya' pada suatu malam ketika hujan turun. Mereka menjama' kedua shalat tersebut tanpa ada yang mengingkari." [14]

Dari Musa bin 'Uqbah, "Ketika turun hujan, ‘Umar bin 'Abdul 'Aziz pernah menjama' shalat Maghrib dengan 'Isya' di akhir waktu. Sedangkan Sa'id bin al-Musayyib, 'Urwah bin az-Zubair, Abu Bakar bin 'Abdurrahman, beserta para ulama zaman itu bermakmum di belakangnya. Namun, mereka tidak mengingkari perbuatan tersebut." [15]

Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menjama' shalat Zhuhur dengan 'Ashar, dan shalat Maghrib dengan 'Isya', tidak dalam keadaan takut maupun safar."[16]

Dia juga berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menjama' shalat Zhuhur dengan 'Ashar dan shalat Maghrib dengan 'Isya di Madinah, tidak dalam keadaan takut maupun hujan." [17]

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma memberikan indikasi bahwa menjama' shalat ketika hujan sudah diketahui pada masa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Jika tidak demikian, maka tidak ada gunanya menyebutkan kalimat "tanpa hujan" sebagai alasan dibolehkannya menjama' shalat." [18]

3. Kebutuhan Mendesak
Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menjama' shalat Zhuhur dengan 'Ashar di Madinah, tidak dalam keadaan takut maupun dalam perjalanan." Abu az-Zubair berkata, Lalu aku bertanya pada Sa'id, ‘Kenapa beliau melakukannya?’ Dia menjawab, ‘Aku pernah bertanya hal yang sama kepada Ibnu 'Abbas. Lalu dia berkata, ‘Beliau tidak ingin memberatkan salah seorang pun dari umatnya.’" [19]

Masih dari Ibnu ‘Abbas, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menjama' shalat Zhuhur dengan 'Ashar, dan shalat Maghrib dengan 'Isya di Madinah, tidak dalam keadaan takut maupun hujan." Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma ditanya, "Apa maksud di balik perbuatan beliau itu?" Dia menjawab, "Beliau tidak ingin memberatkan umatnya."

Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh Muslim (V/219), "Sejumlah imam berpendapat tentang bolehnya menjama' shalat dalam keadaan mukim bagi orang yang tidak menjadikannya kebiasaan. Ini adalah pendapat Ibnu Sirin dan Asyhab, pengikut Imam Malik. Al-Khaththabi meriwayatkan pendapat ini dari al-Qaffal dan asy-Syasyi al-Kabiir, pengikut imam asy-Syafi'i, dari Abu Ishaq al-Marwazi, dari mayoritas kalangan ahli hadits. Ibnul Mundzir juga memilih pendapat ini. Pendapat ini diperkuat oleh zhahir perkataan Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma : "Beliau tidak ingin memberatkan umatnya." Dia tidak menyebutkan alasan sakit atau yang lainnya. Wallaahu a’lam."

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 3762)], Shahiih Muslim (I/478 no. 686), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/64 no. 1187), Sunan an-Nasa-i (III/116), Sunan Ibni Majah (I/339 no. 1065), dan Sunan at-Tirmidzi (IV/309 no. 5025).
[2]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 876)], Shahiih Muslim (I/479 no. 687), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/124 no. 1234), Sunan an-Nasa-i (III/118), dan Sunan Ibni Majah (I/339 no. 1068), tanpa kalimat terakhir.
[3]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 871)], Sunan an-Nasa-i (III/183), dan Sunan Ibni Majah (I/338 no. 1063).
[4]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/569 no. 1090)], Shahiih Muslim (I/478 no. 685), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/63 no. 1186), dan Sunan an-Nasa-i (I/225).
[5]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (I/479 no. 689)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/90 no. 1211), Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/577 no. 1102), dan Sunan an-Nasa-i (III/123).
[6]. Al-Muhalla (V/21).
[7]. Fiqhus Sunnah (I/240, 241)]. Ucapan Anas Radhiyallahu anhu diriwayatkan dalam Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/569 no. 1089), Shahiih Muslim (I/480 no. 690), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/69 no. 1190), Sunan at-Tirmidzi (II/29 no. 544), dan Sunan an-Nasa-i (I/235). Yang dimaksud dengan ucapan-nya: "Di Dzul Hulaifah dua raka'at," adalah shalat 'Ashar. Sebagaimana di-jelaskan oleh riwayat-riwayat lain, selain riwayat Shahiih al-Bukhari.
[8]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 1094)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/102 no. 1223).
[9]. Fiqhus Sunnah (I/241).
[10]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 575)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/561 no. 1080), Sunan at-Tirmidzi (II/31 no. 547), Sunan Ibni Majah (I/341 no. 1075), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/97 no. 1218), hanya saja dia mengatakan: "Tujuh belas."
[11]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/583 no. 1112)], Shahiih Muslim (I/489 no. 704), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/58 no. 1206), dan Sunan an-Nasa-i (I/284).
[12]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 1067)], Ahmad (Fat-hur Rabbaani) (V/120 no. 1236), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/75 no. 1196), dan Sunan at-Tirmidzi (II/33 no. 551).
[13]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 1065)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/72 no. 1194), Sunan an-Nasa-i (I/284), Muslim dan Ibnu Majah hanya meriwayatkan bagian pertama saja di Shahiih Muslim (I/490 no. 706), dan Sunan Ibni Majah (I/340 no. 1070).
[14]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (III/40)], Muwaththa' al-Imam Malik (hal. 102 no. 328).
[15]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (III/40)] dan al-Baihaqi (III/168, 169).
[16]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 1068)].
[17]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 1070)], Shahiih Muslim (I/489 no. 705), Sunan an-Nasa-i (I/290), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/ 77 no. 1198), dengan tambahan kalimat terakhir.
[18]. Ucapan al-Albani dalam Irwaa’ul Ghaliil (III/40).
[19]. Telah ditakhrij sebelumnya.
(Sumber : http://almanhaj.or.id)

Read more »

SHALAT BERJAMA'AH Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

A. Hukumnya
Hukum shalat berjama'ah adalah fardhu ‘ain bagi pria yang telah terkena kewajiban shalat, kecuali ada halangan:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبُ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا، ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيَؤُمَّ النَّاسَ، ثُمَّ أُخَـالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوْتَهُمْ. وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَجِدُ عَرْقًا سَمِيْنًا أَوْ مِرْمَـاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ، لَشَهِدَ الْعِشَاءَ.

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sesungguhnya aku bertekad untuk menyuruh seseorang agar mengumpulkan kayu bakar, lalu aku menyuruh shalat dan diserukan untuknya. Kemudian kusuruh seorang laki-laki mengimami manusia. Setelah itu kudatangi orang-orang yang tidak menghadiri shalat jama'ah dan kubakar rumah-rumah mereka. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Andai salah seorang di antara mereka tahu bahwa ia akan memperoleh sepotong daging gemuk dan dua kaki (daging) hewan berkuku belah yang baik, niscaya ia akan mendatangi shalat 'isya'."[1]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam didatangi seorang laki-laki buta. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak mempunyai seorang pemandu yang menuntunku ke masjid.’ Kemudian dia meminta keringanan untuk shalat di rumahnya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun memberinya keringanan. Ketika dia berbalik, beliau memanggilnya, lalu berkata, "Apakah engkau mendengar adzan shalat?" Dia berkata, "Ya." Beliau lantas berkata, "Kalau begitu datanglah (untuk shalat berjama’ah)."[2]

Dari 'Abdullah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Barangsiapa yang suka bila kelak menemui Allah dalam keadaan muslim, maka hendaklah ia senantiasa menjaga shalat-shalat (wajib) ini ketika diseru kepadanya. Sesungguhnya Allah telah mensyari'atkan petunjuk kebenaran bagi Nabi kalian. Dan shalat berjama’ah termasuk petunjuk kebenaran. Jika kalian shalat di rumah-rumah kalian sebagaimana orang yang ketinggalan ini shalat di rumahnya, maka kalian telah meninggalkan petunjuk Nabi kalian. Jika kalian meninggalkan petunjuk Nabi kalian, niscaya sesatlah kalian. Tidaklah seorang laki-laki berwudhu' lalu ia menyempurnakan wudhu'nya lantas ia menuju salah satu masjid, kecuali Allah mencatat setiap langkah yang ia jalani sebagai satu kebaikan. Dengan langkah itu Allah mengangkatnya satu derajat. Dan dengannya pula Allah menghapuskan satu keburukan darinya. Sungguh, telah kuamati keadaan kami (para Sahabat). Dan tidak ada yang ketinggalan dari shalat jama’ah melainkan orang munafiq yang telah dikenal kemunafikannya. Sungguh, dulu pernah ada seorang laki-laki yang diapit (dituntun) oleh dua orang laki-laki hingga didirikan pada shaff.”[3]

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ، فَلاَ صَلاَةَ لَهُ، إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ.

“Barangsiapa mendengar adzan, kemudian tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya (tidak sempurna shalatnya-ed.) kecuali ia memiliki halangan.”[4]

B. Keutamaannya
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةُ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً.

“Shalat berjama’ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian.”[5]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

صَلاَةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلاَتِهِ فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوْقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ ضَعْفًا، وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لاَ يُخْرِجُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ، لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً إِلاَّ رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةٌ، فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلِ الْمَلاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مُصَلاَّهُ: "اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ، اَللّهُمَّ ارْحَمْهُ،" وَلاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِيْ صَلاَةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاَةَ.

“Shalat seorang laki-laki dengan berjama'ah lebih utama (dilipatgandakan ganjarannya) dua puluh lima kali lipat dibandingkan shalatnya di rumah dan di pasarnya. Karena jika dia berwudhu' lalu menyempurnakan wudhu'nya. Kemudian keluar menuju masjid hanya untuk shalat. Maka tidaklah ia melangkah kecuali dengan satu langkah itu derajatnya diangkat. Dan dengan langkah itu satu kesalahannya dihapuskan. Jika dia shalat, maka Malaikat senantiasa mendo’akannya selama dia berada di tempat shalatnya: ‘Ya Allah, selamatkanlah dia. Ya Allah, rahmatilah dia.’ Salah seorang di antara kalian senantiasa (dianggap) dalam shalat selama dia menunggu shalat."[6]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa salalm, beliau bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللهُ لَهُ نَزْلَهُ مِنَ الْجَنَّةِ كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ.

“Barangsiapa pergi ke masjid lalu kembali, maka Allah menyediakan karunia-Nya dari Surga baginya saat pergi dan kembali."[7]

C. Apakah Wanita Juga Menghadiri Shalat Jama'ah?
Dibolehkan bagi wanita mendatangi masjid dan mengikuti shalat jama'ah. Dengan syarat menghindari hal-hal yang membangkitkan syahwat dan menimbulkan fitnah, seperti perhiasan dan parfum.[8]

Dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لاَ تَمْنَعُوْا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ، وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ.

“Janganlah kalian melarang isteri-isteri kalian mendatangi masjid. Sedangkan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.” [9]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بُخُوْرًا فَلاَ تَشْهَدْنَ مَعَنَا الْعِشَاءَ اْلآخِرَةَ.

“Wanita mana saja yang memakai wewangian, maka janganlah ia shalat 'Isya' di waktu akhir bersama kami."[10]

Dan darinya, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَمْنَعُوْا إِمَاءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ، لكِنْ وَلْيَخْرُجْنَ وَهُنَّ تَفِلاَتٌ.
“Janganlah kalian halangi para hamba wanita Allah menghadiri masjid-masjid Allah. Jika mereka hendak keluar juga, maka hendaknya mereka tidak mengenakan wangi-wangian.” [11]

Rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.
Sekalipun wanita diperbolehkan mendatangi masjid, hanya saja shalat mereka di dalam rumah-rumah mereka lebih utama.

Dari Ummu Humaid as-Sa’idiyyah Radhiyallahu anha. Dia mendatangi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya senang shalat bersamamu.” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya saya mengetahui bahwa engkau senang shalat bersamaku. Namun, shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di kamarmu. Dan shalatmu di kamarmu lebih baik daripada shalatmu di tempat tinggalmu. Dan shalatmu di tempat tinggalmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu. Dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku."[12]

D. Adab Berjalan ke Masjid
Dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Ketika kami shalat bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau mendengar suara gaduh orang-orang. Tatkala beliau selesai shalat, beliau bertanya, ‘Ada apa dengan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Kami mendatangi shalat dengan tergesa-gesa.’ Beliau bersabda, ‘Janganlah kalian melakukannya lagi. Jika kalian mendatangi shalat, maka bersikap tenanglah. Apa yang kalian dapati, maka shalatlah. Dan apa yang terlewatkan oleh kalian, maka sempurnakanlah.’”[13]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ اْلإِقَـامَةَ فَامْشَوْا إِلَى الصَّلاَةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِيْنَةِ وَالْوِقَارِ، وَلاَ تَسْرَعُوْا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا.

“Jika kalian mendengar iqamat, maka datangilah shalat dengan tenang, santai, dan tidak tergesa-gesa. Apa yang kalian dapati, maka shalatlah. Dan apa yang kalian lewatkan, maka sempurnakanlah.” [14]

Dari Ka’ab bin ‘Ujrah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ وُضُـوْءَهُ ثُمَّ خَرَجَ عَـامِدًا إِلَى الْمَسْجِدِ فَلاَ يَشْبِكَنَّ بَيْنَ أَصَابِعِهِ فَإِنَّهُ فِيْ صَلاَةٍ.

“Jika salah seorang di antara kalian berwudhu' lalu menyempurnakan wudhu'nya. Kemudian keluar menuju masjid, maka janganlah ia menyilangkan jari-jemarinya, karena dia sedang dalam shalat."[15]

1. Do’a keluar rumah
Bacaan yang diucapkan ketika keluar rumah.
Dari Anas Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَالَ -يَعْنِي إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ- "بِسْمِ اللهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ"، يُقَالُ لَهُ: هُدِيْتَ وَكُفِيْتَ وَوُقِيْتَ وَتَنَحَّى عَنْهُ الشَّيْطَانُ.

“Barangsiapa yang ketika keluar rumahnya mengucap: ‘Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada Allah. Tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah.’ Maka dikatakan padanya, ‘Engkau telah diberikan petunjuk, tercukupi, terlindungi, dan syaitan menjauhimu.”[16]

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, bahwasanya ia tidur di rumah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, ia menggambarkan shalat malam beliau. Dia berkata, “Lalu mu-adzin mengumandangkan adzan dan beliau keluar untuk shalat sambil mengucap:

"اَللّهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِي نُوْرًا، وَفِيْ لِسَانِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ سَمْعِـي نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ بَصَرِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِي نُوْرًا وَمِنْ أَمَـامِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُوْرًا وَمِنْ تَحْتِي نُوْرًا، اَللّهُمَّ أَعْطِنِي نُوْرًا."

“Ya Allah, jadikanlah cahaya dalam hatiku, lisan, pendengaran, dan penglihatanku. Jadikanlah cahaya dari belakangku, depan, atas, dan bawahku. Ya Allah, berilah aku cahaya.” [17]

2. Do’a masuk masjid
Bacaan yang diucapkan ketika memasuki masjid:
Dari 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : “Jika beliau masuk masjid beliau mengucap:

"أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ."

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dengan Wajah-Nya Yang mulia, dan dengan kekuasaan-Nya yang terdahulu dari godaan syaitan yang terkutuk.” [18]

Dari Fathimah binti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, ia berkata, “Jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam masuk masjid, beliau mengucap:

بِسْمِ اللهِ، وَالسَّلاَمُ عَلى رَسُوْلِ اللهِ، اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذُنُوْبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“Dengan Nama Allah. Semoga kesejahteraan tercurah atas Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, dan bukakan-lah pintu rahmat-Mu bagiku.”

Dan apabila keluar, beliau mengucap:

"بِسْمِ اللهِ، وَالسَّلاَمُ عَلى رَسُوْلِ اللهِ، اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوْبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ.

“Dengan nama Allah. Semoga kesejahteraan tercurah atas Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, dan bukakan-lah pintu karunia-Mu bagiku.” [19]

3. Shalat Tahiyyatul Masjid
Jika seseorang masuk masjid, maka dia wajib shalat dua raka’at sebelum duduk.
Dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ.

“Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah ia duduk terlebih dahulu sampai ia melaksanakan shalat dua raka’at.” [20]

Saya katakan bahwa hal ini wajib, disebabkan zhahir perintah dalam hadits di atas, dimana tidak terdapat indikasi yang memalingkannya dari zhahir tersebut. Kecuali hadits Thalhah bin 'Ubaidillah, "Seorang Arab Badui menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan rambut acak-acakan. Dia kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang shalat yang diwajibkan Allah bagiku.’ Beliau menjawab, "Shalat lima waktu, kecuali jika engkau menambah (dengan shalat sunnah)…”

"Menurut saya, menjadikan hadits ini sebagai dalil bagi tidak wajibnya shalat yang baru saja disebutkan masih harus ditinjau kembali, karena apa yang terjadi pada awal pembelajaran tidak bisa dijadikan sebagai pegangan untuk memalingkan (wajibnya) perkara-perkara yang datang sesudahnya. Jika tidak demikian, maka kewajiban-kewajiban syari’at hanya terbatas pada shalat lima waktu yang disebutkan saja. Ini menyelisihi ijma' dan meniadakan mayoritas ajaran agama. Yang benar adalah mengambil dalil yang terakhir jika memang ada dalil yang shahih. Setelah itu mengamalkan isinya, baik itu wajib, sunnah, atau yang semisalnya. Dalam masalah ini memang terdapat khilaf. Namun, inilah pendapat yang paling kuat dari dua pendapat yang ada.” [21]

Sebagai penguat kewajiban hukumnya adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkannya sekalipun imam sedang khutbah.

Dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Seorang laki-laki masuk (ke masjid) pada saat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang khutbah Jum’at. Lalu beliau bertanya, "Hai Fulan, apakah engkau sudah shalat?" Dia menjawab, "Belum." Beliau berkata, "Berdiri dan shalatlah."[22]

Jika memang tahiyyat boleh ditinggalkan pada suatu keadaan tersebut, maka pada saat ini dia boleh ditinggalkan. Karena orang tadi telah duduk, sedangkan shalat tersebut disyari'atkan sebelum duduk. Dan juga karena orang tadi tidak mengetahui hukumnya. Ditambah lagi karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memotong khutbahnya, berbicara dengannya, lalu menyuruhnya shalat tahiyyat. Sekiranya bukan karena perhatian beliau yang sangat besar terhadap tahiyyat pada semua waktu, niscaya beliau tidak akan menaruh perhatian sebesar ini." [23]

Jika iqamat telah dikumandangkan, maka tidak ada shalat selain shalat wajib
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِذَا أُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ صَلاَةَ إِلاَّ الْمَكْتُوْبَةُ.

"Jika iqamat telah dikumandangkan, maka tidak ada shalat selain shalat wajib."[24]

Dari Malik bin Buhainah Radhiyallahu anhu, bahwa ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki sedang shalat dua raka’at pada saat iqamat telah dikumandangkan. Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam selesai, orang-orang lalu mengerumuninya. Kepada orang tadi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, ‘Apakah shalat Shubuh empat raka’at? Apakah shalat Shubuh empat raka’at?’ [25]

4. Keutamaan mendapati takbir bersama imam
Dari Anas Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى ِللهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا فِيْ جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيْرَةَ اْلأُوْلَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ.

"Barangsiapa shalat jama'ah ikhlas karena Allah selama empat puluh hari dengan mendapati takbir pertama, maka dibebaskan dari dua perkara: dari Neraka dan kemunafikan." [26]

Barangsiapa datang ke masjid sedangkan imam telah shalat
Dari Sa'id bin al-Musayyib rahimahullah, dia berkata, “Seorang laki-laki dari kalangan Anshar sedang dalam keadaan sakaratul maut, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku akan memberitahu kalian sebuah hadits. Aku tidak memberitahu kalian kecuali hanya mengharap pahala dari Allah. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ، لَمْ يَرْفَعْ قَدَمَهُ الْيُمْنَى إِلاَّ كَتَبَ اللهُ لَهُ حَسَنَةً، وَلَمْ يَضَعْ قَدَمَهُ الْيُسْرَى إِلاَّ حَطَّ اللهُ عَنْهُ سَيِّئَةً، فَلْيَقْتَرِبْ أَحَدُكُمْ أَوْ لِيُبَعِّدْ، فَإِنْ أَتَى الْمَسْجِدَ فَصَلَّى فِيْ جَمَاعَةٍ غُفِرَ لَهُ، فَإِنْ أَتَى الْمَسْجِدَ وَقَدْ صَلَّوْا بَعْضًا وَبَقِيَ بَعْضٌ صَلَّى مَا أَدْرَكَ وَأَتَمَّ مَا بَقِيَ، كَـانَ كَذلِكَ، فَإِنْ أَتَى الْمَسْجِدَ وَقَدْ صَلَّوْا فَأَتَمَّ الصَّلاَةَ كَانَ كَذلِكَ.

“Jika salah seorang dari kalian wudhu' lalu menyempurnakan wudhu'nya. Setelah itu pergi keluar untuk shalat (berjama'ah), maka tidaklah ia mengangkat kaki kanannya melainkan Allah Azza wa Jalla mencatat sebuah kebaikan baginya. Dan tidaklah ia me-letakkan kaki kirinya melainkan Allah Azza wa Jalla menghapuskan sebuah kesalahan darinya. Hendaklah salah seorang di antara kalian (memilih antara) memperpendek atau memperpanjang langkahnya. Jika dia datang ke masjid kemudian shalat berjama'ah, maka diampunilah dosanya. Jika dia mendatangi masjid pada saat orang-orang telah menyelesaikan beberapa raka’at dan masih tersisa beberapa raka’at, lalu dia ikut shalat dan menyempurnakan raka’at yang tersisa, maka dia pun mendapat pahala seperti tadi. Jika dia mendatangi masjid pada saat orang-orang telah menyelesaikan shalat, lantas dia menunaikan shalatnya, maka dia pun mendapat pahala seperti tadi." [27]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوْءَهُ ثُمَّ رَاحَ فَوَجَدَ النَّاسَ قَدْ صَلَّوْا، أَعْطَاهُ اللهُ مِثْلَ أَجْرِ مَنْ صَلاَّهَا وَحَضَرَهَا، لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا.

"Barangsiapa wudhu' lalu membaguskan wudhu'nya. Kemudian menuju masjid tapi dia dapati orang-orang telah selesai shalat, maka Allah Azza wa Jalla memberinya pahala orang yang melaksanakan dan menghadiri shalat jama’ah tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun." [28]

5. Memasuki shalat dengan mengikuti imam dalam keadaan apa pun
Dari ‘Ali bin Abi Thalib dan Mu’adz bin Jabal, mereka mengatakan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَتَى أَحَدُكُمُ الصَّلاَةَ وَاْلإِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ اْلإِمَامُ.

"Jika salah seorang di antara kalian mendatangi shalat jama'ah pada saat imam sedang berada pada suatu keadaan, maka hendaklah ia melakukan gerakan sebagaimana yang sedang dilakukan imam."[29]

Kapankah seseorang dianggap masih mendapatkan satu raka’at?
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ وَنَحْنُ سُجُوْدٌ فَاسْجُدُوْا، وَلاَ تَعَدُّوْهَا شَيْئًا، وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ.

“Jika kalian mendatangi shalat jama'ah pada saat kami sedang sujud, maka sujudlah dan itu jangan dihitung (satu raka’at). Dan barangsiapa mendapati (imam) sedang ruku', maka dia mendapat satu raka’at shalat." [30]

Tentang orang yang ruku' sebelum sampai di shaff
Dari Abu Bakrah Radhiyallahu anhu, ia mendapati Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang ruku', ia lantas ruku' sebelum sampai di shaff. Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam diberitahu akan hal tersebut. Lalu beliau bersabda, “Semoga Allah menambah semangatmu, namun janganlah engkau mengulanginya lagi.” [31]

Dari ‘Atha' Radhiyallahu anhu, ia mendengar Ibnu az-Zubair berkhutbah di atas mimbar, “Jika salah seorang di antara kalian memasuki masjid pada saat orang-orang ruku', maka hendaklah dia ruku' hingga masuk. Setelah itu, hendaklah dia berjalan sambil tetap ruku' sampai tiba di shaff. Karena yang seperti itu adalah Sunnah.” [32]

Dari Zaid bin Wahb rahimahullah, ia berkata, “Aku keluar bersama 'Abdullah -maksudnya, ‘Abdullah bin Mas’ud- dari rumahnya menuju masjid. Ketika kami sampai di pertengahan masjid, imam ruku’. ‘Abdullah lalu bertakbir dan ruku', lantas aku pun ikut ruku' bersamanya. Setelah itu kami berjalan hingga sampai di shaff, ketika itu orang-orang tengah mengangkat kepala mereka. Pada waktu imam telah menyelesaikan shalatnya, aku bangkit. Aku mengira belum mendapat satu raka’at. 'Abdullah langsung menarik tanganku dan mendudukkanku. Kemudian dia berkata, “Sesungguhnya engkau telah mendapat satu raka’at.” [33]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/125 no. 644)], ini adalah lafazhnya, Shahiih Muslim (I/451 no. 651), dengan lafazh yang mirip. Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/251 no. 544), Sunan Ibni Majah (I/259 no. 791), tidak terdapat kalimat terakhir pada riwayat ini, Sunan an-Nasa-i (II/107), dengan lafazh al-Bukhari.
[2]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 320)], Shahiih Muslim (I/452 no. 653), Sunan an-Nasa-i (II/109).
[3]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 631)], Shahiih Muslim (I/453 no. 654 (257)), Sunan an-Nasa-i (II/108), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/254 no. 546), Sunan Ibni Majah (I/255 no. 777).
[4]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 645)], Sunan Ibni Majah (I/260 no. 793), Mustadrak al-Hakim (I/245), al-Baihaqi (III/174).
[5]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/131 no. 645)], Shahiih Muslim (I/450 no. 650), Sunan at-Tirmidzi (I/138 no. 215), Sunan an-Nasa-i (II/103), Sunan Ibni Majah (I/259 no. 789).
[6]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/131 no. 647)], Shahiih Muslim (I/459 no. 649), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/265 no. 555).
[7]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/148 no. 662), Shahiih Muslim (I/463 no. 669).
[8]. Fiqhus Sunnah (I/193).
[9]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 530)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/274 no. 563), Ahmad (Fat-hur Rabbaani) (V/195 no. 1333).
[10]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 2702)], Shahiih Muslim (I/328 no. 444), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (XI/231 no. 4157), Sunan an-Nasa-i (VIII/154).
[11]. Hasan shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 529)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/273 no. 561), Ahmad (Fat-hur Rabbani) (V/193 no. 1328).
[12]. Hasan: [Ahmad (Fat-hur Rabbani) (V/198 no. 1337)], Shahiih Ibni Khuzaimah (III/95 no. 1689).
[13]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/116 no. 635)], Shahiih Muslim (I/421 no. 603).
[14]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/117 no. 636)], ini adalah lafazh darinya, Shahiih Muslim (I/420 no. 602), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/278 no. 568), Sunan at-Tirmidzi (I/205 no. 326), Sunan an-Nasa-i (II/114), Sunan Ibni Majah (I/255 no. 775).
[15]. Shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 316)], Sunan at-Tirmidzi (I/239 no. 384), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/268 no. 558).
[16]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 6419)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (XIII/437 no. 5073), Sunan at-Tirmidzi (V/154 no. 3486).
[17]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 379)], Shahiih Muslim (I/530 no. 763 (191)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/230 no. 1340).
[18]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 441)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/132 no. 462).
[19]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 625)], Sunan Ibni Majah (I/253 no. 771), Sunan at-Tirmidzi (I/197 no. 313).
[20]. Telah disebutkan takhrijnya.
[21]. Nailuul Authaar (I/364).
[22]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/407 no. 930)], Shahiih Muslim (II/596/875), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/464 no. 1102), Sunan at-Tirmidzi (II/10 no. 508), Sunan Ibni Majah (I/1112 no. 353), Sunan an-Nasa-i (III/107).
[23]. [Shahiih Muslim dengan Syarh an-Nawawi (V/226)].
[24]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 263)], Shahiih Muslim (I/493 no. 710), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/143, 142 no. 1252), Sunan at-Tirmidzi (I/264 no. 419), Sunan Ibni Majah (I/364 no. 1151), Sunan an-Nasa-i (II/116).
[25]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/148 no. 663)], ini adalah lafazh darinya, Shahiih Muslim (I/493 no. 711).
[26]. Hasan: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 200)], Sunan at-Tirmidzi (I/152 no. 241).
[27]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 527)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/270 no. 559).
[28]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 528), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/272 no. 560), Sunan an-Nasa-i (II/111).
[29]. Shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 484)], Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 261), Sunan at-Tirmidzi (II/51 no. 588).
[30]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 468)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/145/875).
[31]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 3565)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/267 no. 783), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/378 no. 67069), Sunan an-Nasa-i (II/118).
[32]. Sanadnya shahih: [Ash-Shahiihah (no. 229)].
[33]. Shahih: [Ash-Shahiihah (II/52)], al-Baihaqi (II/90)

 E. Perintah Meringankan Shalat Bagi Imam
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا صَلَّـى أَحَدُكُمْ لِلنَّـاسِ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيْهِمُ الضَّعِيْفَ وَالسَّقِيْمَ وَالْكَبِيْرَ، فَإِذَا صَلَّى لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ.

"Jika salah seorang di antara kalian mengimami orang-orang, maka hendaklah ia meringankannya. Karena di antara mereka ada yang lemah, sakit, dan orang tua. Namun, jika dia shalat sendirian, maka dia boleh memperpanjang sesuka hatinya. [1]

1. Imam memperpanjang raka’at pertama
Dari Abu Sa’id Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Pada waktu itu shalat Zhuhur telah ditegakkan. Lalu ada seorang yang pergi ke Baqi’ untuk buang hajat. Kemudian ia berwudhu’ lalu mendatangi shalat jama’ah sedangkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam masih berada pada raka’at pertama karena terlalu panjangnya.” [2]

2. Wajib mengikuti imam dan dilarang mendahuluinya
Dari Anas Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَـا جُعِلَ اْلإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوْا، وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوْا، وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوْا...

“Sesungguhnya, imam itu diangkat untuk diikuti. Jika dia bertakbir, maka bertakbirlah. Jika dia sujud, maka sujudlah. Dan jika dia bangkit, maka bangkitlah…” [3]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

أَ مَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ اْلإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ، أَوْ يَجْعَلَ اللهُ صُوْرَتَهُ صُوْرَةَ حِمَارٍ.

“Tidakkah salah seorang di antara kalian takut jika Allah menjadikan kepalanya seperti kepala keledai bila dia mengangkat kepalanya sebelum imam melaksanakannya. Atau menjadikan rupanya seperti rupa keledai." [4]

3. Siapakah yang berhak menjadi imam?
Dari Ibnu Mas’ud al-Anshari Radhiyallahu angu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ، فَإِنْ كَانُوْا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوْا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوْا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً، فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا، وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ
الرَّجُلَ فِيْ سُلْطَانِهِ، وَلاَ يَقْعُدْ فِيْ بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ.

"Yang berhak mengimami suatu kaum adalah yang paling banyak hafal al-Qur-an di antara mereka. Jika dalam bacaan sama, maka yang paling tahu tentang Sunnah. Jika dalam Sunnah sama, maka yang paling dahulu berhijrah. Jika dalam hijrah sama, maka yang paling dahulu masuk Islam. Janganlah seseorang mengimami orang lain dalam kekuasaannya. Dan janganlah menduduki tempat duduk yang khusus di rumah orang itu kecuali dengan izinnya."[5]

Dalam hadits ini dijelaskan bahwa pemilik rumah, imam tetap, atau yang semisal mereka lebih berhak menjadi imam daripada yang selain mereka kecuali setelah diizinkan. Dasarnya adalah sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam :

وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِيْ سُلْطَانِهِ.

“Janganlah seseorang mengimami orang lain dalam daerah kekuasaannya...”

4. Imam anak-anak
Dari 'Amr bin Salamah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Ketika terjadi penaklukan kota Makkah, setiap kaum berbondong-bondong masuk Islam. Ayahku paling dulu masuk Islam di antara kaumnya. Tatkala dia tiba, dia berkata, "Demi Allah, aku membawakan kalian sebuah kebenaran yang datang dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kerjakanlah shalat ini pada waktu ini, dan kerjakanlah shalat itu pada waktu itu. Jika waktu shalat telah tiba, maka hendaklah salah seorang di antara kalian adzan. Dan hendaklah yang paling banyak bacaannya di antara kalian mengimami kalian. Lantas mereka mencari-cari, namun tidak seorang pun yang lebih banyak hafalan al-Qur-an dibandingkan aku. Karena aku pernah belajar langsung dari para kafilah. Mereka lantas menyuruhku maju ke hadapan mereka (untuk menjadi imam). Saat itu umurku enam atau tujuh tahun." [6]

F. Orang yang Shalat Fardhu Bermakmum Kepada Orang yang Shalat Sunnah dan Sebaliknya
Dari Jabir: “Mu'adz bin Jabal Radhiyallahu anhu pernah bermakmum kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lantas pulang dan mengimami kaumnya.”[7]

Dari Yazid bin al-Aswad Radhiyallahu anhu : “Ketika masih muda, dia pernah bermakmum kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tatkala selesai shalat, ternyata ada dua orang pria yang belum shalat sedang berada di sudut masjid. Lalu beliau memanggil mereka. Mereka kemudian datang dengan gemetaran. Beliau bertanya, ‘Apa yang menghalangi kalian untuk shalat berjama’ah dengan kami?’ Mereka menjawab, ‘Kami sudah shalat di tempat tinggal kami.’ Beliau berkata, ‘Janganlah kalian berbuat seperti itu, jika salah seorang di antara kalian telah menunaikan shalat di tempat tinggalnya, kemudian menjumpai imam yang belum shalat, maka shalatlah bersamanya. Karena shalat yang (kedua) itu adalah sunnah baginya.’” [8]

G. Orang yang Mukim Bermakmum Kepada Orang yang Musafir dan Sebaliknya
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “‘Umar Radhiyallahu anhu mengimami penduduk Makkah shalat Zhuhur. Lalu dia salam pada raka’at kedua dan berkata, ‘Wahai penduduk Makkah, sempurnakanlah shalat kalian. Karena sesungguhnya kami sedang dalam perjalanan (musafir).’” [9]

H. Jika Seorang Musafir Bermakmum Kepada Orang yang Mukim, Maka Dia Harus Menyempurnakan Shalatnya (Tidak Mengqashar-ed.)
Dari Musa bin Salamah al-Hudzali Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku bertanya pada Ibnu ‘Abbas, ‘Bagaimana aku shalat jika berada di Makkah dan tidak berjama’ah dengan imam?’ Dia menjawab, ‘Dua raka’at. Itulah Sunnah Abul Qasim Shallallahu 'alaihi wa sallam.’” [10]

Dari Abu Mijlaz, ia berkata, “Aku berkata pada Ibnu ‘Umar, ‘Seorang musafir mendapatkan dua raka’at (terakhir dari) shalat suatu kaum -maksudnya, orang-orang yang mukim-. Apakah cukup dua raka'at itu ataukah dia shalat sesuai shalat mereka?’ Dia tertawa lalu berkata, ‘Dia harus mengikuti shalat mereka (tidak mengqashar).’” [11]

I. Jika Orang yang Mampu Berdiri Bermakmum Kepada Orang yang Duduk, Maka Dia Harus Duduk Sepertinya
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat di rumah beliau dalam keadaan sakit. Maka beliau shalat sambil duduk. Kemudian orang-orang shalat sambil berdiri di belakang beliau. Lalu beliau memberi isyarat pada mereka agar duduk. Ketika selesai, beliau bersabda:

إِنَّمَـا جُعِلَ اْلإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوْا، وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوْا، وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوْا جُلُوْسًا.

“Sesungguhnya, imam itu diangkat untuk diikuti. Jika ia ruku’, maka ruku'lah. Jika dia bangkit, maka bangkitlah. Dan jika ia shalat sambil duduk, maka shalatlah kalian sambil duduk." [12]

Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah jatuh dari kudanya. Kulit tubuh sebelah kanan beliau terkelupas. Kami menjenguk beliau. Lalu datanglah waktu shalat. Beliau lantas mengimami kami sambil duduk. Kami pun shalat di belakang beliau sambil duduk. Tatkala selesai mengerjakan shalat, beliau bersabda:

إِنَّمَا جُعِلَ اْلإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَـبَّرَ فَكَبِّرُوْا، وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوْا، وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوْا، وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَقُوْلُوْا: رَبَّنَـا وَلَكَ الْحَمْدُ، وَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوْا قُعُوْدًا أَجْمَعُوْنَ.

"Sesungguhnya, imam itu diangkat untuk diikuti. Jika dia bertakbir, maka bertakbirlah. Jika dia sujud, maka sujudlah. Dan jika dia bangkit, maka bangkitlah. Jika dia mengucap, ‘سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ’, maka ucapkanlah, ‘رَبَّنَـا وَلَكَ الْحَمْدُ’. Dan jika dia shalat sambil duduk, maka shalatlah kalian semua sambil duduk."

J. Makmum yang Sendirian Berdiri di Sebelah Kanan Sejajar dengan Imam
Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah Radhiyallahu anha. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat 'Isya' empat raka’at, lalu tidur. Kemudian beliau shalat lagi. Lalu aku berdiri di samping kiri beliau, lantas beliau menjadikan aku berada di sisi kanannya." [13]

K. Dua Orang Makmum atau Lebih Berdiri di Belakang Imam
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam hendak shalat. Aku datang dan berdiri di samping kiri beliau. Lalu beliau memegang tanganku dan memutarku hingga mendirikanku di samping kanannya. Setelah itu Jabbar bin Shakhr Radhiyallahu anhu datang dan berdiri di samping kiri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Lantas beliau memegang tangan kami berdua dan mendorong kami hingga beliau mendirikan kami di belakang beliau." [14]

L. Makmum Wanita Berdiri di Belakang Imam
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengimaminya, ibu, dan bibinya.” Anas melanjutkan, "Beliau mendirikanku di samping kanannya dan wanita di belakang kami." [15]

M. Wajib Meluruskan Shaff
Wajib bagi imam untuk tidak memulai shalat kecuali setelah shaff lurus. Dia harus menyuruh makmum meluruskannya. Hendaknya dia sendiri yang meluruskan shaff atau menyuruh orang lain agar meluruskannya.

Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوْفِ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ.

"Luruskanlah shaff-shaff kalian. Karena lurusnya shaff termasuk kesempurnaan shalat."[16]

Dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Ketika hendak shalat, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyentuh pundak-pundak kami sambil berkata:

اِسْتَوُوْا وَلاَ تَخْتَلِفُوْا فَتَخْتَلِفُ قُلُوْبُكُمْ...

"Luruskan dan janganlah kalian berselisih sehingga hati kalian turut berselisih...[17]

Dari an-Nu'man bin Basyir Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam meluruskan shaff-shaff kami seakan-akan meluruskan anak panah, hingga kami benar-benar paham. Pada suatu hari beliau keluar untuk shalat. Ketika hampir takbir, beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya keluar dari shaff. Beliau lantas bersabda:

عِبَادَ اللهِ، لَتُسَوُّنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ.

"Wahai sekalian hamba Allah, hendaklah kalian luruskan shaff-shaff kalian atau Allah benar-benar akan memperselisihkan antara wajah-wajah kalian."[18]

Dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَقِيْمُوا الصُّفُوْفَ، وَحَـاذُوْا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ، وَسُدُّوا الْخَلَلَ، وَلِيْنُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ، وَلاَ تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ، وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللهُ، وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللهُ.

"Lurukan shaff, sejajarkan pundak, dan tutupilah celah-celah. Berlaku lembutlah terhadap tangan saudara-saudara kalian, dan jangan biarkan celah-celah untuk dimasuki syaitan. Barangsiapa menyambung shaff, maka Allah akan menyambungnya. Dan barangsiapa memutuskan shaff, maka Allah akan memutusnya." [19]

Dari Anas Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

رَصُّوْا صُفُوْفَكُمْ، وَقَارِبُوْا بَيْنَهَا، وَحَاذُوْا بِاْلأَعْنَاقِ، فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، إِنِّـيْ َلأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ.

"Lurus dan rapatkanlah shaff, serta sejajarkanlah dengan leher. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku melihat syaitan memasuki celah-celah shaff seperti anak kambing hitam."[20]

Bagaimana meluruskan shaff?
Dari Anas Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

أَقِيُمُوْا صُفُوْفَكُمْ، فَإِنِّيْ أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِيْ.

"Luruskanlah shaff-shaff kalian. Karena aku melihat kalian dari belakang punggungku."

Seseorang di antara kami lantas menempelkan pundaknya dengan pundak temannya dan menempelkan kakinya dengan kaki temannya.[21]

An-Nu'man bin Basyir Radhiyallahu anhu berkata, "Aku melihat seseorang di antara kami menempelkan mata kakinya dengan mata kaki temannya."[22]

N. Shaff Laki-Laki dan Wanita
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوُّلَهَا.

"Sebaik-baik shaff laki-laki adalah yang paling depan, sedangkan yang paling buruk adalah yang paling belakang. Dan sebaik-baik shaff wanita adalah yang paling belakang, sedangkan yang paling buruk adalah yang paling depan." [23]

O. Keutamaan Shaff Pertama dan Shaff Sebelah Kanan
Dari al-Barra' bin 'Azib Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الصُّفُوْفِ اْلأَوَّلِ.

"Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya mendo’akan rahmat bagi orang-orang yang berada di shaff pertama." [24]

Masih dari al-Barra’, dia berkata, "Jika kami shalat di belakang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, kami senang jika berada di sebelah kanan beliau. Beliau hadapkan wajahnya pada kami." Kemudian aku mendengar beliau mengucapkan:

رَبِّ قِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ.

"Ya Rabb-ku, lindungilah aku dari 'adzab-Mu, di hari Engkau bangkitkan seluruh hamba-Mu." [25]

P. Siapakah yang Berdiri Di Belakang Imam?
Dari Ibnu Mas'ud al-Anshari Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

لِيَلِيَنِيْ مِنْكُمْ أُوْلُوا اْلأَحْلاَمِ وَالنُّهَى، ثُمَّ الَّذِيْـنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ.

"Hendaklah orang-orang yang pintar lagi berilmu di antara kalian berada di belakangku. Setelah itu orang-orang yang derajatnya di bawah mereka. Setelah itu orang-orang yang derajatnya di bawah mereka lagi." [26]

Q. Dimakruhkannya Berbaris di Antara Tiang-Tiang
Dari Mu'awiyah bin Qurah Radhiyallahu anhu, dari ayahnya, dia berkata, "Dulu, pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, kami dilarang berbaris di antara tiang-tiang (masjid). Kami benar-benar dikeluarkan dari tempat itu." [27]

Ini hanya dalam shalat jama’ah. Adapun jika sendirian, maka tidak masalah shalat di antara dua tiang dengan tujuan menjadikannya pembatas.

Dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Usamah bin Zaid, 'Utsman bin Thalhah, dan Bilal memasuki Baitullah. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam lama di sana kemudian keluar. Aku adalah orang pertama yang mengikutinya. Lalu aku bertanya pada Bilal, "Di manakah beliau shalat?" Dia menjawab, "Di antara dua tiang terdepan."[28]

R. 'Udzur Untuk Meninggalkan Shalat Jama’ah
1, 2. Dingin dan hujan
Dari Nafi', "Pada suatu malam yang dingin dan berhembus kencang, Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma mengumandangkan adzan shalat. Dia mengucapkan, "Hai manusia, shalatlah kalian dalam rumah-rumah kalian!" Setelah itu dia berkata, "Sesungguhnya jika malam dingin dan hujan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh mu’adzin mengucapkan, "Hai manusia, shalatlah kalian dalam di rumah-rumah kalian!"[29]

3. Saat makanan dihidangkan
Dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا وُضِعَ عَشَاءُ أَحَدِكُمْ وَأُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ فَابْدَؤُوْ بِالْعَشَاءِ، وَلاَ يَعْجَلْ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهُ.

"Jika makan malam salah seorang di antara kalian dihidangkan sedangkan iqamat telah dikumandangkan, maka dahulukanlah makan malam. Janganlah tergesa-gesa hingga dia menyelesaikan makannya."

Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma pernah disuguhi makanan ketika iqamat telah dikumandangkan. Dia tidak mendatangi shalat hingga dia menyelesaikan makannya. Padahal dia benar-benar mendengar bacaan imam. [30]

4. Menahan dua hadats
Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَـامِ، وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُ اْلأَخْبَثَيْنِ.

"Tidak sempurna shalat ketika makanan telah dihidangkan. Tidak sempurna pula shalat orang yang menahan dua hadats." [31]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/199 no. 703)], ini adalah lafazh darinya, Shahiih Muslim (I/341 no. 467), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/11 no. 780), Sunan at-Tirmidzi (I/150 no. 236), Sunan an-Nasa-i (II/94).
[2]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 930)], Shahiih Muslim (I/335 no. 454), Sunan an-Nasa-i (II/164).
[3]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (I/308 no. 411)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/173 no. 689), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/310 no. 587), Sunan at-Tirmidzi (I/225 no. 358), Sunan an-Nasa-i (III/98), Sunan Ibni Majah (I/392 no. 1238).
[4]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/182 no. 691)], Shahiih Muslim (I/320 no. 427), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/330 no. 609), Sunan at-Tirmidzi (II/48 no. 579), Sunan an-Nasa-i (II/96), Sunan Ibni Majah (I/308 no. 961).
[5]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 316)], Shahiih Muslim (I/465 no. 673), Sunan at-Tirmidzi (I/149 no. 235), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/ 289 no. 578), Sunan an-Nasa-i (II/76) dan Sunan Ibni Majah (I/313 no. 980). Dalam riwayat mereka disebutkan:
فَإِنْ كَانُوْا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَكْثَرُهُمْ سِنًّا
“Jika dalam hijrah sama, maka yang paling tua dalam usia.” Ini adalah riwayat Muslim.
[6]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 761)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (VIII/22 no. 4302), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/293 no. 581), Sunan an-Nasa-i (II/80).
[7]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 387)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/192 no. 700), Shahiih Muslim (I/339 no. 465), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/4 no. 776), Sunan an-Nasa-i (II/102).
[8]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 538)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/283 no. 571), Sunan at-Tirmidzi (I/140 no. 219), Sunan an-Nasa-i (II/112).
[9]. Shahih: [Tahqiq al-Arna-uth dalam Jaami'ul Ushul (V/708)], Mushannaf 'Abdur-razzaq (no. 4369).
[10]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 571)], Shahiih Muslim (I/479 no. 688), Sunan an-Nasa-i (III/119).
[11]. Sanadnya shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 22)], al-Baihaqi (III/157).
[12]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/173 no. 688)], Shahiih Muslim (II/309 no. 412), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/315 no. 591).
[13]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 540)], Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 792), Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/190 no. 697), ini adalah lafazhnya, Shahiih Muslim (I/525 no. 763), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/318 no. 596), Sunan at-Tirmidzi (I/147 no. 232), Sunan an-Nasa-i (II/104), dan Sunan Ibnu Majah (I/312 no. 973).
[14]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 540)], Shahiih Muslim (I/458 no. 660 (269)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/318 no. 595), dan Sunan Ibnu Majah (I/312 no. 975).
[15]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/192 no. 700)], Shahiih Muslim (I/339 no. 465), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/4 no. 776), dan Sunan an-Nasa-i (II/102).
[16]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (I/324 no. 433)], ini adalah lafazh darinya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/209 no. 723), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/367 no. 654), dan Sunan Ibni Majah (I/317 no. 993).
[17]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 961)] dan Shahiih Muslim (I/323 no. 432).
[18]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 3972)], Shahiih Muslim (I/324 no. 436 (128)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/363 no. 649), Sunan at-Tirmidzi (I/143 no. 227), Sunan an-Nasa-i (II/89), dan Sunan Ibni Majah (I/ 318 no. 994). Maksudnya adalah, beliau bersungguh-sungguh dalam melurus-kan shaff hingga seolah-olah menjajarkan anak panah saking lurus dan ratanya (Shahiih Muslim dengan Syarh an-Nawawi (IV/207), cet. Qurthubah).
[19]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 620)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/365 no. 652).
[20]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 621)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/366 no. 653), dan Sunan an-Nasa-i (II/92).
[21]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 393)] dan Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/211 no. 725).
[22]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 124), hal. 184], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/211) secara mu’allaq.
[23]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 331)], Shahiih Muslim (I/326 no. 440), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/374 no. 664), Sunan at-Tirmidzi (I/143 no. 224), Sunan an-Nasa-i (II/93), dan Sunan Ibnu Majah (I/319 no. 1000).
[24]. Shahih: [Shahih Sunan Abu Dawud (no. 618)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/364 no. 650), dan Sunan an-Nasa-i (II/90), dengan lafazh: الصُفُوْفِ الْمُتَقَدِّمَةِ (shaff-shaff yang terdepan).
[25]. Shahih: [At-Targhiib (no. 500)] dan Shahiih Muslim (I/493, 492 no. 709).
[26]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 626)], Shahiih Muslim (I/323 no. 432), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/371 no. 660), Sunan Ibni Majah (I/312 no. 976), dan Sunan an-Nasa-i (II/90).
[27]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 821)], Sunan Ibni Majah (I/320 no. 1002), Mustadrak al-Hakim (I/218), dan al-Baihaqi (III/104).
[28]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari, hal. 139] dan Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/578 no. 504).
[29]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/156 no. 666)], Shahiih Muslim (I/484 no. 697), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/391 no. 1050), dan Sunan an-Nasa-i (II/15).
[30]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/159 no. 673)], Shahiih Muslim (I/392 no. 459), tanpa kalimat terakhir, dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (X/229 no. 3739).
[31]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 7509)], Shahiih Muslim (I/393 no. 560), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/190 no. 89).
(Sumber : http://almanhaj.or.id)

Read more »