TAQDIM
Di antara karakateristik ahli bid’ah dari masa ke masa bahwasanya mereka
selalu mencela dan mencoreng citra Ahli Sunnah wa Jama’ah untuk
menjatuhkan umat dari al-haq. Al-Imam Abu Hatim Ar-Razi berkata : “Ciri
ahli bid’ah adalah mencela ahli atsar’ (Ahlu Sunnah hlm. 24). Al-Imam
Abu Utsman Ash-Shobuni rahimahullah berkata : “Tanda yang paling jelas
dari ahli bid’ah adalah kerasnya permusuhan mereka kepada pembawa sunnah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka melecehkan dan
menghina ahli Sunnah dan menamakan ahli Sunnah dengan Hasyawiyah,
Jahalah, Dhohiriyyah, dan Musyabbihah” [Aqidah Salaf Ashabul Hadits,
hlm. 116]
Diantara deretan buku-buku “hitam” yang mencela Salafiyyin dan Dakwah
Salafiyyah adalah buku Beda Salaf dengan Salafi yang beredar baru-baru
ini di tanah air, buku ini sarat dengan syubhat-syubhat yang sangat
berbahaya.
Untuk menunaikan kewajiban kami dalam nasehat kepada kaum muslimin dan
membela dakwah yang haq maka dengan memohon pertolongan kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala akan kami paparkan studi kritis terhadap buku ini
agar menjadi kewaspadaan dan peringatan bagi kita semua.
PENULIS DAN PENERBIT BUKU
Judul asli buku ini adalah Kasyful Haqa’iq Al-Khafiyyah Inda Mudda’is
Salafiyyah, ditulis oleh Mu’tab bin Suryan Al-Ashimi, diterjemahkan oleh
Wahyuddin dan Abu Ja’far Al-Indunisy, dan diterbitkan oleh Media
Islamika Solo cetakan pertama Agustus 2007
Sebagai catatan bahwa terjemahan dari kitab asli buku ini hanya sampai
hlm. 88, adapun hlm. 89-223 adalah tambahan dari penerbit.
MENYEBARKAN KERAGUAN “MANHAJ TASHNIF”
Tashnifunnas (klasifikasi manusia) yaitu menisbahkan pelaku bid’ah
kepada kebid’ahannya, menisbahkan pendusta kepada kedustaannya, dan
menisbahkan seorang yang dijarh kepada jarhnya sebagaimana di dalam
kitab-kitab jarh wa ta’dil.
Penulis telah menyebarkan keragu-raguan terhadap manhaj tashnif ini
dengan menyebutnya sebagai tugas iblis!! (hlm. 45), dan dia sebut
sebagai fitnah!! (hlm.58).
Padahal tashnif ini adalah haq tidak ada keraguan di dalamnya, Ahli
Sunnah wal Jama’ah telah sepakat atas shahihnya penisbatan orang yang
dikenal dengan suatu kebid’ahan kepada bid’ahnya sebagaimana diketahui
oleh setiap orang yang mau menelaah kitab-kitab salaf. Barangsiapa yang
dikenal dengan bid’ah Qodar maka dia dikatakan Qodari, barangsiapa yang
dikenal dengan bid’ah Khowarij maka dia dikatakan Khoriji, barangsiapa
yang dikenal dengna bid’ah Irja’ maka dia dikatakan Murji’, barangsiapa
yang dikenal dengan bid’ah Rofdh maka dia dikatakan Rofidhi, dan
seterusnya.
Tashnif ini juga terdapat dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam seperti penisbahan kelompok pengingkar takdir kepada bid’ah
mereka sebagaimana dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Qodariyyah adalah Majusinya umat ini, jika mereka sakit maka janganlah
kalian menjenguk mereka, dan jika mereka mati maka janganlah kalian
melawat mereka’ [Diriwaytkan Abu Dawud dalam Sunannya 4/222 dan
dihasankan Syaikh Al-Albany dalam Shahihul Jami’ : 4442]
Demikian juga kelompok Khowarij yang diisyaratkan oleh Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits yang banyak sekali yang
mencapai derajat mutawatir.
Tashnif ini juga terdapat di dalam perkataan para Salafush Shalih dari
kalangan sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para imam, seperti
riwayat dari Abu Umamah bahwasanya dia menafsirkan firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka
menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada
mereka” [Al-An’am : 159]
Dia tafsirkan abahwa mereka adalah Khowarij. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/197]
Abdullah bin Abi Aufa –salah seorang sahabat- berkata : “Semoga Allah
Subhanahu wa Ta’ala melaknat Azariqoh! Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala
melaknat Azariqoh! Sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
mengabarkan kepada kami bahwa mereka adalah anjing-anjing neraka”.
Berktalah perawi darinya : “Azariqoh saja atau Khowarij semuanya?” Dia
berkata : “Bahkan Khowarij semuanya” [Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam
Musnadnya dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam
Dhilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah]
Al-Imam Sufyan bin Uyainah berkata tentang Ismail bin Humaid : “Dia
adalah Baihasi”. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : “Baihasiyyah adalah nama
sebuah kelompok Khowarij dari kelompok Shofariyyah yang memandang
wajibnya memberontak kepada para pemimpin yang curang” [Lihat Tahdzibut
Tahdzib 1/305]
Al-Imam Abu Dawud berkata tentang Ishaq bin Robi’:”Dia adalah Qodari’ [Lihat Tahdzibut Tahdzib 1/203]
Maka tashnifunnaas adalah hal yang disepakti oleh umat ini dan bukanlah perkara yang baru.
KONTRADIKSI PENULIS
Penulis begitu sinis terhadap manhaj tashnif tetapi dia sendiri
memakainya, di dalam hlm. 71-72 dari bukunya ini dia klasifikasi
lawan-lawannya menjadi 6 kelompok : (1). Al-Hasadah (orang-orang yang
hasad), (2), Al-Qo’adah[1] (orang-orang yang tidak memiliki peran di
dalam dakwah), (3). Al-Murtaziqoh (para pencari kesenangan pribadi),
(4). Al-Muqallidun (orang-orang yang taklid), (5). Al-Makhdu’un
(orang-orang yang terpedaya), dan (6). An-Naqimun (para pembalas
dendam)!
Kami katakan :”Duhai alangkah miripnya hari ini dengan kemarin, dahulu
Muhammad Surur membagi lawan-lawannya menjadi 6 tingkatan penghambaan :
(1) George Bush presiden Amerika. (2). Para penguasa di negeri-negeri
Arab. (3). Para pembantu penguasa negeri-ngeri Arab dari para menteri,
para penasehat, dan yang lainnya. (4, 5,dan 6) adalah para pejabat
tinggi di kementrian. Kemudian dia katakan bahwa para ulama Saudi
seperti Syaikh Bin Baz rahimahullah, Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah dan
Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidhahullah sebagai budak-budak budaknya
budak dan majikan mereka adalah orang Nasrani!!! [Majalah As-Sunnah
Al-Britaniyyah, edisi 26 Jumada Ula 1413H, hlm. 2-3]
“Hati mereka serupa . sesungguhnya kami telah menjelaskan tanda-tanda kakuasaan Kami kepada kaum yang yakin” [Al-Baqarah : 118]
Dan lihatlah bagaimana teman-teman Muhammad Surur dari kelompok
Quthbiyyin membagi para ulama menjadi ulama yang faham waqi’ dan ulama
yang tidak fawah waqi’, mereka merendahkan dan melecehkan para ulama
Salafiyyin dengan mengatakan bahwa mereka bukanlah rujukan kaum muslimin
karena mereka tidak faham waqi’ (realita) sebagaimana dikatakan oleh
Salman dalam Majalah Al-Ishlah Emirat Arab edisi 223 28/1, dan
Abdurrahman Abdul Khaliq dalam kitabnya Khuthuth Roisiyah Liba’tsil
Ummah Islamiyyah hlm. 73-78 (Lihat Madarikun Nazhar hlm. 271 dan Jama’ah
Wahidah hlm. 40). Di sisi lain mereka membagi ulama menjadi ulama
sulthon (ulama penguasa) dan sulthonul ulama yaitu kelompok mereka
sebagaimana dikatakan oleh Aidh Al-Qorni di dalam Qoshidahnya yang
berjudul Da’il Hawasyi Wakhruj (tinggalkanlah para antek penguasa dan
keluarlah)!
Maka kami katakan bahwa penulis bersikap plin-plan dalam menyikapi
tashnif, jika tashnif dirasa merugikannya maka dia tolak, dan jika
dirasakan menguntungkannya maka dia pakai. Hal seperti inilah yang
dilakukan oleh para ahli bid’ah dan pengekor hawa nafsu, mereka
mengklasifikasi manusia semau mereka sesuai dengan hawa nafsu mereka,
mereka mengklasifikasi para ulama menjadi ulama politik dan ulama haidh
dan nifas!. Di sisi lain tatkala para ulama sunnah mentashnif
(mengklasifikasi) para gembong mereka kepada masing-masing kebid’ahan
mereka maka dengan serentak mereka marah dan membabi buta, mereka
sebarkan keragu-raguan kepada umat tentang masalah tashnif yang haq
dengan maksud untuk melindungi nama dan kedudukan gembong-gembong
mereka.
MENYEBARKAN KEBENCIAN TERHADAP ISTILAH SALAFI DAN SALAFIYYAH
Penulis begitu getol di dalam menyebarkan kebencian terhadap nisbah
salafi dan salafiyyah, dia katakan bahwa nisbah as-salafi atau al-atsari
sebagai suatu kesombongan! (hlm. 42). Bahkan dia buat manusia ngeri
memakai istilah salafi dengan dia katakan bahwa para pengaku salafi
adalah pelaku kejahatan! (hlm.74).
Padahal tidak ada yang lebih membanggakan seorang muslim dari
menisbahkan diri kepada salaf, lafadz salafiyyah atau salafi tidaklah
digunakan oleh para ulama Ahli Sunnah kecuali dalam kebaikan, lihatlah
dalam kitab-kitab para ulama terutama dalam kitab-kitab biografi mereka
tidaklah menyebut salaf atau salafi melainkan sebagai pujian, begitu
sering para ulama menyebutkan biografi seseorang dan menyebutkan di
antara manaqibnya adalah karena dia berjalan diatas manhaj salafi.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : “Tidak ada cela
bagi orang yang menampakkan madzhab salaf, menisbahkan diri kepadanya,
dan membanggakannya, bahkan wajib diterima semua itu darinya dengan
kesepakatan ulama. Karena sesungguhnya madzhab salaf adalah haq, jika
dia sesuai dengan salaf secara lahir dan batin, maka dia seperti seorang
mukmin yang di atas kebenaran secara lahir dan batin” [Majmu Fatawa
4/149]
Al-Hafidz Adz-Dzahabi rahimahullah sering menyebutkan nisbah kepada salaf (as-salafi) ketika menyebutkan biografi para ulama.:
a) Ketika menyebutkan biografi Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawi dalam Siyar
A’lamin Nubala 13/183 berkata : “Aku tidaklah mengetahui Ya’qub
Al-Fasawi kecuali seorang salafi”
b). Ketika menyebutkan biografi Muhammad bin Muhammad Al-Bahrani beliau
berkata : “Dia adalah seorang yang beragama, baik, dan seorang salafi”
[Mu’jam Syuyuh 843]
c). Ketika menyebutkan biografi Al-Imam Daruquthni beliau mengatakan
:”Dia tidak pernah masuk sama sekali dalam ilmu kalam dan jadal, bahkan
dia adalah seorang salafi’ [Siyar 16/457]
d) Ketika menyebutkan biografi Abu Thohir As-Silafi beliau mengatakan
:”As-Silafi diambil dari kata As-Salafi yaitu yang berjalan di atas
madzhab salaf” [Siyar 21/6]
e). Ketika menyebutkan biografi Al-Hafidzh Ibnu Sholah rahimahullah
beliau mengatakan : “Dia adalah seorang salafi, bagus aqidahnya ..”
[Tadzkirotul Huffadz 4/1431]
Dan merupakan hal yang dimaklumi bahwa kelompok-kelompok bid’ah sangat
menjauhi intisab kepada salaf, sampai-sampai kelompok yang mengaku
beraqidah salaf pun juga menjauhi dan menghindari penisbatan kepada
salaf, inilah syi’ar ahli bid’ah dari masa ke masa sebagaimana dikatakan
oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Syi’ar ahli bid’ah
adalah tidak mau ittiba’ kepada salaf” [Majmu Fatawa 4/100]
Kelompok-kelompok bid’ah ini mengetahui bahwasanya dengan meninggalkan
intisab kepada salaf maka mereka dengan leluasa menghukumi segala
sesuatu dengan akal mereka, perasaan mereka dan eksperimen-eksperimen
mereka!
Inilah realita yang menujukkan keagungan takdir Allah Subhanahu wa
Ta’ala, agar nampak jelas dakwah yang haq dari setiap kebatilan yang
hendak menyerupainya, dan agar dakwah yang haq murni dari segala macam
kotoran hendak mencampurinya.
MEMBUAT OPINI BAHWA PARA ULAMA MEMBENCI NISBAH SALAFI DAN SALAFIYYAH
Penulis banyak menukil perkataan para ulama yang mengesankan bahwa para
ulama tersebut tidak suka kepada nisbah As-Salafi, Al-Atsari,
As-Salafiyyah dan yang semisalnya. Nukilan-nukilan ini harus dicek ulang
karena kedustaan adalah ciri khas dari setiap ahli bid’ah, Al-Imam Ali
bin Harb Al-Maushili berkata :”Setiap ahli hawa (pengekor hawa nafsu)
selalu berdusta dan tidak peduli dengan kedustaannya!” (Diriwayatkan
oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Al-Kifayah hlm. 123) Di antara
nama-nama yang dicatut oleh penulis dari para ulama adalah Syaikh Abdul
Aziz bin Baz rahimahullah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
rahimahullah, dan Syaikh Shalih Al-Fauzan
Padahal kenyataan yang sebenarnya bahwa para ulama yang disebut
nama-namanya di atas selalu mengajak manusia agar ittiba’ kepada manhaj
salafi sebagaimana di dalam nukilan-nukilan berikut ini.
Syaikh Ibnu Baz pernah ditanya :”Apa yang engkau katakan terhadap orang
yang memberi nama dengan As-Salafi dan Al-Atsari, apakah hal itu
termasuk tazkiyah?” Beliau rahimahullah menjawab :”Kalau memang benar
dia Atsari (menapaki atsar pendahulunya) atau Salafi (mengikuti
pemahaman Salaf As-Shalih) maka tidak mengapa, semisal apa yang
dikatakan para salaf, mereka mengatakan ‘Fulan Salafi, Fulan Atsari’,
ini adalah sebuah tazkiyah yang seharusnya, tazkiyah yang wajib’
[Muhadhoroh dengan tema Haq Al-Muslim tgl. 16/1/1423H di Thoif]
Berkata Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidhahullah :”Penamaan
dengan As-Salafiyah apabila memang benar maka tidak mengapa, namun
apabila cuma sekedar pengakuan belaka, maka tidak boleh menamakan dengan
As-Salafiyyah karena ia tidak berada pada manhaj Salaf” [Al-Ajwibah
Mufidah. 15]
Telah datang suatu pertanyaan kepada Syaikh Shalih Al-Fauzan
hafidhahullah yang berbunyi :”Apakah salafiyyah adalah suatu hizb
(kelompok) dan apakah menisbahkan diri kepadanya adalah hal yang
tercela?” Maka beliau menjawab :”Salafiyah adalah Firqotun Najiah
(kelompok yang selamat) mereka adalah Ahli Sunnah wal Jama’ah, bukan
suatu hizb yang dinamakan sekarang sebagai kelompok-kelompok atau
partai-partai, sesungguhnya dia adalah suatu jama’ah, jama’ah yang
berjalan di atas sunnah.. maka Salafiyyah adalah jama’ah yang berjalan
di atas madzhab Salaf dan di atas jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam dan para sahabatnya, dan dia bukanlah salah satu kelompok dari
kelompok-kelompok yang muncul sekarang ini, karena dia adalah jama’ah
yang terdahulu dari zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
terus berlanjut terus menerus di atas kebenaran dan nampak hingga hari
Kiamat sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam” [Dari kaset yang berjudul At-Tahdzir Minal Bida’]
Dan termasuk mereka juga (para ulama yang membolehkan penisbahan
tersebut) Syaikh Al-Fadzil Ali bin Nasir Faqihi di dalam kitabnya
Al-Fath Al-Mubin Bir –Rod Ala Naqd Abdillah Al-Ghumari Likitabil Arbain”
[Lihat Kun Salafiyan Alal Jaddah 44]
MENCOMOT FATWA-FATWA ULAMA YANG SEJALAN DENGAN KEPENTINGAN MEREKA
Diakhir buku penerbit menambahkan lampiran-lampiran buku mereka ini yang
dua kali lipat dibandingkan dengan buku aslinya, di antara
lampiran-lampiran tersebut terdapat Fatwa Lajnah Daimah yang mengkritik
sebagian tulisan dari Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi, yang pada
hari-hari ini Hizbiyyun begitu semangat di dalam menebarkannya.
Sikap para hizbiyyun ini sangat mengherankan sekali, karena sepanjang
sejarah perjalanan mereka baru kali ini mereka begitu antusias untuk
menukil sebuah fatwa dari para ulama Saudi Arabia. Tempo hari mereka
menuding para ulama Saudi hanyalah ulama haid dan nifas, tidak paham
realita, antek-antek CIA, ulama penguasa, dan sederet tuduhan-tuduhan
keji yang lainnya!. Kemudian hari ini dengan serempak mereka menukil
sebuah fatwa dari para ulama Saudi Arabia dan menyebarluaskannya?!
Sehubungan dengan Fatwa Lajnah Daimah ini kami nukilkan tanggapan dari
Syaikh Dr Husain bin Abdul Aziz Alu Syaikh –Imam Masjid Nabawi dan Qadhi
di Pengadilan Tinggi Madinah Nabawiyyah- di dalam ceramah beliau yang
berjudul Ala Thoriqi Sunnah pada tanggal 5 Rabi’ul Awwal 1422H : “Yang
kami yakini dan yang kami pertanggung jawabkan dihadapan Allah
bahwasanya Syaikh Ali hafidhahullah dan gurunya –Syaikh Al-Albani
rahimahullah- paling jauh di antara manusia dari madzhab Murji’ah
–sebagaimana telah kami katakan sebelumnya. Syaikh Ali –demikian juga
Syaikh Al-Albani rahimahullah- -jika dikatakan kepadanya : Apakah
defenisi iman? Tidak akan kita dapati dalam ucapannya perkataan Murji’ah
yang mengatakan bahwa amalan tidak masuk dalam keimanan. Bahkan
nash-nash Syaikh Al-Albani rahimahullah menashkan bahwa defenisi iman
adalah :”Keyakinan dengan hati, perkataan dengan lisan, dan amalan
dengan anggota tubuh, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan
kemaksiatan” [Lihat Tanbihat Mutawaimah hal. 553-557]
PENUTUP
Inilah di antara hal-hal yang bisa kami paparkan dari sebagian bantahan
terhadap syubhat-syubhat buku ini, yang intinya bahwa buku ini hendak
menjatuhkan manhaj tashnif untuk mengaburkan antara ahli Sunnah dan ahli
bid’ah dan sekaligus menjauhkan manusia dari manhaj Salafush Shalih.
Semoga Alah Subhanahu wa Ta’ala selalu meneguhkan kita di atas sunnah
dan menjauhkan kita dari semua kebid’ahan. Amin
[Disalin dari Majalah Al-Furqon, Edisi 8, Th. Ke-7 1429/2008.
Diterbitkan Oleh Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon Al-Islami, Alamat :
Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim]
_______
Footnote
[1]. Di dalam terjemahnya tertulis Al-Uqdah, ini adalah kekeliruan dari penerjemah
(Sumber : http://almanhaj.or.id)

0 komentar:
Post a Comment