SHALAT-SHALAT SUNNAH Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

A. Keutamaannya
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ، فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَـابَ وَخَسِرَ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَةٍ شَيْئًا، قَـالَ الرَّبُّ تَبَـارَكَ وَتَعَالَى: اُنْظُرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ، فَيُكَمَّلُ بِهِ مَا انْتَقَصَ مِنَ الْفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى نَحْوِ ذَلِكَ.

“Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari Kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka beruntung dan selamatlah dia. Namun, jika rusak, maka merugi dan celakalah dia. Jika dalam shalat wajibnya ada yang kurang, maka Rabb Yang Mahasuci dan Mahamulia berkata, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Jika ia memiliki shalat sunnah maka shalat wajibnya disempurnakan oleh shalat sunnah tadi. Kemudian dihisablah seluruh amalan wajibnya sebagaimana tadi.” [1]

B. Disunnahkan Mengerjakannya di Rumah
Dari Jabir, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا قَضَى أَحَدُكُمُ الصَّلاَةَ فِـي مَسْجِدِهِ فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ نَصِيْباً مِنْ صَلاَتِهِ، فَإِنَّ اللهَ جَاعِلٌ فِي بَيْتِهِ مِنْ صَلاَتِهِ نُوْرًا

“Jika salah seorang di antara kalian telah menunaikan shalat di masjidnya, maka hendaklah ia memberi jatah shalat bagi rumahnya. Karena sesungguhnya Allah menjadikan cahaya dalam rumahnya melalui shalatnya.” [2]

Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصَّلاَةِ فِي بُيُوْتِكُمْ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلاَةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوْبَةِ.

“Kerjakanlah shalat (sunnah) di rumah kalian. Karena sebaik-baik shalat seseorang adalah yang dikerjakan di rumahnya kecuali shalat wajib.” [3]

C. Macam-Macamnya
Shalat sunnah ada dua bagian: Muthlaqah dan Muqayyadah
Muthlaqah adalah yang dikenal dengan sunnah rawatib, yaitu yang dikerjakan sebelum dan sesudah shalat wajib. Ia terdiri dari dua bagian: muakkadah (yang ditekankan) dan ghairu muakkadah (tidak ditekankan).

1. Shalat sunnah muakkadah ada sepuluh raka’at
Dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Aku ingat sepuluh raka’at dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : dua raka’at sebelum Zhuhur dan dua raka’at sesudahnya. Dua raka’at sesudah Maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya', serta dua raka’at sebelum shalat Shubuh. Pada saat itulah Nabi Shallallahu 'alaihi wa salalm tidak mau ditemui. Hafshah Radhiyallahu anhuma menceritakan padaku bahwa jika mu-adzin mengumandangkan adzan dan fajar (yang kedua) telah terbit, beliau shalat dua raka’at." [4]

Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, “Dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan empat raka’at sebelum shalat Zhuhur, dan dua raka’at sebelum shalat Shubuh.” [5]

2. Shalat sunnah ghairu muakkadah: Dua raka’at sebelum shalat ‘Ashar, Maghrib, dan 'Isya'.
Dari ‘Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ، بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ، ثُمَّ قَـالَ فِي الثَّالِثَةِ: لِمَنْ شَاءَ.

“Di antara dua adzan (antara adzan dan iqamat-ed.) ada shalat, di antara dua adzan ada shalat.” Kemudian beliau berkata pada kali yang ketiga, “Bagi siapa saja yang menghendakinya.”[6]

Disunnahkan untuk menjaga empat raka’at sebelum shalat ‘Ashar

Dari ‘Ali Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat empat raka’at sebelum shalat ‘Ashar. Beliau memisahkan antara raka’at-raka’at tadi dengan mengucapkan salam pada para Malaikat muqarrabiin (yang didekatkan kepada Allah), dan yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan muslimin dan mukminin.” [7]

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

رَحِمَ اللهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا.

“Semoga Allah merahmati orang yang shalat empat raka’at sebelum ‘Ashar.” [8]

Riwayat yang mengabarkan bacaan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebagian shalat tersebut

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

نِعْمَتِ السُّوْرَتَانِ يُقْرَأُ بِهِمَا فِي رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ، قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، وَقُلْ يَآ أَيُّهَا اْلكَافِرُوْنَ.

“Dua surat yang paling baik dibaca pada dua raka’at sebelum Shubuh adalah qul huwallaahu ahad (al-Ikhlash) dan qul yaa ayyuhal kaafiruun (al-Kaafiruun). [9]

Dari Abu Hurairah Radhiyalllahu 'anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca qul yaa ayyuhal kaafiruun (al-Kaafiruun) dan qul huwallaahu ahad (al-Ikhlash) pada dua raka’at sebelum Shubuh.” [10]

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, “Pada dua raka’at shalat sunnah fajar, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah membaca: quuluu aamannaa billaahi wa maa unzila ilainaa, yaitu ayat dalam surat al-Baqarah pada raka’at pertama. Dan pada raka’at terakhir: aamannaa billaahi wasyhad bi annaa muslimuun." [11] (Ali ‘Imran: 52).

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku tidak bisa menghitung berapa kali aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca: qul yaa ayyuhal kaafiruun (al-Kaafiruun) dan qul huwallaahu ahad (al-Ikhlash) pada dua raka’at sesudah Maghrib dan dua raka’at sebelum shalat Shubuh." [12]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 451, 452)], Sunan at-Tirmidzi (I/258 no. 411), Sunan an-Nasa-i (I/232).
[2]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 375)], Shahiih Muslim (I/239 no. 778).
[3]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (X/517 no. 6113)], Shahiih Muslim (I/539 no. 781), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/321 no. 1434) dan Sunan an-Nasa-i (III/198).
[4]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 440)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/58/ no. 1180, 1180), ini adalah lafazhnya, Sunan at-Tirmidzi (I/271 no. 431), dengan lafazh hampir serupa.
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1658)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/58 no. 1182), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/134 no. 1240) dan Sunan an-Nasa-i (III/251).
[6]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/110 no. 627)], Shahiih Muslim (I/573 no. 838), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/162 no. 1269), Sunan at-Tirmidzi (I/120 no. 185), Sunan an-Nasa-i (II/28), Sunan Ibni Majah (I/368 no. 1162).
[7]. Hasan: Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 353)], Sunan at-Tirmidzi (I/269 no. 427).
[8]. Hasan: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 354)], Sunan at-Tirmidzi (I/270 no. 428), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/149 no. 1257).
[9]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 944)], Shahiih Ibni Khuzaimah (II/163 no. 1114), Ahmad (al-Fat-hur Rabbani) (IV/225 no. 987), Sunan Ibni Majah (I/363 no. 1150).
[10]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 360)], Shahiih Muslim (I/502 no. 726), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/135 no. 1243), Sunan an-Nasa-i (II/156), Sunan Ibni Majah (I/363 no. 1148).
[11]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 905)], Shahiih Muslim (I/502 no. 727), Sunan an-Nasa-i (II/155), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/137 no. 1246).
[12]. Hasan shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 355)], Sunan at-Tirmidzi (I/ 270 no. 429).
(Sumber : http://almanhaj.or.id)

SHALAT SUNNAH WITIR


Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi



A. Hukum dan Keutamaannya
Shalat sunnah Witir termasuk sunnah muakkadah. Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sangat menganjurkannya

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ.

“Sesungguhnya Allah itu ganjil (tunggal) dan menyukai orang yang shalat Witir.” [1]

Dari ‘Ali Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Sesungguhnya shalat witir itu tidak wajib. Dan tidak sebagaimana shalat kalian yang wajib. Namun, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat Witir kemudian berkata:

يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ أَوْتِرُوْا، فَإِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ.

“Wahai ahlul Qur-an, shalat witirlah. Karena sesungguhnya Allah itu ganjil (tunggal) dan menyukai orang yang shalat Witir.” [2]

B. Waktunya
Boleh mengerjakan shalat Witir setelah shalat 'Isya' hingga terbit fajar. Sedangkan pada sepertiga malam terakhir adalah waktu yang paling utama.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat witir pada setiap bagian malam, baik di awal waktu, pertengahan, ataupun akhir malam. Shalat Witir beliau selesai di waktu sahur.” [3]

Disunnahkan menyegerakan shalat witir pada awal malam bagi yang takut tidak bisa bangun pada akhir malam. Sebagaimana disunnahkan mengakhirkannya pada akhir malam bagi yang merasa yakin akan bangun di akhir malam.

Dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Abu Bakar, ‘Kapan engkau shalat Witir?’ Dia menjawab: ‘Aku shalat Witir sebelum tidur.’ Beliau lalu bertanya pada ‘Umar, ‘Kapan engkau shalat Witir?’ Dia menjawab, ‘Aku tidur kemudian shalat Witir.’” Dia (Abu Qatadah) berkata, “Beliau berkata kepada Abu Bakar: ‘Engkau telah mengambilnya dengan hati-hati.’ Dan berkata kepada ‘Umar: ‘Engkau telah mengambilnya dengan kekuatan.’ [4]

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan shalat, sedangkan aku tengah tidur terlentang di atas ranjang. Jika ingin shalat Witir, beliau membangunkan aku, dan aku pun shalat Witir.” [5]

C. Bilangan Raka’at dan Tata Cara Shalat Witir
Jumlah raka’at shalat witir paling sedikit adalah satu raka’at.
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَـى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى.

“Shalat malam itu dikerjakan dua raka’at dua raka’at. Jika salah seorang di antara kalian khawatir akan masuk waktu Shubuh, maka hendaklah ia berwitir dengan satu raka’at sebagai penutup bagi shalat yang telah dikerjakan.”[6]

Boleh berwitir dengan tiga, lima, tujuh, atau sembilan raka’at.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah shalat lebih dari sebelas raka’at, baik pada bulan Ramadhan ataupun di luar Ramadhan. Beliau shalat empat raka’at. Janganlah engkau tanyakan tentang baik dan panjangnya. Kemudian beliau shalat empat raka’at lagi. Dan jangan engkau tanyakan tentang baik dan panjangnya. Setelah itu beliau Shallallahu 'alaihi wa salalm shalat tiga raka’at.” [7]

Juga dari ‘Aisyah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat malam sebanyak tiga belas raka’at. Beliau berwitir dengan lima raka’at dan tidak duduk kecuali pada raka’at terakhir.” [8]

Darinya juga, ia berkata, “Kami biasa menyiapkan siwak dan air wudhu' untuk beliau. Lalu Allah membangunkan beliau pada malam hari sesuai dengan kehendak-Nya. Lalu beliau bersiwak dan berwudhu'. Kemudian beliau shalat sembilan raka’at. Beliau tidak duduk kecuali pada raka’at kedelapan. Beliau berdzikir kepada Allah, memuji, dan berdo’a kepada-Nya. Setelah itu bangkit dan tidak salam. Lalu beliau berdiri dan mengerjakan raka’at yang kesembilan. Kemudian beliau duduk sambil berdzikir kepada Allah, memuji, dan berdo’a kepada-Nya. Lantas beliau mengucap salam dan memperdengarkannya kepada kami. Setelah itu beliau shalat dua raka’at sesudah salam sambil duduk. Itulah berjumlah sebelas raka’at, wahai anakku. Tatkala Nabiyyullah Shallallahu 'alaihi wa sallam semakin tua dan gemuk, beliau berwitir dengan tujuh raka’at. Lalu beliau mengerjakan shalat dua raka’at sebagaimana yang pertama. Itu semua berjumlah sembilan raka’at, wahai anakku.” [9]

Jika berwitir dengan tiga raka’at, maka membaca surat yang disebutkan dalam hadits berikut ini

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Dulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca pada shalat witir: Sabbihisma Rabbikal A’laa (Al-A'laa), Qul yaa ayuhal kaafiruun (Al-Kaafiruun), dan Qul huwallaahu Ahad (Al-Ikhlash), masing-masing untuk setiap raka’at.”[10]

D. Qunut Dalam Witir
Dari al-Hasan bin ‘Ali Radhiyallahu ahuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajariku bacaan yang kuucapkan pada shalat Witir:

اَللّهُمَّ اهْدِنِي فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيْمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِـيْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ.

“Ya Allah, tunjukilah aku sebagaimana Engkau menunjuki orang yang mendapat petunjuk-Mu. Jagalah aku sebagaimana Engkau menjaga orang yang mendapat penjagaan-Mu. Peliharalah aku sebagaimana orang yang mendapat pemeliharaan-Mu. Berkahilah apa yang Engkau berikan kepadaku. Lindungilah aku dari keburukan apa yang Engkau tetapkan. Karena sesungguhnya Engkaulah yang menetapkan, dan tidak ada sesuatu yang (dapat) mengatur-Mu. Sesungguhnya tidak akan hina orang yang mentaati-Mu. Mahasuci dan Mahatinggi Engkau, ya Allah.” [11]

Menurut Sunnah, qunut ini dilakukan sebelum ruku’.

Berdasarkan hadits Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan Qunut dalam shalat Witir sebelum ruku’.” [12]

Tidak disyari'atkan qunut dalam shalat wajib kecuali jika terjadi musibah dan bencana. Ketika itu, Qunut dilakukan setelah ruku’, dan tidak dikhususkan untuk shalat wajib tertentu.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, “Jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam hendak mendo’akan keburukan atau kebaikan bagi seseorang, maka beliau melaksanakan qunut setelah ruku’.” [13]

Adapun qunut yang dilakukan pada shalat Shubuh secara terus menerus, maka itu adalah bid'ah

Sebagaimana dijelaskan oleh para Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dari Abu Malik al-Asyja’i dari Sa’ad bin Thariq, ia berkata, “Aku berkata pada ayahku, ‘Wahai ayah, engkau pernah shalat di belakang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali di Kufah ini kira-kira selama lima tahun. Apakah mereka melakukan qunut pada shalat Shubuh?” Dia berkata: “Wahai anakku, itu adalah perkara yang diada-adakan (bid’ah).” [14]

Mustahil Rasulullah Shallallahu mengucapkan:

اَللّهُمَّ اهْدِنِي فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ.

Pada setiap Shubuh setelah bangkit dari ruku' sambil mengeraskan suaranya, lalu para Sahabat mengamininya, secara terus-menerus hingga beliau wafat. Lantas hal ini tidak diketahui umat sesudah beliau. Bahkan ditinggalkan oleh mayoritas umatnya, jumhur Sahabat, bahkan oleh mereka semua. Sampai-sampai seseorang dari kalangan Sahabat berkata, ‘Sesungguhnya itu adalah perkara yang diada-adakan (bid’ah).’ Sebagaimana yang dikatakan oleh Sa’ad bin Thariq al-Asyja’i.” [15]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (XI/214 no. 6410)], Shahiih Muslim (IV/2062 no. 2677).
[2]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 959)], Sunan Ibni Majah (I/370 no. 1169), Sunan at-Tirmidzi (I/282 no. 452), Sunan an-Nasa-i (III/229, 228), dalam dua hadits. Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/291 no. 1403) secara marfu'.
[3]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (I/512 no. 745)], ini adalah lafazhnya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/486 no. 996), secara ringkas, Sunan an-Nasa-i (III/230), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/312 no. 1422) dan Sunan at-Tirmidzi (I/284 no. 456), dengan tambahan “di akhirnya.” Begitupula pada riwayat Abu Dawud.
[4]. Hasan Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 988)], Shahiih Ibni Khuzaimah (II/145 no. 1084), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/311 no. 1421), Sunan Ibni Majah (I/379 no. 1202).
[5]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/487 no. 997)], Shahiih Muslim (I/511 no. 744).
[6]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/477 no. 990)], Shahiih Muslim (I/516 no. 749), Sunan an-Nasa-i (III/227), Sunan at-Tirmidzi (I/273 no. 435), dengan lafazh serupa dan di dalamnya terdapat tambahan.
[7]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/33 no. 1147)], Shahiih Muslim (I/509 no. 738), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/218 no. 1327), Sunan at-Tirmidzi (I/274 no. 437).
[8]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 382)], Shahiih Muslim (I/508 no. 737), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/216 no. 1324), Sunan at-Tir-midzi (I/285 no. 457), dengan tambahan: "pada raka'at terakhir."
[9]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1510)], Shahiih Muslim (I/512 no. 746), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/219 no. 1328), Sunan an-Nasa-i (III/199).
[10]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1607)], Sunan at-Tirmidzi (I/288 no. 461), Sunan an-Nasa-i (III/236) dengan tambahan di awalnya.
[11]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1647)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’-buud) (IV/300 no. 1412), Sunan at-Tirmidzi (I/289 no. 463), Sunan Ibni Majah (I/372 no. 1178) dan Sunan an-Nasa-i (III/248).
[12]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 1266)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/352 no. 1414).
[13]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 4655)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (VIII/226 no. 4560).
[14]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 435)], Ahmad (al-Fat-hur Rabbani) (III/472 dan VI/394), Sunan Ibni Majah (I/393/1241).
[15]. Zaadul Ma'aad (I/271). 

QIYAMUL LAIL (SHALAT MALAM)


Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi



Shalat malam termasuk sunnah yang sangat dianjurkan. Ia termasuk ciri-ciri orang-orang yang bertaqwa. Allah berfirman:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍآخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman (Surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” [Adz-Dzaariyaat: 15-19]

Dari Abu Malik al-Asy'ari Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرْفًا يُرَى ظَاهِرُهَـا مِنْ بَاطِنِهَا وَبَاطِنِهَا مِنْ ظَاهِرِهَا، أَعَدَّهَا اللهُ تَعَالَى لِمَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ، وَأَلاَنَ الْكَلاَمَ، وَأَدَامَ الصِّيَامَ، وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ.

“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar. Allah Ta’ala menyediakannya bagi orang yang suka memberi makan, melunakkan perkataan, senantiasa berpuasa, dan shalat malam pada saat manusia tidur." [1]

A. Semakin Dianjurkan Pada Bulan Ramadhan
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan shalat malam pada bulan Ramadhan tanpa memberi perintah yang mewajibkan. Lalu beliau bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“Barangsiapa shalat malam pada bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya diampunilah dosa-dosanya yang telah lampau.” [2]

B. Bilangan Raka’atnya
Paling sedikit satu raka’at. Dan paling banyak sebelas raka’at. Sebagaimana telah disebutkan dalam perkataan ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah shalat lebih dari sebelas raka’at, baik pada bulan Ramadhan ataupun di luar Ramadhan.”

C. Disyari'atkan Melakukannya Secara Berjama'ah Pada Bulan Ramadhan
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, “Pada suatu malam, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat di masjid. Lalu orang-orang shalat dengan shalat beliau. Pada malam berikutnya beliau shalat lagi dan orang-orang kian bertambah banyak. Mereka kemudian berkumpul pada malam ketiga atau keempat, namun Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak keluar menemui mereka. Ketika pagi tiba, beliau bersabda:

قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوْجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ.

‘Aku melihat apa yang kalian perbuat. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian. Hanya saja aku takut jika shalat tersebut diwajibkan atas kalian.’

Saat itu pada bulan Ramadhan.” [3]

Dari ‘Abdurrahman al-Qari, ia berkata, “Pada suatu malam di bulan Ramadhan, aku keluar bersama 'Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu menuju masjid. Ternyata orang-orang terpecah menjadi beberapa kelompok. Ada seorang laki-laki yang shalat sendirian, dan ada pula yang shalat dengan diikuti oleh beberapa orang. Lalu ‘Umar berkata, “Aku berpendapat, seandainya kukumpulkan mereka di bawah satu qari' (imam), tentulah akan lebih baik. Kemudian dia membulatkan tekadnya dan mengumpulkan mereka di bawah Ubay bin Ka'b. Pada suatu malam yang lain aku keluar bersamanya sedangkan orang-orang tengah shalat bersama imam mereka. ‘Umar berkata, ‘Ini adalah sebaik-baik bid’ah (perkara yang baru). Namun, orang-orang yang tidur pada saat ini lebih baik daripada yang sedang shalat’ -maksudnya, melaksanakan shalat di akhir malam lebih baik- karena saat itu orang-orang mengerjakannya di awal malam." [4]

D. Disunnahkan Agar Seseorang Shalat dengan Isterinya (Keluarga) di Luar Bulan Ramadhan
Dari Abu Sa’id, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّيَـا -أَوْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَمِيْعًا- كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ.

“Jika seorang laki-laki membangunkan isterinya di malam hari, lalu keduanya shalat -atau shalat dua raka’at secara berjama’ah-, niscaya Allah mencatat keduanya sebagai para hamba laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah." [5]

E. Mengqadha Shalat Malam
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Dulu, jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengerjakan shalat malam karena sakit atau sebab lain, maka beliau shalat dua belas raka’at pada siang harinya.” [6]

Dari ‘Umar bin al-Khaththab, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَـامَ عَنْ حِزْبِهِ مِنَ اللَّيْلِ أَوْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ فَقَرَأَهُ مَا بَيْنَ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الظُّهْرِ كُتِبَ لَهُ كَأَنَّمَا قَرَأَهُ مِنَ اللَّيْلِ.

“Barangsiapa tertidur sehingga tidak membaca wirid (shalat)nya di malam hari atau sebagian darinya, lalu membaca (melaksanakan)nya pada waktu antara shalat Shubuh dan shalat Zhuhur, maka dicatat sebagaimana ia membacanya di malam hari." [7]

F. Dimakruhkan Meninggalkan Shalat Malam Bagi yang Telah Terbiasa Mengerjakannya
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadaku:

يَا عَبْدَ اللهِ لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُوْمُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ.

"Wahai 'Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, sekarang dia meninggal-kan shalat malam." [8]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Hasan: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 2123)].
[2]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (I/523 no. 759 (174))], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (IV/250 no. 2009), secara marfu'. Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/245 no. 1358), Sunan at-Tirmidzi (II/151 no. 805), Sunan an-Nasa-i (IV/156).
[3]. Muttafaq 'alaihi: [ Shahiih Muslim (I/524 no. 761)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/10 no. 1129), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/247 no. 1360).
[4]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 986)], Muwaththa' al-Imam Malik (hal. 85 no. 247), Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (IV/250 no. 2010).
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1098)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/194 no. 1295), Sunan Ibni Majah (I/423 no. 1335).
[6]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 4756)], Shahiih Muslim (I/515 no. 746 (140)).
[7]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1104)], Shahiih Muslim (I/515 no. 747), Sunan at-Tirmidzi (II/47 no. 578), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/197 no. 1299), Sunan an-Nasa-i (III/259), Sunan Ibni Majah (I/426 no. 1343).
[8]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/37 no. 1152)], Shahiih Muslim (II/814 no. 1159 (185)).

SHALAT DHUHA (SHALAT AL-AWWAABIIN)


Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi


A. Pensyari’atannya
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Kekasihku Shallallahu 'alaihi wa sallam mewasiatkan tiga perkara kepadaku: puasa tiga hari pada tiap bulan (tanggal 13, 14, 15 pada bulan Hijriyyah), dua raka’at shalat Dhuha, dan shalat witir sebelum tidur." [1]

B. Keutamaannya
Dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً، فَكُلُّ تَسْبِيْحَةٍ صَـدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٍ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٍ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِى مِنْ ذلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهَا مِنَ الضُّحَى.

“Pada masing-masing ruas jari kalian terdapat hak shadaqah. Setiap tasbih adalah shadaqah. Setiap tahmid adalah shadaqah. Setiap tahlil adalah shadaqah. Setiap takbir adalah shadaqah. Memerintah kebaikan adalah shadaqah. Mencegah kemunkaran adalah shadaqah. Semua itu tercukupi dengan mengerjakan shalat Dhuha dua raka’at." [2]

C. Bilangan Raka’atnya
Paling sedikit dua raka’at. Sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits tadi. Dan paling banyak delapan raka’at.

Dari Ummu Hani' Radhiyallahu anhuma, bahwa pada hari Fat-hu Makkah (penaklukan kota Makkah), Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mandi di rumahnya lalu shalat delapan raka’at." [3]

D. Waktunya Yang Paling Utama
Dari Zaid bin Arqam Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menemui penduduk Quba' yang sedang shalat Dhuha. Lalu beliau bersabda:

صَلاَةُ اْلأَوَّبِيْنَ إِذَا رَمَضَتِ الْفِصَالُ مِنَ الضُّحَى.

"Waktu shalat al-awwaabiin (Dhuha) adalah ketika anak unta merasa kepanasan di pagi hari." [4]

SHALAT SETELAH BERSUCI (SHALAT SUNNAH WUDHU)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, “Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Bilal ketika hendak shalat Shubuh, ‘Wahai Bilal, beritahulah aku amalan yang paling engkau harapkan (pahalanya) yang engkau kerjakan dalam Islam. Karena sesungguhnya aku mendengar suara kedua sandalmu di hadapanku di Surga.’ Dia menjawab, ‘Tidaklah aku melakukan amalan yang paling kuharapkan (pahalanya). Hanya saja aku tidak bersuci, baik saat petang maupun siang, melainkan aku shalat sunnah dengannya apa-apa yang telah ditetapkan bagiku untuk shalat.’” [5]

SHALAT ISTIKHARAH
Disunnahkan bagi yang sedang menghadapi suatu masalah agar beristikharah (meminta petunjuk) kepada Allah Ta'ala. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengajarkan kepada kami beristikharah dalam segala perkara sebagaimana beliau mengajarkan kepada kami surat dalam al-Qur-an: ‘Jika salah seorang di antara kalian menghadapi perkara, maka shalatlah dua raka’at, selain shalat wajib. Kemudian ucapkanlah:

"اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اَللّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هذَا اْلأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِيْنِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي -أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ- فَاقْدُرْهُ لِي. وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِيْنِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي -أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ- فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ."

“Ya Allah, sesungguhnya aku minta petunjuk-Mu melalui ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dari-Mu melalui kekuatan-Mu. Aku memohon karunia-Mu yang agung. Karena Engkau-lah Yang Mahakuasa sedangkan aku tidak berdaya. Engkaulah Yang Mahatahu sedangkan aku tidak mengetahui. Engkaulah Yang Maha Mengetahui alam ghaib. Ya Allah, jika menurut-Mu perkara ini baik bagi agamaku, dunia, dan akhir kesudahanku -atau mengatakan: ‘Bagi dunia dan akhiratku.’- , maka takdirkanlah ia bagiku. Namun, jika menurut-Mu perkara ini buruk bagi agamaku, dunia, dan akhir kesudahanku -atau mengatakan: ‘Dunia dan akhiratku,’- maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya. Takdirkanlah kebaikan bagiku, apa pun ia, kemudian jadikanlah aku ridha terhadapnya.”

Setelah itu, hendaknya ia menyebutkan keinginannya.[6]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 367)], Shahiih Muslim (I/499 no. 721), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/310 no. 1419).
[2]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 364)], Shahiih Muslim (I/499 no. 720), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/164 no. 1271).
[3]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/51 no. 1176)], Shahiih Muslim (I/226 no. 336 (71)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/170 no. 1277), Sunan at-Tirmidzi (I/295 no. 472), Sunan an-Nasa-i (I/126).
[4]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 368) secara ringkas], Shahiih Muslim (I/516 no. 748 (144)).
[5]. Telah disebutkan takhrijnya.
[6]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1136)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (XI/183 no. 6382), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/396 no. 1524), Sunan at-Tirmidzi (I/298 no. 478), Sunan Ibni Majah (I/440 no. 1383), Sunan an-Nasa-i (VI/80). 

SHALAT GERHANA


Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi



Jika terjadi gerhana bulan atau matahari disunnahkan mengumandangkan:

اَلصَّلاَةُ جَامِعَةٌ.

"Mari shalat berjama'ah."

Dari 'Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu, dia mengatakan, “Ketika terjadi gerhana matahari di zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka diserukanlah:

إِنَّ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ

“Sesungguhnya shalat dilakukan secara berjama’ah.” [1]

Jika orang-orang telah berkumpul di masjid, maka imam shalat dua raka’at bersama mereka sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawah ini:

Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Lalu beliau pergi ke masjid dan orang-orang pun berbaris di belakang beliau, kemudian beliau bertakbir. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca dengan bacaan yang panjang. Lantas bertakbir dan melakukan ruku' dengan panjang. Kemudian beliau mengucap: " سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ." Lalu bangkit dan tidak melakukan sujud. Setelah itu beliau membaca bacaan yang panjang, namun tidak sepanjang bacaan pertama. Kemudian bertakbir lalu melakukan ruku' dengan ruku’ yang panjang namun tidak sepanjang ruku' pertama. Setelah itu beliau mengucap: “سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ Kemudian beliau sujud.

Pada raka’at kedua, beliau melakukan seperti pada raka’at pertama. Hingga beliau juga melakukan empat ruku' dalam empat sujud dan matahari pun telah tampak kembali sebelum beliau selesai." [2]

Khutbah Setelah Shalat
Jika imam selesai salam, disunnahkan baginya berkhutbah di hadapan orang-orang. Menasihati mereka, mengingatkan, dan mendorong mereka untuk berbuat amal shalih.

Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat pada hari di mana terjadi gerhana matahari... kemudian dia menyebutkan tata cara shalat tersebut. Lalu melanjutkan, "Kemudian beliau salam, sedangkan matahari telah tampak kembali. Beliau lantas berkhutbah di hadapan orang-orang. Beliau mengatakan bahwa gerhana matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Tidaklah gerhana itu terjadi karena mati atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihatnya, maka bergegaslah untuk shalat." [3]

Dari Asma' Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh membebaskan budak pada saat terjadi gerhana matahari."[4]

Dari Abu Musa, dia berkata, “Ketika terjadi gerhana matahari. Tiba-tiba Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri dengan terkejut. Beliau khawatir jika hari itu terjadi Kiamat. Beliau mendatangi masjid kemudian mengerjakan shalat dengan berdiri, ruku', dan sujud yang terpanjang yang pernah aku lihat. Beliau lantas berkhutbah, “Ini adalah salah satu tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan oleh-Nya. Bukan lantaran mati atau lahirnya seseorang. Namun, dengan peristiwa itu Allah ingin menakuti para hamba-Nya. Jika kalian melihat hal itu terjadi, maka bersegeralah untuk mengingat Allah, berdo’a, dan beristighfar kepada-Nya." [5]

Pengertian secara lahiriyah dari sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam : “Maka bersegeralah... dan seterusnya,” menunjukkan wajibnya perbuatan tersebut. Jadi, hukum shalat gerhana adalah fardhu kifayah. Sebagaimana dikatakan Abu ‘Awanah dalam kitab Shahiihnya (II/398), "Penjelasan tentang wajibnya shalat gerhana" Kemudian di menyebutkan beberapa hadits shahih tentang masalah tersebut. Hal itu juga tampak dilakukan oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahiihnya. Dia berkata (II/38), "Bab perintah shalat ketika terjadi gerhana matahari dan bulan..." Lalu dia menyebutkan sejumlah hadits berkenaan dengan masalah tersebut.

Al-Hafizh berkata dalam Fat-hul Baari (II/527), “Pendapat Jumhur menyatakan bahwa ia adalah sunnah mu-akkadah. Abu ‘Awanah menyatakannya dalam kitab Shahiihnya sebagai perbuatan yang wajib. Dan saya tidak menjumpai pendapat seperti itu pada ulama selainnya. Hanya saja, apa yang diriwayatkan dari Malik bahwa beliau memperlakukannya sebagaimana shalat Jum’at. Dan az-Zain bin al-Munir menukil dari Abu Hanifah bahwa dia mewajibkannya. Begitupula beberapa pengarang kitab madzhab Hanafiyyah. Mereka menyatakannya sebagai hal yang wajib." [6]

SHALAT ISTISQA
Jika hujan tidak turun, dan suatu daerah tertimpa kekeringan, maka disunnahkan keluar menuju tanah lapang untuk shalat Istisqa' (memohon hujan). Kemudian seorang imam melakukan shalat dua raka’at bersama masyarakat. Setelah itu dia memperbanyak do’a dan istighfar sambil merubah letak syal (selendang)nya dan menjadikan bagian kanannya di atas bagian kirinya.

Dari 'Abbad bin Tamim z, dari pamannya, 'Abdullah Zaid, dia berkata, “Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menuju tanah lapang untuk shalat Istisqa'. Beliau menghadap ke kiblat lalu shalat dua raka’at dan membalik syalnya. Sufyan berkata, ‘Aku diberitahu al-Mas’udi dari Abu Bakr, dia berkata, ‘Beliau menjadikan bagian kanan dari syal tersebut di atas bagian kiri.’”[7]

Dan darinya, dia berkata, “Aku melihat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika keluar untuk shalat Istisqa'. Dia berkata, ‘Beliau lalu menghadapkan punggungnya ke arah para penduduk dan menghadap ke kiblat sambil berdo’a. Kemudian beliau merubah letak syalnya lantas shalat dua raka’at bersama kami. Beliau mengeraskan bacaannya pada kedua raka’at tersebut." [8]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/533 no. 1045), Shahiih Muslim (II/627 no. 910), Sunan an-Nasa-i (III/136).
[2]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/533 no. 1046)], Shahiih Muslim (II/619 no. 901 (3)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/46 no. 1168), Sunan an-Nasa-i (III/130).
[3]. Ibid.
[4]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 118)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/543 no. 1045).
[5]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/545 no. 1059)], Shahiih Muslim (II/628 no. 912), Sunan an-Nasa-i (III/153).
[6]. Tamaamul Minnah (hal. 261), dengan sedikit pengubahan.
[7]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/515 no. 1027)], ini adalah lafazh darinya, Shahiih Muslim (II/611 no. 894 (2)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/24 no. 1149), Sunan at-Tirmidzi (I/34 no. 553), Sunan an-Nasa-i (II/155) dengan lafazh hampir serupa.
[8]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 1029)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/514 no. 1025), ini adalah lafazhnya, Shahiih Muslim (II/611 no. 894 (4)), dalam riwayatnya tidak terdapat kata: "mengeraskan." Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/26 no. 1150).

SUJUD TILAWAH


Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi



Ibnu Hazm rahimahullah berkata dalam al-Muhalla (V/106, V/105), “Dalam al-Qur-an terdapat empat belas ayat sajdah. Yang pertama pada akhir surat al-A'raf, kemudian ar-Ra'd, an-Nahl, Subhaana, kaf ha ya 'ain shad, awal al-Hajj, pada akhir-akhir surat ini tidak terdapat ayat Sajdah, al-Furqaan, an-Naml, alif lam mim tanzil, shad, ha mim fushshilat, akhir wan najm, idzassamaa-un syaqqat pada ayat: ‘لاَ يَسْجُدُوْنَ’ kemudian di akhir surat iqra' bismirabbikalladzi khalaq.”

A. Hukum Sujud Tilawah
Ibnu Hazm melanjutkan, "Sujud ini tidaklah wajib, namun ia adalah keutamaan (sunnah). Sujud ini dilakukan saat shalat wajib dan sunnah. Juga pada selain shalat di setiap waktu, ketika matahari terbit, tenggelam, maupun saat pertengahan. Baik menghadap ke kiblat maupun tidak. Baik dalam keadaan suci ataupun tidak."

Saya katakan, "Sujud ini dikatakan sebagai keutamaan, bukan kewajiban karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah membaca ‘Wan Najm’ lalu sujud. [1]

Zaid bin Tsabit pernah membacanya di hadapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tetapi beliau tidak sujud [2] untuk menunjukkan kebolehannya. Sebagaimana disebutkan al-Hafizh dalam Fat-hul Baari (II/555), Ibnu Hazm berkata (V/111), “Sujud ini boleh dilakukan tanpa bersuci dan tanpa menghadap ke kiblat karena ia bukanlah shalat. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

صَلاَةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى.

“Shalat malam maupun siang dikerjakan dua raka’at dua raka’at.” [3]

Apa yang kurang dari dua raka’at, maka bukanlah shalat. Kecuali ada nash yang menyatakan bahwa ia adalah shalat. Seperti satu raka’at pada shalat Khauf, Witir, dan shalat Jenazah. Tidak ada nash yang menyatakan bahwa sujud tilawah adalah shalat."

B. Keutamaannya
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ، اِعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي يَقُوْلُ: يَاوَيْلَهُ، أُمِرَ بِالسُّجُوْدِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ، وَأُمِرْتُ بِالسُّجُوْدِ فَعَصَيْتُ فَلِيَ النَّارُ.

“Jika anak Adam membaca ayat Sajdah kemudian bersujud, maka syaitan menjauh darinya sambil menangis dan berkata, ‘Alangkah celakanya. Dia diperintah sujud kemudian bersujud, lalu ia mendapat Surga. Sedangkan aku diperintah sujud namun membangkang, lalu aku mendapat Neraka.’” [4]

C. Bacaan yang Diucapkan Ketika Sujud
Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, Pada suatu malam Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca (do’a) di saat sujud Qur-an, beliau membacanya berulang-ulang ketika sujud sajdah:

سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِي خَلَقَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ.

“Wajahku bersujud pada Dzat Yang menciptakannya, serta membuka pendengaran dan penglihatannya dengan daya serta kekuatan-Nya."[5]

Dari ‘Ali Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Jika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sujud, beliau mengucapkan:

"اَللّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، أَنْتَ رَبِّي، سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِي شَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ."

“Ya Allah, aku bersujud kepada-Mu, beriman kepada-Mu, dan berserah diri kepada-Mu. Engkaulah Tuhanku. Wajahku bersujud pada Dzat Yang membuka pendengaran dan penglihatannya. Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta.” [6]

Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Aku bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu datanglah seorang laki-laki. Lantas dia berkata, ‘Semalam aku bermimpi. Seakan-akan aku shalat menghadap ke pangkal pohon. Aku membaca ayat sajdah lalu bersujud. Kemudian pohon itu bersujud karena sujudku. Aku mendengar pohon tadi mengucapkan:

"اَللّهُمَّ احْطِطْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا، وَاكْتُبْ لِي بِهَا أَجْرًا، وَاجْعَلْهَا لِي عِنْدَكَ ذُخْرًا."

“Ya Allah, hapuslah dosaku dengannya. Catatlah ia sebagai pahalaku. Dan jadikanlah ia simpananku di sisi-Mu.”

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma berkata, “Aku melihat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca ayat Sajdah lalu bersujud. Dalam sujudnya beliau membaca do’a yang diceritakan laki-laki tadi tentang ucapan pohon tersebut.” [7]

Sujud Syukur
Disunnahkan bagi orang yang memperoleh nikmat, terhindar dari bencana, atau menerima kabar gembira, agar bersujud. Sebagai wujud peneladanan kita terhadap Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dari Abu Bakrah Radhiyallahu anhu : “Jika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mendapat sesuatu yang menggembirakan atau merasa bahagia, beliau menyungkur sujud sebagai rasa syukur kepada Allah Tabaaraka wa Ta’aala.” [8]

Hukumnya sama dengan hukum sujud tilawah.

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/553 no. 1070)], Shahiih Muslim (I/405 no. 576), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/828 no. 1393), Sunan an-Nasa-i (II/160).
[2]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/554 no. 1073)], Shahiih Muslim (I/406 no. 577), Sunan an-Nasa-i (II/160), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/280 no. 1391), Sunan at-Tirmidzi (II/44/573).
[3]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 1151)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/173 no. 1281), Sunan at-Tirmidzi (II/54 no. 594), Sunan Ibni Majah (I/419 no. 1322), Sunan an-Nasa-i (III/227).
[4]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 369)], Shahiih Muslim (I/87 no. 81).
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 1255)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/289 no. 1401), Sunan at-Tirmidzi (V/47 no. 577), Sunan an-Nasa-i (II/222).
[6]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 866)], Shahiih Muslim (I/534 no. 771), Sunan Ibni Majah (I/335 no. 1054), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/ 463 no. 746), Sunan at-Tirmidzi (V/149 no. 3481).
[7]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 865)], Sunan at-Tirmidzi (II/46 no. 576), Sunan Ibni Majah (I/334 no. 1053).
[8]. Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1143)], Sunan Ibni Majah (I/446 no. 1394), ini adalah lafazhnya, Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (VII/462 no. 2757), Sunan at-Tirmidzi (III/69 no. 1626). 

SUJUD SAHWI


Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi


Disebutkan dalam riwayat bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah lupa dalam shalat. Terdapat juga riwayat shahih yang menyebutkan bahwa beliau bersabda:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيْتُ فَذَكِّرُوْنِيْ.

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa seperti kalian. Aku lupa sebagaimana kalian juga lupa. Jika aku lupa, maka ingatkanlah aku.”[1]

Beliau mensyari'atkan sujud sahwi bagi umatnya dalam beberapa hukum sebagaimana kami ringkaskan sebagai berikut:[2]

1. Jika bangkit dari raka’at kedua pada shalat wajib tanpa tasyahhud awal
Dari ‘Abdullah bin Buhainah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengimami kami shalat wajib. Pada dua raka’at (pertama) beliau bangkit tanpa duduk (tasyahhud awal). Orang-orang lantas ikut berdiri mengikutinya. Ketika beliau telah menyelesaikan shalatnya, sedang kami menunggu beliau salam, beliau bertakbir lalu sujud dua kali dalam keadaan duduk. Setelah itu, beliau mengucapkan salam. [3]

Dari al-Mughirah bin Syu'bah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ فَلَمْ يَسْتَتِمَّ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ، فَإِذَا اسْتَتَمَّ قَائِمًا فَلاَ يَجْلِسْ وَيَسْجُدُ سَجْدَتَي السَّهْوِ.

"Jika salah seorang di antara kalian bangkit dari dua raka’at, dan belum berdiri dengan sempurna, maka hendaklah ia duduk. Namun, jika ia telah berdiri dengan sempurna, maka janganlah ia duduk. Dan hendaklah ia melakukan sujud sahwi dua kali."[4]

2. Jika shalat lima raka’at
Dari 'Abdullah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat Zhuhur lima raka’at. Lalu ada yang berkata pada beliau, ‘Apakah terjadi penambahan dalam shalat?’ Beliau berkata, ‘Mengapa?’ Dia menjawab, ‘Engkau shalat lima raka’at.’ Beliau kemudian sujud dua kali setelah salam.” [5]

3. Jika salam pada raka’at kedua atau ketiga
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah salam pada raka’at kedua. Lalu berkatalah Dzul Yadain, "Apakah engkau mengqashar shalat atau lupa, wahai Rasulullah?" Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, “Apakah benar yang dikatakan oleh Dzul Yadain?” Orang-orang menjawab, “Benar.” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bangkit dan shalat dua raka’at lagi. Setelah itu beliau salam lalu bertakbir dan sujud sebagaimana sujudnya (dalam shalat), atau lebih panjang. Kemudian beliau bangun."[6]

Dari ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat ‘Ashar. Kemudian beliau salam pada raka’at ketiga lalu masuk ke rumahnya. Seorang laki-laki yang dipanggil al-Khirbaq lalu mendatanginya. Dia memiliki tangan yang panjang. Lalu dia menyebutkan apa yang telah beliau lakukan. Beliau lantas keluar dengan marah sambil menyeret selendangnya hingga tiba di tempat orang-orang. Beliau bertanya, ‘Apakah benar yang dikatakan orang ini?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Kemudian beliau shalat satu raka’at kemudian salam. Setelah itu beliau sujud dua kali lalu salam lagi.” [7]

4. Jika lupa bilangan raka’at shalat
Dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, ia mengatakan bahwa ‘Abdullah berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat.” Ibrahim berkata: ‘Beliau menambah atau mengurangi [8].’ Ketika selesai salam, ada yang berkata kepadanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah telah terjadi perubahan dalam shalat?’ Beliau bertanya, ‘Mengapa?’ Mereka menjawab, ‘Anda shalat sekian raka’at.’ Dia berkata, ‘Beliau lalu memutar kakinya dan menghadap Kiblat. Kemudian beliau sujud dua kali dan salam. Setelah itu beliau menghadap kami dan bersabda:

إِنَّهُ لَوْ حَدَثَ فِي الصَّلاَةِ شَيْءٌ أَنْبَأْتُكُمْ بِهِ وَلكِنْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ، أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيْتُ فَذَكِّرُوْنِي وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ
فِي صَلاَتِهِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ، فَلْيَتِمْ عَلَيْهِ، ثُمَّ لِيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ.

“Sesungguhnya, jika terjadi sesuatu pada shalat, niscaya kalian aku beritakan. Akan tetapi aku hanyalah seorang manusia. Aku lupa sebagaimana kalian juga lupa. Jika aku lupa, maka ingatkanlah aku. Jika salah seorang di antara kalian ragu-ragu dalam shalatnya, maka hendaklah dia berusaha mencari mana yang benar. Lalu menyempurnakannya, setelah itu hendaklah dia sujud dua kali.” [9]

“Mencari yang benar,” bisa dengan cara mengingat-ingat apa yang telah ia baca dalam shalat. Bisa jadi dia ingat telah membaca dua surat dalam dua raka’at. Akhirnya dia mengetahui bahwa dia telah shalat dua raka’at, bukan satu raka’at. Terkadang dia teringat telah melakukan tasyahhud awal. Sehingga dia mengetahui bahwa dia telah shalat dua raka’at, tidak satu raka’at. Dan dia telah shalat tiga raka’at, bukan dua raka’at. terkadang, dia ingat telah mem-baca al-Faatihah saja pada satu raka’at dan juga raka’at berikutnya. Akhirnya dia sadar bahwa dia telah shalat empat raka’at, tidak tiga raka’at. Dan begitulah seterusnya. Jika dia mencari yang benar dengan cara mengambil yang lebih dekat pada yang benar, maka hilanglah keraguan tadi. Dalam masalah ini, tidak ada perbedaan antara menjadi imam ataupun shalat sendiri. [10]

Jika dia telah berusaha mencari yang benar, namun dia belum bisa menentukan suatu kecenderungan, maka dia harus menguatkan perkara yang yakin, yaitu yang paling sedikit. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:

Dari Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِـيْ صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى؟ ثَلاَثًا أَوْ أَرْبَعًـا؟ فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَـا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ. فَإِنْ كَـانَ صَلَّى خَمْسًا شَفِعْنَ لَهُ صَلاَتُهُ، وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا ِلأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيْمًا لِلشَّيْطَانِ.

“Jika salah seorang di antara kalian ragu dalam shalatnya. Sehingga dia tidak tahu berapa raka’at yang telah dia kerjakan. Tiga raka’at ataukah empat raka’at. Maka hendaklah ia tepis keraguan itu, dan ikutilah yang dia yakini. Setelah itu, hendaklah dia sujud dua kali sebelum salam. Jika ternyata dia mengerjakan lima raka’at, maka dia telah menggenapkan shalatnya. Namun, jika dia mengerjakan empat raka’at, maka dua sujud tadi adalah penghinaan bagi syaitan.” [11]

A. Hukum Sujud Sahwi
Hukum sujud sahwi adalah wajib. Karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkannya. Sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits tadi. Dan juga karena beliau senantiasa melakukannya ketika lupa. Beliau tidak pernah meninggalkannya sama sekali.

B. Letak Sujud Sahwi
Pendapat yang paling baik adalah pembedaan antara menambah dan mengurangi, antara ragu dan berusaha mencari yang benar, juga antara ragu dan mengikuti yang diyakini. Semua nash-nash ini bisa diterapkan. Dan pembedaan ini sangat masuk akal.

Jika ada yang kurang dalam shalat, seperti meninggalkan tasyahhud awal, maka shalat memerlukan penambahan. Agar shalat menjadi sempurna, maka penambahannya dilakukan sebelum salam. Karena salam adalah penutup shalat.

Jika terjadi penambahan, seperti kelebihan satu raka’at -tidak pernah terkumpul dua tambahan dalam satu shalat-, maka sujud dilakukan setelah salam. Karena ia merupakan penghinaan bagi syaitan. Ia memiliki kedudukan sebagai satu shalat yang terpisah, yang dengannya shalat yang kurang menjadi sempurna. Sebab, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjadikan dua sujud seperti halnya satu raka’at.

Begitupula jika dia ragu dan berusaha mencari yang benar, maka dia harus menyempurnakan shalatnya, dan kedua sujud tadi sebagai penghinaan bagi syaitan. Maka, kedua sujud tadi dilakukan setelah salam. Demikian pula ketika dia selesai salam, sedangkan sebagian shalatnya belum dikerjakan kemudian dia menyempurnakannya, maka dia telah menyempurnakan shalatnya tadi sedangkan salam pada shalat tersebut merupakan tambahan. Sujud dalam kondisi semacam ini dikerjakan setelah salam. Karena ia merupakan penghinaan bagi syaitan.

Adapun jika dia ragu dan tidak bisa menentukan mana yang benar, maka dalam kondisi semacam ini bisa jadi dia shalat empat raka’at atau lima raka’at. Jika dia shalat lima raka’at, maka kedua sujud tadi telah menggenapkan shalatnya. Dengan begitu dia seolah-olah shalat enam raka’at, bukan lima. Sujud ini dilakukan sebelum salam.

Pendapat yang kita kuatkan ini merupakan penerapan dari semua hadits-hadits tadi. Tidak ada satu hadits pun yang ditinggalkan. Sekalipun dengan menggunakan kias yang benar dalam masalah yang tidak terdapat nashnya. Juga dengan mengaitkan yang bukan nash dengan nash yang mirip dengannya.[12]

C. Sujud Sahwi Karena Meninggalkan Salah Satu Sunnah
Barangsiapa meninggalkan salah satu sunnah karena lupa, maka dia harus sujud sahwi.

Dasarnya adalah sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

لِكُلِّ سَهْوٍ سَجْدَتَانِ.

“Jika terjadi kelupaan dalam shalat, maka harus sujud dua kali.” [13]

Hukum sujud dalam kondisi ini adalah sunnah, bukan wajib. Agar far'i (cabang) tidak bertambah dari hukum asalnya.[14]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 2339)], Irwaa’ul Ghaliil (no. 339).
[2]. Fiqhus Sunnah (I/190).
[3]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/92 no. 1224)], Shahiih Muslim (I/399 no. 570), Sunan an-Nasa-i (III/19), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/347 no. 1021), Sunan at-Tirmidzi (I/242 no. 389), Sunan Ibni Majah (I/381 no. 1206).
[4]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (II/109-110)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/350 no. 1023), Sunan Ibni Majah (I/381 no. 1208). Yang harus diperha-tikan adalah, dalam hadits tidak dibedakam antara bangkit yang lebih dekat ke berdiri sehingga dia harus berdiri atau lebih dekat ke duduk sehingga ia harus duduk. Yang benar adalah sebagaimana dijelaskan dalam hadits bahwa jika ia teringat sebelum berdiri dengan sempurna, maka dia harus duduk, sekalipun dia telah hampir berdiri secara sempurna.
[5]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/93 no. 1226)], Shahiih Muslim (I/401 no. 572 (91)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/325 no. 1006), Sunan at-Tirmidzi (I/243 no. 390), Sunan Ibni Majah (I/380 no. 1205), Sunan an-Nasa-i (III/31).
[6]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/98 no. 1228)], Shahiih Muslim (I/403 no. 573), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/311 no. 995), Sunan at-Tirmidzi (I/247 no. 397), Sunan an-Nasa-i (III/30), Sunan Ibni Majah (I/383 no. 1214).
[7]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1001)], Shahiih Muslim (I/404 no. 574), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/323 no. 1005), Sunan an-Nasa-i (III/ 26), Sunan Ibni Majah (I/384 no. 1215).
[8]. Ibrahim tadi ragu. Yang benar adalah beliau menambah. Sebagaimana di-sebutkan oleh Ibnul Atsir dalam kitab Jaami'ul Ushuul (V/541).
[9]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/503 no. 401)], Shahiih Muslim (I/400 no. 572), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/326 no. 1007), Sunan an-Nasa-i (III/31), Sunan Ibni Majah (I/382 no. 1211).
[10]. Majmuu' al-Fataawaa karya Ibnu Taimiyyah (XXIII/13).
[11]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 632)], Shahiih Muslim (I/400 no. 571), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/330 no. 1011), Sunan an-Nasa-i (III/27).
[12]. Majmuu' al-Fataawaa (XXIII/24).
[13]. Hasan: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 917)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/357 no. 1025), Sunan Ibni Majah (I/385 no. 1219).
[14]. As-Sailuul Jarraar (I/275).

Read more »

Dimakruhkan Dalam Shalat, Diperbolehkan Dalam Shalat Dan Yang Membatalkan Shalat

TATA CARA SHALAT

Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi


F. Hal-Hal Yang Dimakruhkan Dalam Shalat:
1. Bermain-main dengan pakaian atau anggota badan tanpa keperluan
Dari Mu'aiqib Radhiyallahu anhu : "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada orang yang mengusap debu ketika sujud, ‘Jika engkau melakukannya, maka cukup sekali saja.’" [1]

2. Berkacak pinggang
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata:

نُهِيَ أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ مُخْتَصَرًا.

"Dilarang shalat sambil berkacak pinggang." [2]

3. Mengangkat pandangan ke langit
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ رَفْعِهِمْ أَبْصَارَهُمْ عِنْدَ الدُّعَاءِ فِي الصَّلاَةِ إِلَى السَّمَاءِ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ.

"Hendaklah orang-orang berhenti mengangkat pandangan mereka ke langit ketika berdo’a dalam shalat atau mata mereka akan tersambar." [3]

4. Menoleh tanpa keperluan
Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang menoleh dalam shalat. Lalu beliau bersabda:

هُوَ اخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ الْعَبْدِ.

"Ia merupakan sebuah curian yang dilakukan syaitan terhadap shalat seorang hamba." [4]

5. Memandang pada sesuatu yang memalingkan
Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat dengan mengenakan pakaian yang ada tandanya. Kemudian beliau bersabda:

شَغَلَتْنِيْ أَعْلاَمُ هذِهِ، اِذْهَبُوْا بِهَـا إِلَى أَبِيْ جَهْمٍ، وَأْتُوْنِـيْ بِأَنْبِجَانِيَّةِ.

"Tanda pada pakaian ini telah menyibukkanku. Bawalah ia ke Abu Jahm dan bawakan aku anbijaniyyah (pakaian tebal dari wol yang tidak ada tandanya)."[5]

6. Sadl dan menutup mulut
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu:

أَنَّ رَسُـوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ السَّدْلِ فِي الصَّلاَةِ وَأَنْ يَغْطِيَ الرَّجُلُ فَاهُ.

"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang sadl dan menutup mulut ketika shalat."[6]

Syamsul Haq berkata dalam 'Aunul Ma'buud (II/347): Al-Khaththabi berkata: As-sadl adalah menjulurkan pakaian hingga menyentuh tanah.

Disebutkan dalam an-Nailul Authaar: Abu 'Ubaidah berkata tentang makna as-sadl adalah menjulurkan pakaian tanpa menyatukan kedua sisinya ke depan. Jika disatukan ke depan, maka tidak dinamakan sadl. Pengarang kitab an-Nihaayah berkata: Maknanya adalah berkemul dengan pakaiannya dan memasukkan kedua tangan dari dalam lalu ruku' dan sujud dalam keadaan seperti itu. Ini berlaku pada gamis dan jenis pakaian yang lain. Ada pula yang mengatakan: meletakkan bagian tengah sarung di atas kepala dan menjulurkan kedua tepiannya ke kanan dan ke kiri tanpa meletakkannya di atas kedua bahu. Al-Jauhari berkata: sadala tsaubahu yasduluhu sadlan, dengan dhammah artinya arkhahu (menjulurkannya). Tidak masalah mengartikan hadits pada semua arti ini, karena sadl mengandung banyak arti. Membawa kalimat yang mengandung banyak arti pada semua maknanya adalah madzhab yang kuat.

7. Menguap
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

اَلتَّثَـاؤُبُ فِي الصَّلاَةِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا تَثَـاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَكْظِمْ مَا اسْتَطَاعَ.

"Menguap dalam shalat adalah dari syaitan. Jika salah seorang dari kalian menguap, maka tahanlah sebisa mungkin." [7]

8. Meludah ke arah kiblat atau ke kanan
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلِّي فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قِبَلَ وَجْهِهِ، فَلاَ يَبْصُقَنَّ قِبَلَ وَجْهِهِ وَلاَ عَنْ يَمِيْنِهِ. وَلِيَبْصُقْ عَنْ يَسَـارِهِ تَحْتَ رِجْلِهِ الْيُسْرَى، فَإِنْ عَجِلَتْ بِهِ بَادِرَةٌ فَلْيَقُلْ بِثَوْبِهِ هكَذَا. ثُمَّ طَوَى ثَوْبَهُ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ.

"Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian berdiri untuk shalat, maka sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala berada di hadapannya. Maka janganlah ia meludah ke arah depan atau ke kanan. Hendaklah ia meludah ke sebelah kiri di bawah kaki kirinya. Dan jika terlanjur keluar, maka hendaklah ia tumpahkan ke pakaiannya." Beliau kemudian melipat bajunya satu sama lain.[8]

9. Menyilangkan jari-jemari
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فِيْ بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ كَانَ فِي صَلاَةٍ حَتَّى يَرْجِعَ، فَلاَ يَقُلْ هكَذَا، وَشَبَكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ.

"Jika salah seorang di antara kalian wudhu' di rumahnya kemudian mendatangi masjid, maka dia berada dalam sebuah shalat hingga pulang. Janganlah ia melakukan seperti ini." Beliau menyilangkan jari-jemarinya. [9]

10. Menggulung rambut dan pakaian
Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةٍ، لاَ أَكِفَّ شَعْرًا وَلاَ ثَوْبًا.

"Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh (anggota sujud) dan tidak menggulung rambut maupun pakaian."

11. Mendahulukan kedua lutut daripada kedua tangan ketika sujud
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيْرُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ.

"Jika salah seorang di antara kalian hendak sujud, maka janganlah turun sebagaimana unta menderum. Hendaklah ia letakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya."

12. Membentangkan kedua tangan (menempel dengan lantai) ketika sujud
Dari Anas Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

اِعْتَدِلُوْا فِـي السُّجُوْدِ، وَلاَ يَبْسُطُ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ اِنْبِسَاطَ الْكَلْبِ.

"Bersikaplah pertengahan ketika sujud, dan janganlah salah seorang di antara kalian membentangkan tangannya sebagaimana anjing." [10]

13. Shalat ketikan hidangan sudah disajikan atau menahan buang air besar dan kecil
Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Aku mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ، وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ اْلأَخْبَثَانِ.

"Tidak (sempurna) shalat ketika hidangan sudah disajikan, dan tidak (sempurna) pula shalat orang yang menahan buang air besar atau kecil." [11]

14. Mendahului imam
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ اْلإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ، أَوْ يَجْعَلَ اللهُ صُوْرَتَهُ صُوْرَةَ حِمَارٍ.

"Tidakkah salah seorang di antara kalian takut, Allah menjadikan kepalanya seperti kepala keledai bila dia mengangkat kepalanya sebelum imam. Atau menjadikan rupanya seperti rupa keledai." [12]

G. Hal-Hal Yang Diperbolehkan Dalam Shalat
1. Berjalan untuk keperluan
Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat di dalam rumah sedangkan pintunya tertutup. Lalu aku datang dan minta dibukakan. Kemudian beliau berjalan dan membukakan pintu untukku. Setelah itu beliau kembali ke tempat shalatnya. ‘Aisyah menyifatkan bahwa pintu tersebut berada di arah Kiblat." [13]

2. Menggendong anak kecil
Dari Abu Qatadah: "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat sambil menggendong Umamah, puteri Zainab binti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan Abu al-'Ash bin ar-Rabi'. Jika beliau berdiri, beliau menggendongnya. Namun jika sujud, beliau meletakkannya." [14]

3. Membunuh al-aswadain (kalajengking dan ular)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu : "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh agar membunuh dua binatang hitam dalam shalat, yaitu kalajengking dan ular." [15]

4. Menoleh dan memberi isyarat untuk keperluan
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menderita sakit. Lalu kami shalat di belakang beliau yang shalat dalam keadaan duduk. Kemudian beliau menoleh dan melihat kami berdiri. Ke-mudian beliau mengisyaratkan kepada kami (untuk duduk), lalu kami pun duduk."[16]

5. Meludah di baju atau mengeluarkan sapu tangan dari saku
Dalilnya telah disebutkan dalam hadits Jabir tentang larangan meludah ke arah kiblat.

6. Memberi isyarat untuk menjawab salam
Dari 'Abdullah bin 'Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menuju Quba' untuk shalat di sana. Tak lama kemudian datanglah orang-orang Anshar dan mengucapkan salam kepada beliau yang sedang shalat. Lalu aku berkata pada Bilal, "Bagaimana engkau melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab salam ketika mereka memberi salam kepada beliau padahal beliau sedang shalat?" Dia berkata, "Beliau memberi isyarat seperti ini." Dia membuka telapak tangannya. Ja'far bin 'Aun (perawi hadits) pun membuka telapak tangannya. Ia jadikan bagian dalamnya menghadap ke bawah dan bagian luarnya ke atas."[17]

7. Mengucapkan tasbih bagi laki-laki dan bertepuk tangan bagi wanita jika terjadi sesuatu dalam shalat
Dari Sahl bin Sa'd Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ مَا لَكُمْ حِيْنَ نَابَكُمْ شَيْءٌ فِي الصَّلاَةِ أَخَذْتُمْ فِي التَّصْفِيْقِ، إِنَّمَا التَّصْفِيْقُ لِلنِّسَاءِ، مَنْ نَابَهُ شَيْءٌ فِي صَلاَتِهِ فَلْيَقُلْ: سُبْحَانَ اللهِ، فَإِنَّهُ لاَ يَسْمَعُهُ أَحَدٌ حِيْنَ يَقُوْلُ سُبْحَانَ اللهِ إِلاَّ الْتَفَتْ...

"Wahai manusia, kenapa jika terjadi sesuatu dalam shalat kalian bertepuk tangan? Sesungguhnya bertepuk tangan adalah untuk wanita. Barangsiapa menemui kejadian dalam shalatnya, hendaklah ia mengucapkan: subhaanallah. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mendengarnya ketika ia mengucap: subhaanallah melainkan ia telah berpaling...[18]

8. Mengingatkan imam
Dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma : "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan suatu shalat lalu membaca surat dan bacaannya tercampur (keliru). Ketika selesai beliau berkata pada Ubay, "Apakah engkau shalat bersama kami?" Dia berkata, "Ya." Beliau berkata, "Lalu, apakah yang menghalangimu (untuk membenarkan bacaanku tadi?" [19]

9. Mencolek kaki orang yang sedang tidur
Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Aku menyelonjorkan kakiku pada kiblat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang sedang shalat. Jika sujud, beliau mencolekku dan aku pun mengangkatnya. Jika beliau berdiri aku menyelonjorkannya lagi." [20]

10.Menahan orang yang ingin lewat di depannya
Dari Abu Sa'id Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Aku mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ، فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يُجْتَـازُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْ فِي نَحْرِهِ، فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ.

"Jika salah seorang di antara kalian shalat menghadap ke sesuatu yang menjadi pembatas baginya dari manusia, kemudian seseorang hendak lewat di depannya, maka doronglah pada lehernya. Jika dia menolak, maka perangilah (lawanlah) dia. Karena sesungguhnya dia adalah syaitan." [21]

11. Menangis
Dari 'Ali Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Tidak ada seorang penunggang kuda pun di antara kami pada hari perang Badar selain al-Miqdad. Aku tidak melihat seorang pun di antara kami melainkan sedang tidur (malam). Kecuali Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau shalat sambil menangis di bawah sebuah pohon hingga Shubuh." [22]

H. Hal-Hal Yang Membatalkan Shalat
1. Yakin adanya hadats
Dari 'Abbad bin Tamim Radhiyallahu anhu, dari pamannya: “Ada seseorang yang mengadu kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang sesuatu (hadats) yang seolah-olah terjadi dalam shalatnya. Lalu beliau bersabda:

لاَ يَنْفَتِلْ -أَوْ لاَ يَنْصَرِفْ- حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيْحًا.

"Janganlah ia membubarkan (membatalkan shalatnya) atau berpaling hingga dia mendengar suara atau mencium bau."[23]

2. Meninggalkan salah satu rukun atau syarat dengan sengaja atau tanpa alasan
Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada orang yang buruk shalatnya:

اِرْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ.

"Kembali dan shalatlah, karena engkau belum shalat." [24]

Juga perintah beliau terhadap orang yang pada punggung telapak kakinya terdapat sedikit bagian yang tidak terkena air wudhu’ agar mengulang wudhu' dan shalatnya.

3. Makan dan minum dengan sengaja
Ibnul Mundzir rahimahullah berkata, "Para ahlul ilmi sepakat bahwa orang yang makan atau minum dengan sengaja ketika shalat wajib, maka dia wajib mengulang shalatnya.[25] " Begitupula pada shalat sunnah menurut jumhur (mayoritas ulama. Karena apa yang membatalkan shalat wajib, juga membatalkan shalat sunnah.

4. Berbicara dengan sengaja bukan untuk kemaslahatan shalat
Dari Zaid bin Arqam, dia berkata, "Dulu kami berbicara dalam shalat. Seseorang di antara kami bercakap-cakap dengan kawan di sebelahnya yang sedang shalat. Hingga turunlah ayat:

.وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

‘... Dan berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.’ [Al-Baqarah: 238]. Kami pun diperintah diam dan dilarang berbicara." [26]

5. Tertawa
Ibnul Mundzir rahimahullah menukil ijma' bahwa tertawa membatalkan shalat.
6. Lewatnya perempuan baligh, keledai, atau anjing hitam di antara orang yang shalat dan tempat sujudnya

Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

إِذَا قَـامَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي، فَإِنَّهُ يَسْتُرُهُ إِذَا كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ. فَإِذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ آخِرَةِ الرَّحْلِ فَإِنَّهُ يَقْطَعُ صَلاَتَهُ الْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ وَالْكَلْبُ اْلأَسْوَد.ُ

"Jika salah seorang dari kalian shalat, maka dia terbatasi jika di hadapannya terdapat (pembatas) seukuran pelana hewan tunggangan. Jika di hadapannya tidak terdapat (pembatas) seukuran pelana hewan tunggangan, maka shalatnya terputus oleh keledai, wanita, dan anjing hitam."

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/79 no. 1207)], Shahiih Muslim (I/388 no. 546 (49)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/223 no. 934), Sunan at-Tirmidzi (I/235 no. 377), Sunan Ibni Majah (I/327 no. 1026), dan Sunan an-Nasa-i (III/7).
[2]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/88 no. 1220)], Shahiih Muslim (I/387 no. 545), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/223 no. 94), Sunan at-Tirmidzi (I/237 no. 381), dan Sunan an-Nasa-i (II/127).
[3]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 343)], Shahiih Muslim (I/321 no. 429), dan Sunan an-Nasa-i (III/39).
[4]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 7047)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/234 no. 751), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/178 no. 897), dan Sunan an-Nasa-i (II/8).
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2066)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/234 no. 752), Shahiih Muslim (I/391 no. 556), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/182 no. 901), Sunan an-Nasa-i (II/72), dan Sunan Ibni Majah (II/1176 no. 3550).
[6]. Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 966)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/347 no. 629), Sunan at-Tirmidzi (I/234 no. 376), pada kalimat pertama saja. Sunan Ibni Majah (I/310 no. 966), pada kalimat kedua saja.
[7]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 3013)], Sunan at-Tirmidzi (I/230 no. 368), dan Shahiih Ibni Khuzaimah (II/61 no. 920).
[8]. Shahih: [Shahiih Muslim (IV/2303 no. 3008)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/144 no. 477).
[9]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 445)] dan Shahiih Ibni Khuzaimah (I/206).
[10]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/301 no. 822)], Shahiih Muslim (I/355 no. 493), Sunan at-Tirmidzi (I/172 no. 275), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/166 no. 883), Sunan Ibni Majah (I/288/892), dan Sunan an-Nasa-i (II/212) dengan lafazh serupa.
[11]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 7509)], Shahiih Muslim (I/393 no. 560), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/160 no. 89).
[12]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/182 no. 691)], ini adalah lafazhnya. Shahiih Muslim (I/320 no. 427), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/330 no. 609), Sunan an-Nasa-i (II/69), dan Sunan Ibni Majah (I/308 no. 961).
[13]. Hasan: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1151)], Sunan at-Tirmidzi (II/56 no. 598), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/190 no. 910), dan Sunan an-Nasa-i (III/11).
[14]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/590 no. 516)], Shahiih Muslim (I/385 no. 543), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/185 no. 904), dan Sunan an-Nasa-i (II/45).
[15]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 1147)] dan Shahiih Ibni Khuzaimah (II/41 no. 869).
[16]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1145)], Shahiih Muslim (I/309 no. 413), Sunan an-Nasa-i (III/9), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/313 no. 588).
[17]. Hasan shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 820)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/195 no. 915).
[18]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/107 no. 1234)], Shahiih Muslim (I/316/421), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/216 no. 926).
[19]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 803)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/175 no. 894).
[20]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/80 no. 1209)], ini adalah lafazhnya, serta Shahiih Muslim (I/367 no. 512 (272)), dengan lafazh serupa.
[21]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 638)] dan Shahiih Muslim (I/362 no. 505 (259)).
[22]. Sanadnya shahih: [Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (XXI/36 no. 225)], dan Shahiih Ibni Khuzaimah (II/52 no. 899).
[23]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/237 no. 137)], Shahiih Muslim (I/272 no. 361), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/299 no. 174), Sunan Ibni Majah (I/171 no. 513), dan Sunan an-Nasa-i (I/99).
[24]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/267, 277 no. 793)], Shahiih Muslim (I/298 no. 397), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/96-93 no. 841), Sunan at-Tirmidzi (I/186-185 no. 301), Sunan an-Nasa-i (II/125).
[25]. Al-Ijma' hal. 40.
[26]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (I/383 no. 539)], Sunan at-Tirmidzi (I/252 no. 4003), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/227 no. 936), Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/72 no. 1200), dan Sunan an-Nasa-i (III/18), pada kedua riwayat terakhir ini tidak terdapat kalimat: "Dan kami dilarang ber-bicara."
(Sumber : http://almanhaj.or.id)

Read more »

Dzikir Dan Do’a Yang Disyari'atkan Setelah Shalat Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

E. Dzikir Dan Do’a yang Disyari'atkan Setelah Shalat
1. Dari Tsauban Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam selesai shalat, beliau beristighfar tiga kali dan mengucap:

"اَللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَـارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَام."

"Ya Allah, Engkaulah Pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan. Mahasuci Engkau, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan."

Al-Walid berkata, "Aku berkata pada al-Auza'i: "Bagaimana istighfar itu?" Dia berkata: "Ucapkanlah [1]: "أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ.”

2. Dari Abu az-Zubair, dia berkata, "Dulu, ketika Ibnu az-Zubair selesai salam pada akhir shalat, dia mengucap:

"لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ، وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ."

"Tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya seluruh kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan (pertolongan) Allah. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi melainkan Allah. Kami tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah, dan pujian yang baik. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi melainkan Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir benci.”

Dia berkata, "Dahulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertahlil dengan do’a tersebut pada akhir setiap shalat." [2]

3. Dari Warrad bekas budak al-Mughirah bin Syu'bah, dia berkata, "Al-Mughirah bin Syu'bah menulis surat kepada Mu'awiyah, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam jika selesai shalat dan salam, beliau mengucap:

"لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، اَللّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ."

"Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan haq selain Allah. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya-lah segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dan Dia Mahakuasa atas segala se-suatu. Ya Allah, tidak ada yang menghalangi apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang mampu memberi apa yang Engkau tahan. Tidaklah bermanfaat bagi pemilik kekayaan. Karena dari-Mu-lah kekayaan itu." [3] *

4. Dari Ka'b bin 'Ujrah, dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm, beliau bersabda:

مُعَقَّبَاتٌ لاَ يُخِيْبُ قَائِلُهُنَّ -أَوْ فَاعِلُهُنَّ- : ثَلاَثَ وَثَلاَثُوْنَ تَسْبِيْحَةٍ، وَثَلاَثُ وَثَلاَثُوْنَ تَحْمِيْدَةٍ، وَأَرْبَعُ وَثَلاَثُوْنَ تَكْبِيْرَةٍ، فِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ.

"Do’a setelah shalat yang tidak akan merugi orang yang membacanya atau yang melakukannya: tigapuluh tiga tasbih, tigapuluh tiga tahmid, dan tigapuluh empat takbir, pada akhir setiap shalat." [4]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

مَنْ سَبَّحَ اللهَ ِفِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ، وَحَمَّدَ اللهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ، وَكَبَّرَ اللهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ، فَتِلْكَ تِسْعَةُ وَتِسْعُوْنَ، وَقَالَ: تَمَامُ الْمِائَةِ: "لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ ْالْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلـى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ،" غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلُ زُبَدِ الْبَحْرِ.

"Barangsiapa bertasbih kepada Allah tigapuluh tiga kali pada akhir setiap shalat, bertahmid kepada Allah tigapuluh tiga kali, dan bertakbir kepada Allah tigapuluh tiga kali, hingga semua itu mencapai sembilan puluh sembilan. Kemudian menyempurnakan seratus dengan membaca: "Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan haq selain Allah. Tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nyalah segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." Maka di-ampunilah dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan."[5]

5. Dari Mu'adz bin Jabal Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memegang tanganku dan berkata, ‘Wahai Mu'adz, demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu.’ Lalu aku berkata, "Ayah-ibuku menjadi penebus engkau, demi Allah, sesungguhnya aku juga benar-benar mencintaimu." Beliau berkata, ‘Wahai Mu'adz, sesungguhnya aku berwasiat kepadamu. Janganlah engkau tinggalkan untuk mengucapkan pada akhir tiap shalat:

"اَللّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ."

"Ya Allah, tolonglah aku agar senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya." [6]

6. Dari Abu Umamah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِـيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُوْلِ الْجَنَّةِ إِلاَّ أَنْ يَمُوْتَ.

"Barangsiapa membaca ayat Kursi pada akhir tiap shalat wajib, maka tidak ada yang menghalanginya masuk Surga kecuali mati." [7]

Muhammad bin Ibrahim menambahkan dalam haditsnya: "Dan (surat) Qul Huwwallahu Ahad.”

7. Dari 'Uqbah bin 'Amir Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm menyuruhku membaca al-mu'awwidzat (surat al-Falaq dan an-Naas) pada setiap akhir shalat." [8]

8. Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhu. Dahulu, jika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam selesai salam shalat Shubuh, beliau membaca:

"اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً."

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima." [9]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 756)], Shahiih Muslim (I/414 no. 591), Sunan at-Tirmidzi (I/184 no. 299), Sunan an-Nasa-i (III/68), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/377 no. 1499), dan Sunan Ibni Majah (I/300 no. 928).
[2]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1272)], Shahiih Muslim (I/415 no. 594), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/372 no. 1493), dan Sunan an-Nasa-i (III/70).
[3]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/325 no. 844)], Shahiih Muslim (I/414 no. 593), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/371 no. 1491).
* Al-jadd adalah kedudukan atau bagian kekayaan. Maksudnya, hal itu tidak bermanfaat bagi pemiliknya jika ia tidak mempunyai amal shalih.
[4]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1278)], Shahiih Muslim (I/418 no. 596), Sunan at-Tirmidzi (V/144 no. 3473), dan Sunan an-Nasa-i (III/75).
[5]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 314)] dan Shahiih Muslim (I/418/597).
Catatan: Terdapat beberapa riwayat tentang jumlah dzikir. Pada Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (XI/132/no. 6329), "Sepuluh-sepuluh." Pada Shahiih Muslim (I/417/ no. 595 (143)), "Sebelas-sebelas." Pada Sunan an-Nasa-i (III/76), Shahiih Sunan an-Nasa-i (1279), "Duapuluh lima-duapuluh lima ditambah tahlil." Hendaknya orang yang shalat terkadang membaca bilangan yang ini dan ter-kadang membaca yang itu.
[6]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 7969)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/384 no. 1508), dan Sunan an-Nasa-i (III/53).
[7]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 6464)] dan ath-Thabrani dalam ash-Shagiir (VIII/134 no. 7532).
[8]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1268)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/385 no. 1509), dan Sunan an-Nasa-i (III/68).
[9]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 753)], Sunan Ibni Majah (I/298 no. 925), dan Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (IV/55 no. 776).
(Sumber : http://almanhaj.or.id)

Read more »

Sunnah-Sunnah Shalat : Sunnah Perbuatan Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

2. Sunnah-Sunnah Perbuatan:
a. Mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram
Begitupula ketika ruku', i'tidal, serta bangkit dari tasyahhud awal.

Dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma : "Ketika memulai shalat, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya setinggi bahu, begitupula saat takbir hendak ruku'. Beliau juga mengangkat keduanya saat mengangkat kepala dari ruku'." [1]

Juga dari Nafi': "Jika Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma memulai shalat, dia bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Jika hendak ruku', dia angkat kedua tangannya. Dan saat mengucapkan: "سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ" dia angkat kedua tangannya. Dan jika bangkit dari dua raka'at, dia angkat kedua tangannya. Dia menisbatkannya kepada Nabi Allah Shallallahu 'alaihi wa sallam." [2]

Disunnahkan mengangkat kedua tangan secara kadang-kadang ketika turun dan bangkit.

Berdasarkan hadits Malik bin al-Huwairits: “Dia melihat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya dalam shalat ketika ruku', ketika mengangkat kepala dari ruku', ketika sujud, dan ketika mengangkat kepala dari sujud. Hingga beliau menyejajarkan kedua tangannya dengan bagian atas telinganya.” [3]

b. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas dada
Dari Sahl bin Sa'd, dia berkata, "Dulu orang-orang diperintahkan agar masing-masing mereka meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya dalam shalat." Abu Hazim berkata, "Aku tidak mengetahui melainkan hal itu dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam." [4]

Juga dari Wa-il bin Hujr, dia berkata, "Aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas dada." [5]

c. Melihat ke tempat sujud
Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memasuki Ka'bah, tidaklah pandangannya bergeser dari tempat sujudnya. Hingga beliau keluar darinya." [6]

d. Melakukan perbuatan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits berikut ini ketika ruku'
Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ruku', beliau tidak mendongakkan kepalanya dan tidak pula merundukkannya. Akan tetapi di antara keduanya." [7]

Dan dari Abu Humaid ketika menggambarkan shalat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dia berkata, "Jika ruku', beliau tekankan kedua tangannya pada kedua lutut. Kemudian beliau rentangkan punggungnya dengan lurus." [8]

Juga dari Wa-il bin Hujr, "Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ruku', beliau rentangkan jari-jemarinya." [9]

Dari Abu Humaid: "Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ruku', beliau letakkan kedua tangannya di atas lututnya seakan-akan mengenggamnya. Kemudian beliau merenggangkan (sedikit membengkokkan) kedua tangannya dan menjauhkannya dari lambung." [10]

e. Mendahulukan kedua tangan daripada kedua lutut ketika turun sujud
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيْرُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ.

"Jika salah seorang dari kalian sujud, maka janganlah men-derum sebagaimana menderumnya unta. Hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya." [11]

f. Melakukan perbuatan sebagaimana yang disebut dalam hadits-hadits berikut ini ketika sujud
Dari Abu Humaid ketika menggambarkan shalat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, dia berkata: "Jika sujud, beliau meletakkan kedua tangannya tanpa menggelarnya (di atas lantai) dan tidak pula menggenggamnya. Beliau hadapkan ujung jari-jemari kedua kakinya ke arah kiblat." [12]

Dari al-Bara', ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَجَدْتَ فَضَعْ كَفَّيْكَ وَارْفَعْ مِرْفَقَيْكَ.

"Jika engkau sujud, maka letakkanlah kedua telapak tanganmu. Dan angkatlah kedua siku tanganmu." [13]

Dari 'Abdullah bin Malik bin Buhainah Radhiyallahu anhu, "Jika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat, beliau rentangkan kedua tangannya hingga tampak putih kedua ketiaknya." [14]

Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Aku mencari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang tadi bersamaku di ranjang. Lalu aku mendapatkannya sedang sujud sambil menggabungkan (merapatkan) kedua tumitnya dan menghadapkan jari-jemarinya ke kiblat." [15]

Dari Wa-il bin Hujr Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Aku datang ke Madinah dan berkata, "Sungguh aku akan melihat shalat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam." Dia kemudian menyebutkan beberapa hadits dan berkata, "Kemudian beliau menyungkur sujud dan kepalanya berada di antara kedua telapak tangannya…" [16]

Dari Wa-il bin Hujr Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Jika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sujud, beliau rapatkan jari-jemarinya." [17]

Dari al-Barra', dia berkata, "Jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm sujud dan meletakkan kedua tangannya di atas lantai, beliau hadapkan kedua telapak tangan dan jari-jemarinya ke kiblat." [18]

g. Melakukan perbuatan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits berikut ini ketika duduk di antara dua sujud
Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Beliau menggelar (membentangkan) kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya."[19]

Dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu ahuma, dia berkata, "Termasuk sunnah shalat adalah menegakkan kaki kanan dan menghadapkan jari-jemarinya ke kiblat serta duduk di atas kaki kiri." [209]

Dari Thawus rahimahullah, dia berkata, "Kami berkata kepada Ibnu 'Abbas tentang duduk di atas kedua telapak kaki." Dia berkata, "Itu termasuk sunnah." Kami berkata padanya, "Tetapi kami memandangnya tidak pantas bagi laki-laki." Ibnu 'Abbas lalu berkata, "Bahkan, itulah sunnah Nabimu." [21]

h. Tidak bangkit dari sujud melainkan setelah duduk tegak
Dari Abu Qilabah, dia mengatakan bahwa kami diberitahu Malik bin al-Huwairits al-Laitsi, "Dia melihat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang shalat. Jika beliau berada pada raka'at ganjil dari shalatnya, beliau tidak bangkit melainkan setelah duduk tegak." [22]

i. Bertumpu pada lantai ketika berdiri dari sebuah raka'at
Dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dia berkata, "Malik bin al-Huwairits mendatangi kami. Lalu dia mengimami kami shalat dalam masjid kami ini. Lalu dia berkata, ‘Sesungguhnya aku tidak ingin mengimami kalian dan tidak ingin shalat. Akan tetapi aku ingin menunjukkan pada kalian bagaimana aku melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat.’ Ayyub berkata, "Aku berkata pada Abu Qilabah, "Bagaimanakah shalat beliau?" Dia berkata, "Seperti shalat syaikh kita ini, yaitu 'Amr bin Salamah." Ayyub berkata, "'Amr bin Salamah menyempurnakan takbir. Jika mengangkat kepalanya dari sujud kedua, dia duduk dan bertumpu pada lantai kemudian berdiri." [23]

j. Melakukan duduk pada dua tasyahhud sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits berikut ini.
Dari Abu Humaid, dia berbicara tentang cara shalat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Jika duduk pada dua raka'at, beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. Dan jika duduk pada raka'at terakhir, beliau masukkan kaki kirinya, menegakkan kaki yang satunya, dan duduk di atas pantatnya." [24]

Dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma : "Jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam duduk dalam shalat, beliau letakkan telapak tangan kanannya di atas paha kanannya. Beliau genggam semua jari-jemarinya dan menunjuk dengan jari yang dekat ibu jari (jari telunjuk). Dan beliau letakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya." [25]

Dari Nafi', dia berkata: "Jika 'Abdullah Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma duduk dalam shalat, dia letakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya. Dia menunjuk dengan jarinya dan mengikutinya dengan pandangannya. Kemudian dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَهِيَ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنَ الْحَدِيْدِ.

"Bagi syaitan, ia memiliki pengaruh yang lebih dahsyat dari-pada besi.”

Maksudnya jari telunjuk. [26]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/218 no. 735)], Shahiih Muslim (I/292 no. 390 (22)), Sunan at-Tirmidzi (I/161 no. 255), dan Sunan an-Nasa-i (II/122).
[2]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 663)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/222 no. 739), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/439 no. 727).
[3]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 104)], Sunan an-Nasa-i (II/206), dan Ahmad (al-Fat-hur Rabbaanii) (III/168 no. 493).
[4]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 402)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/224 no. 740), dan Muwaththa' Malik (CXI/376).
[5]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (hal. 352)] dan Shahiih Ibni Khuzaimah (I/243 no. 479).
[6]. Shahih: [Shifatush Shalaah (hal. 69)] dan Mustadrak al-Hakim (I/479).
[7]. Shahih: [Shifatush Shalaah (111)], Shahiih Muslim (I/357/498), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/489/768).
[8]. Shahih: [Shifatush Shalaah (no. 110)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/305/ 828), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/427 no. 717)
[9]. Shahih: [Shifatush Shalaah (no. 110)] dan Shahiih Ibni Khuzaimah (I/301/594).
[10]. Shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 214)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/429/720), dan Sunan at-Tirmidzi (I/163 no. 259).
[11]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 746)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/70 no. 825), Sunan an-Nasa-i (II/207), dan Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (III/276 no. 656).
[12]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 672)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/305 no. 828), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/427/718).
[13]. Shahih: [Shifatush Shalaah hal. 126] dan Shahiih Muslim (I/356 no. 494).
[14]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/294 no. 807)], Shahiih Muslim (I/356 no. 495), dan Sunan an-Nasa-i (II/212).
[15]. Shahih: [Shifatush Shalaah hal. 126], Shahiih Ibni Khuzaimah (I/328 no. 654), dan al-Baihaqi (II/116).
[16]. Sanadnya Shahih: [Shahiih Ibni Khuzaimah (I/323 no. 641).
[17]. Shahih: [Shifatush Shalaah hal. 23], Shahiih Ibni Khuzaimah (I/324 no. 642), dan al-Baihaqi (II/112).
[18]. Sanadnya Shahih: [Shifatush Shalaah hal. 123] dan al-Baihaqi (II/113).
[19]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 302)], Shahiih Muslim (I/357 no. 498), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/489 no. 768).
[20]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1109)] dan Sunan an-Nasa-i (II/236).
[21]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 303)], Shahiih Muslim (I/380 no. 536), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/79 no. 830), dan Sunan at-Tirmidzi (I/175 no. 282).
[22]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 437)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/302 no. 823), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/78 no. 829).
[23]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 437)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/303 no. 824), al-Baihaqi (II/123), dan asy-Syafi'i (al-Umm) (I/116). Asy-Syafi’i berkata, "Inilah yang kami ambil. Kami menyuruh orang yang bangkit dari sujud atau duduk dalam shalat agar bertumpu pada lantai dengan kedua tangannya bersama-sama, karena mengikuti sunnah. Sebab, hal itu lebih menyerupai ketawadhu'an dan lebih mudah bagi orang yang shalat. Selain itu juga lebih pas agar tidak terjungkal ke belakang atau hampir ter-jungkal. Kami membenci model bangkit mana saja selain itu. Namun dia tidak wajib mengulang dan tidak pula sujud sahwi." Al-Umm (I/117).
[24]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 448)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/305 no. 828).
[25]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 851)], Shahiih al-Imam Muslim (I/408 no. 580 (116)) dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/277/972).
[26]. Hasan: [Shifatush Shalaah hal. 140] dan Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (IV/15 no. 721).
(Sumber : http://almanhaj.or.id)

Read more »