Sebelum Mati Menjemput (Sebuah Renungan Kehidupan)




Dalam sepi yang terengkuh angin malam, disini kutatap kalbu hati yang dalam penuh noda. Tanpa teman tanpa kasih ku sendiri menatap langit hitam kelam penuh tabir. Jiwa penuh gejolak nafsu berteriak deras menuangkan hasrat pada gelapnya malam.

Meratapi hidup di atas beningnya air yang beracun, mencari pelengkap jiwa yang mampu mengisi namun tak kunjung hadir.

Duduk ku tak mampu berdiri , sudah tenggelam dalam sesatnya duri hidup yang manis dilihat.

Angin ini menidurkanku dalam tetesan air mata penuh salah. Adakah surga yang bisa kutempati untuk orang sepertiku.
Ketika ku bangun bisik daun yang bergoyang menulis pesan untukku. “ ini hidup yang tak pernah ku ingini, tiba tiba aku ada disini dan mengenal dunia, beranjak tinggi angin yang menimpa ku semakin deras ketika ku layu kemudian mengalir kematian aku sudah tidak ada lagi’’

Suara air pun bergemericik tak menentu dengan pesan pesannya “ hai manusia bodoh,tataplah langit jika bumi sudah kau tatap, kau hidup di alam semesta bukan hanya hidup di bumi ini saja”

Kagetku tersentak , darah pun mengalir panas tiba tiba semut menggitku dan berkata “minggir kau monster tempatmu bukan disini, kau berakal genap bertubuh sempurna . Jika hidupmu disetiap harinya hanya seperti ini kapan kau bisa hidup kau seperti mati walau kau hidup”
Mendengar itu badanku gemetar dan aku belari menjauh, sebuah batu menyadungku dan aku terjatuh ke jurang bersama perutku tertancap ranting pohon. Aku tak bisa bergerak lagi, semua terlambat jika aku sudah mati. (oleh : Ki Wasa)

0 komentar:

Post a Comment